Thursday , November 27 2014
Artikel Terpilih
You are here: Home / Belajar Manhaj / Belajar Tauhid / Penjelasan Nama Allah “Al-Kariim” (Seri 1)

Penjelasan Nama Allah “Al-Kariim” (Seri 1)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam bagi nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan bagi keuarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai hari Kiamat.

Para pembaca yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini kita melanjutkan pembahasan seputar makna dari nama-nama Allah yang Indah lagi Mulia. Kemudian, kita mencoba memetik berbagai pelajaran dari nama-nama Allah tersebut dan mengaplikasikan nilai-nilai pelajaran tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di antara sekian nama Allah, kita pilih kali ini nama Allah Al-Kariim.

Landasnnya, adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Wahai manusia, apa yang telah memperdayai kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithaar: 6).

Berikut ini kita sebutkan beberapa penjelasan para ulama pakar bahasa Arab tentang makna Al-Kariim.

Ibnu Faris menyebutkan, bahwa asal kata karam menunjukkan dua makna; salah satunya adalah kemulian (Mu’jam Maqayiis Lughah, 5/139).

Berkata Ibnu Qutaibah, “Al-Kariim artinya Pemaaf, Allah adalah Al-Kariim yang memaafkan dosa para hamba-Nya yang beriman.” (Mu’jam Maqayiis Lughah, 5/139).

Berkata pula Imam Al-Azhary, “Al-Kariim salah satu dari sifat-sifat Allah dan nama-Nya. yaitu Zat yang amat banyak memiliki kebaikan, amat pemurah, pemberi nikmat dan keutamaan.  Al-Kariim adalah nama yang tercakup di dalamnya segala sifat yang terpuji, maka Allah adalah Kariim (Mahamulia) amat terpuji segala perpuatan-Nya.” (Tahdziib Al-Lughah, 3/374).

Ibnu Mantsur menjelaskan, “Al-Kariim salah satu dari sifat-sifat Allah dan nama-Nya. yaitu Zat yang amat banyak memiliki kebaikan, amat pemurah lagi pemberi. Yang tidak pernah habis pemberiannya, Dia-lah Zat Yang Mahamulia secara mutlak. Al-Kariim adalah nama yang tercakup di dalamnya segala kebaikan, kemulian dan keutamaan. Dan Al-Kariim adalah nama yang tekumpul di dalamnya segala hal yang terpuji. Maka, Allah adalah Kariim (Mahamulia) amat terpuji segala perpuatan-Nya, Rabb yang memiliki ‘Arasy yang mulia lagi agung.” (Lisaanul Arab, 12/510).

Penjabaran Makna Nama Allah Al-Kariim

Jika kita mencermati, nama Allah Al-Kariim dalam Al-Qur’an, nama Allah yang mulia ini terulang sebanyak dua kali;

Pertama dalam surat An-Naml, ayat 40.

فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Maka, tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Kedua dalam surat Al-Infithaar, ayat 6.

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Wahai manusia, apa yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”

Pada ayat surat An-Naml di atas, Allah menceritakan tentang perkataan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam saat beliau melihat kehadiran istana Balqis dihadapannya. Pemberian Allah tersebut dinilai oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai ujian terhadap kesyukurannya pada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Lalu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia Al-Ghany (Mahakaya) dan Al-Kariim (Mahamulia). Kedua nama ini sangat erat dengan konteks awal ayat tersebut. Barangsiapa yang mau bersyukur hal itu tidak akan menambah kekayaan Allah, karena Allah Mahakaya. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mau bersyukur, tidak akan mengurangi kekayaan Allah. Demikian pula barangsiapa yang bersyukur akan mendapat balasan dari Al-Kariim (Yang Maha Pemurah) balasan yang berlipat ganda. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Allah senantiasa memberinya rezeki atas mereka. Sebagaimana dalam firman Allah,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah Mahakaya darimu (tidak memerlukanmu) dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi para hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai kesyukuran itu bagimu.” (QS. Az-Zumar: 7).

Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahamulia. Allah memberi bukan karena butuh kepada makhluk, tapi karena Allah bersifat Kariim (Maha Pemurah).

Adapun pada ayat surat Al-Infithaar Allah bertanya kepada manusia, apa yang memperdaya mereka untuk selalu durhaka pada Allah. Sedangkan Allah senantiasa menurunkan berbagai nikmat dan rahmat untuk mereka, karena Allah bersifat Maha Pemurah terhadap manusia. Tidaklah sepantasnya manusia berbuat demikian, karena Allah Maha Kariim (Pemurah) terhadap mereka.

Al-Kariim adalah yang mulia dalam segala hal, yang amat banyak pemberian dan kebaikannya, baik ketika diminta, maupun tidak.

Jika kita cermati, makna Al-Kariim menunjukkan kesempurnaan kemulian Allah dalam Zat dan segala sifat, serta perbuatan-Nya.

  • Allah Mahamulia dalam Zat-Nya, maka tidak ada cacat sedikitpun dalam Zat Allah. Sesungguhnya Zat Allah Mahaindah.
  • Allah Mahamulia dalam segala sifat-Nya, maka tidak ada sifat jelek terdapat pada Allah. Sesungguhnya, sifat-sifat Allah amat sempurna dalam segala maknanya.
  • Allah juga Mahamulia dalam segala perbuatannya, maka tidak ada kecacatan dalam perbuatan Allah. Sesungguhnya segala perbuatan Allah penuh dengan berbagai hikmah yang luas.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Nama Allah Al-Kariim mencakup makna kedermawanan, juga makna kemuliaan dan keluhuran, serta bermakna kelembutan dan memberi kebaikan.” (Bayaan Talbiis Jahmiyah, 1/196).

Berkata Imam Ibnul Qayyim, “Secara global, makna Al-Kariim adalah Zat yang suka memberi kebaikan yang banyak dengan amat mudah dan gampang. Lawannya adalah orang pelit yang amat sulit mengeluarkan kebaikan dan jarang.” (At-Tibyaan, 140).

Di antara makna Al-Kariim: Allah berbuat baik kepada seluruh makhluk tanpa sebuah kewajiban yang mesti dilakukannya. Semua kebaikan yang diberikan Allah kepada makhluk adalah semata-mata atas kemurahan Allah kepada makhluk-Nya.

Kemudian sebagai bentuk ke-Karim-an Allah, Allah memaafkan sesuatu hak yang wajib diserahkan kepada-Nya. Maka, Allah memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah. Karena nama Allah Al-Kariim digandengkan dengan nama Allah Al-’Afw sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berikut,

عن عائشة قالت : قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال: “قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني” (رواه الترمذي: 5/534، و قال هذا حديث حسن صحيح). وقال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha ia berkata, “Aku bertanya yang Rasulullah, apa pendapatmu jika seandainya aku mengetahui malam (lailatu) al-qadar apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah: Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia, engkau mencintai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.”

Di samping itu jika seseorang bertaubat dari kesalahannya, Allah mengahapus dosanya dan mengganti posisi kesalahan tersebut dengan nilai kebaikan.

Sebagaimana Allah berfirman,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka  kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqaan: 70).

Begitu juga sebagai bentuk ke-karim-an Allah, Allah senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqmaan: 20).

Demikian pula sebagai bentuk ke-karim-an Allah, Allah memberi nikmat dari semenjak pertama meskipun tanpa diminta.

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabuut: 60).

Sebagai bentuk ke-karim-an Allah juga, Allah memberi berbagai kebaikan tanpa mengharap pamrih, karena Allah bersifat Maha Pemurah secara mutlak.

Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah,

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya, Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 57-58).

Termasuk pula dalam makna Al-Kariim, Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan berjanji akan memperkenankan permintaan mereka. Bahkan, memberikan bonus di luar permintaan mereka. Sebaliknya, Allah marah kepada orang yang tidak berdoa kepada-Nya. Karena Allah itu Maha Pemurah.

Sebagaimana disbutkan dalam firman Allah,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghaafir: 60).

Maka, Al-Kariim adalah yang memiliki segala macam kebaikan dan kemulian, serta keutaman (Shahih Al-Bukhary, 4/1713)

Allah menyebutkan bahwa kitab suci Al-Qur’an Kalamullah adalah kitab yang Kariim (mulia), sebagamana terdapat dalam firman Allah,

إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya, Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (QS. Al-Waaqi’ah: 77).

Dijelaskan oleh para ulama, karena Al Qur’an adalah Kalamullah menggandung kebaikan yang begitu banyak. Di dalamnya terdapat petunjuk yang lurus, keterangan yang jelas, ilmu yang berguna dan hikmah yang banyak (Tasiir Al-Baghawy, 8/22). Segala kebaikan hanyalah dengan menjalankan isi Al-Quran tersebut.

Berkata Imam Ibnul Qayyim, “Allah mneyebutkan sifat Al-Quran dengan sesuatu yang menunjukkan akan keindahan dan banyaknya kebaikan juga mamfaat serta keagungannya. Karena Al-Kariim adalah sesuatu yang penuh dengan kebaikan yang amat banyak lagi agung mamfa’atnya. Dan ia dalam segala segi merupakan yang terbaik dan paling afdhal. Maka, Allah mensifatkan diri-Nya dengan sifat Al-Karam (kemulian), serta menyifatkan kalam-Nya dan ‘Arasy-Nya dengan sifat Karam pula. Dan menyifatkan dengannya sesuatu yang banyak kebaikannya dan indah bentuknya dari tumbuh-tumbuhan dan lainnya.

Berkta Al-Azhary, “Al-Quran disebut Al-Kariim karena di dalamnya terkandung berbagai petunjuk, penjelasan, ilmu dan hikmah.” (At-Tibyaan, 140).

Al-Quran yang mulia ini dibawa oleh malikat yang mulia pula yaitu Jibril ’alaihissalam, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya, Al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwiir: 19).

Kemudian, Al-Quran yang mulia tersebut disampaikan oleh malaikat yang mulia kepada rasul yang mulia pula yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya, Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) rasul yang mulia.” (QS. Al-Haaqah: 40).

Karena, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memilki akhlak yang mulia, membawa kitab yang mulia, mengajak manusia kepada sagala hal yang mulia, baik dalam hal keyakinan maupun amalan.

Demikian pula ‘Arasy Allah adalah makhluk yang mulia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang meiliki) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminuun: 116).

Karena ‘Aray adalah merupakan makhluk yang paling besar dan paling tinggi di atas seluruh makhluk.

Segala kemulian yang terdapat pada makhluk adalah atas pemberian Allah Yang Mahamulia. Hal tersebut menunjukkan akan kemulian makhluk tersebut disisi Allah, melebihi makhluk-makhluk yang lainnya.

Surga yang dipenuhi berbagai macam kenikmatan, segala nikmat yang terdapat di dalamnya melebihi segala apa yang ada di dunia. Yang disediakan bagi orang-orang yang memiliki sifat mulia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisaa: 31).

-Bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.Dzikra.com

About Administrator Dzikra.Com

2 comments

  1. alhamdulillah bagus artikelnya, ditunggu terus artikel-artikelnya ustadz dan admin..
    jazakumullah khairan..

  2. membaca seluruh blog, cukup bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top