Syarah Nama Allah “Al Fattaah” (Bagian 2)

Syarah Nama Allah “Al Fattaah” (Bagian 2)

  • Diantara keputusan dan pertolongan Allah terhadap Rasul صلى الله عليه وسلم dan orang-orang yang beriman ialah Allah bukan rahasia kemunafikan yang tersembunyi dalam diri orang-orang munafik. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةُُ فَعَسَى اللهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَآأَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ المائدة: ٥٢

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.

Dalam firman Allah yang lain disebutkan:

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحُُ مِّنَ اللهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبُُ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً . النساء: ١٤١

“(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.

Sikap bermuka dua dalam ayat di atas adalah gambaran tetang kebiasaan orang-orang munafik. Ketika mereka berada bersama orang-orang beriman mereka seolah-olah ikut membantu perjuangan umat Islam. Tetapi sebenarnya mereka membantu orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang muslim dengan menunjukkan titik-titk kelemahan kaum muslimin kepada orang-orang kafir.

  •  Demikian pula Allah akan memberi keputusan dengan seadil-adilnya terhadap hambanya yang berbantah-bantah di hadapan-Nya di akhirat kelak. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ.  سبأ: ٢٦

“Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar (adil). Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”

Dalam firman Allah yang lain dinyatakan:

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ. الزمر: ٣١

“Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu”.

Berkata Ibnu katsir: “Maksud ayat ini; sesungguhnya kalian pasti akan berpindah dari dunia ini. Kalian akan berkumpul di hadapan Allah pada hari kiamat. Kemudian kalian berbantah-bantah di hadapan Allah tentang perkara tauhid dan syirik waktu di dunia. Maka  Allah akan memberi keputusan dengan hak (adil). Dia Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. Maka Allah menyelamatkan orang-orang mukmin, orang-orang yang bertauhid serta orang-orang yang ikhlas. Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir, orang-orang  yang mengingkari (ayat-ayat Allah), orang-orang yang musyrik serta orang-orang yang mendustakan (kebenaran)” [1].

Disebutkan Allah lagi dalam firman-Nya yang lain, bahwa kemenangan pada hari akhirat kelak bukanlah milik orang-orang kafir:

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْفَتْحُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ. السجدة: ٢٨ – ٢٩

“Dan mereka bertanya: “Bilakah kemenangan itu (datang) jika kamu memang orang-orang yang benar? Katakanlah: “Pada hari kemenanganitu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh”.

Ketika orang-orang kafir bertanya kepada orang-orang beriman secara olok-olok tentang hari kemenangan. Allah menjawab olok-olokan mereka dengan jawaban yang membuat mereka kecewa dan terancam.

  • Al Fattaah (الفتّاح) juga berarti: Maha Pembuka segala kunci kebaikan atas seluruh hamba-Nya. Baik berupa iman, ilmu dan petunjuk. Barangsiapa yang dibukakan baginya kebaikan tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Demikian pula barangsiapa yang ditutup dan dikunci hatinya oleh Allah tidak seorang pun yang dapat membuka dan menunujukinya. Allah berfirman:

} مَّايَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا وَمَايُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.  فاطر: ٢

Apa yang dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Berkata Hafizh Al Hakamy:Al Fattaah” adalah Zat Yang Membuka terhadap siapa yang dikehendaki-Nya tentang apa yang dikehendaki-Nya pula, dari berbagai karunia-Nya yang luas. Bagi yang ini dibukakan untuknya harta, bagi yang satu lagi dibukakan untuknya kekuasaan, bagi yang lain dibukakan untuknya ilmu dan hikmah. Demikianlah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang besar. “Apa yang dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[2].

Oleh sebab itu Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa ketika kita akan memasuki masjid.

(( اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ )) [رواه مسلم].

“Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu”. (HR. Muslim).

  • “Al Fattaah” (الفتّاح) juga berarti: Maha Pembuka pintu-pintu rezki dan rahmat untuk para hamba-Nya yang bertaqwa. Sebagaimana yang terdalam kalam-Nya yang suci:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.  الأعراف: ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

  • Kemudian segala kuci yang ghaib hanya berada di sisi Allah. Tidak ada yang dapat membuka dan mengetahuinya kecuali Allah subhaanahu wat’ala. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍالأنعام: ٥٩

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.

Allah membuka sebagian dari hal yang hgaib bagi siapa yang dikehendaki diantara hamba-Nya dari rasul-rasul. Sebagaimana yang terdalam kalam-Nya yang mulia:

وَمَاكَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِن رُسُلِهِ مَن يَشَآءُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِه. آل عمران: ١٧٩

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya”.

  • Di padang mahsyar Allah akan membukakan (mengajarkan) kalimat-kalimat pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memuji kepada-Nya. Sehingga mebuka pintu syafaat bagi seluruh umat manusia untuk berhisab. Yang mana kalimat-kalimat pujian tersebut belum pernah diketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya sewaktu di dunia. Sebagaimana beliau ungkapkan dalam sabda beliau:

عن أنس رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال (( إذا كان يوم القيمة ماج الناس بعضهم في بعض فيأتون آدم فيقولون اشفع لنا إلى ربك فيقول لست لها ولكن عليكم بإبراهيم فإنه خليل الرحمن فيأتون إبراهيم فيقول لست لها ولكن عليكم بموسى فإنه كليم الله فيأتون موسى فيقول لست لها ولكن عليكم بعيسى فإنه روح الله وكلمته فيأتون عيسى فيقول لست لها ولكن عليكم بمحمد صلى الله عليه و سلم فيأتونني فأقول أنا لها فأستأذن على ربي فيؤذن لي ويلهمني محامد أحمده بها لا تحضرني الآن فأحمده بتلك المحامد)). [متفق عليه].

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: apabila jari kiamattelah terjadih (saat itu) manusia akan  saling berdesak-desakan. Maka mereka datang kepada Adam u mereka berkata: mintakkanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Adam menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Ibrohim sesungguhnya dia Khaliilullah. Maka mereka mendatangi Ibrohim. maka Ibrohim pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Musa sesungguhnya dia Kaliimullah. Maka Musa pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Isa sesungguhnya dia Ruhullah. Maka Isa pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka mereka datang kepadaku. Saya menjawab: saya yang berhak untuk itu. maka saya memohon izin kepada Tuhan-ku, lalu Aku diberi izin. Dan Allah mengilhamkan kepadaku puji-pujian sebagai pujianku pada-Nya yang tidak aku ketahui sekarang. Maka aku memujinya dengan puji-pujian tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dengan lafahz:

((ثم يفتح الله علي من محامده وحسن الثناء عليه شيئا لم يفتحه على أحد قبلي)) [متفق عليه، من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.]

“Kemudian Allah membukakan bagi-ku dari puji-pujiann dan sanjungan indah untuk-Nya yang belum pernah dibukakan bagi seorang pun sebelumku”.

Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil melalui nama Allah “Al Fattah“:

Berikutnya kita sebutkan beberapa faedah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari mengetahui dan memahami makna dari nama Allah “Al Fattaah“. Sebetulnya inilah tujuan yang sesungguhnya bagi seorang muslim dalam mengetahui nama-nama Allah tersebut. Dimana hal tersebut memberikan bekas dan pengaruh kepada iman dan ibadah serta akhlak seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan memahami makna nama Allah “Al Fattaah” akan menumbuhkan sifat-sifat yang mulia dalam diri seorang muslim, diantaranya:

  1. Menumbuhkan sifat tawakkal dalam diri seorang mukmin terutama bagi seorang da’i dalam menghadapi tantangan di medan dakwah. Sebagaimana para nabi dan rasul bertawakal dalam da’wah mereka. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pemebri keputusan dengan adil terhadap hamba-hamba-Nya.

Imam Ibnul Qoyyim menerangakan bahwa sifat tawakkal sangat erat hubungannya dengan nama-nama Allah yang mulia diantaranya nama Allah “Al Fattaah[3].

  1. Menumbuhkan sifat ikhlas dalam meminta petunjuk dan rezki kepada Allah, karena Allah yang berkuasa membuka hati seseorang untuk menerima petunjuk. Dan Allah jualah yang berkuasa membukakan pintu rezki begi seorang hamba.

Bila hal ini dapat kita tanamkan dalam diri kita, tentu kita tidak akan meminta sekalipun kepada sang kiyai atau wali yang sudah mati. Kita tidak meminta kecuali hanya kepada Allah semata. Kalau waktu di dunia hidup sang wali dari sedekah jama’ah kajian, munginkah setelah mati ia dapat memberi kita rezki, petunjuk dan lain-lain.

  1. Menumbuhkan sikap Rajaa’ (berharap kepada rahmat dan pertolongan Allah) dalam diri seorang muslim. Karena segala kuci rahmat dan kebaikan berada di sisi Allah. Tidak ada yang mampu membuka pintu-pintu rahmat tersebut kecuali Allah. Pintu-pintu rahmat Allah akan terbuka di dunia ini untuk hamba-hamba yang bertaqwa. Rahmat di sini dalam artian yang luas; bisa berupa iman, ilmu, petunjuk, rezki, kesehatan, kesuksesan dan lain-lain. Adapun rahmat Allah di akhirat kelak jauh lebih luas dan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan apa yang ada di dunia.
  2. Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, karena Allah-lah yang telah membuka hati kita untuk beriman, bertauhid dan beribadah kepada-Nya. Demikian pula Allah telah membuka pintu-pintu nikmat yang lainnya untuk kita. Mulai dari nikmat sewaktu kita dalam rahim ibu kita, kemudian kita terlahir dengan selamat tanpa cacat, kemudian senantiasa pintu nikmat dan rahmat tidak pernah ditutup Allah di hadapan kita. Tidak-kah selayaknya kita bersyukur pada Allah …?!!!. Kita tidak pernah terlepas dari nikmat Allah walau satu detik saja.
  3. Memupuk rasa ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Karena pintu rahmat Allah akan senantiasa terbuka untuk orang-orang yang bertaqwa. Kesulitan mendapatkan pekerjaan, harga barang yang senantiasa melonjak, musibah yang tak henti-hentinya. Tidak ada yang bisa mengeluarkan kita dari pintu kesulitan kepada pintu yang luas penuh kebahagian dan ketentraman kecuali Zat Yang Maha Pembuka segala kesulitan (Al Fattaah). Mari kita kita simak kalam Allah berikut ini:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.  الأعراف: ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

اْلأَخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ….. الطلاق: ٢ – ٣

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا.  الطلاق: ٤

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

Demikianlah bahasan kita kali ini, semoga Allah senantiasa membuka pintu hati kita dengan iman, ilmu dan amal serta membuka pintu-pintu rezki untuk kita, anak kita dan saudara-saudara kita seiman. Wallahu A’lam.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك

Artikel www.Dzikra.com


[1]  lihat: “Tafsir Ibnu Katsir”: 4/53.

[2]  lihat: “Ma’arijul Qobul”: 1/48.

[3]  Lihat: “Madarijus Saalikiin”: 2/125.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *