GENERASI MUDA HARAPAN ISLAM. Bag. 1

Tujuan pembahasan ini adalah sebagai untaian nasehat kepada generasi muda Islam, kepada para orang tua mereka, tenaga pendidik, organisasi-organisasi pemuda serta lembaga-lembaga yang berkepentingan dalam membina genarsi muda, secara khusus lemabaga-lembaga pendidikan, baik yang formal maupun non formal.

Maka bahasan ini kita bagi kepada dua bagian: Bagian pertama pembahasan tentang anjuran Islam kepada pengayom generasi muda. Bagian kedua pesan-pesan Islam kepada generasi muda.

 

Anjuran Islam Kepada Pengayom Generasi Muda

Berikut ini pemakalah mengemukakan anjuran Islam untuk membina generasi muda dengan pendidikan agama sebagai generasi penerus bangsa.

 

Anjuran Islam Untuk Mendidik Generasi Muda Dengan Pendidikan Agama

Islam adalah agama pendidikan. Ajarannya ditegakkan di atas pendidikan, bukan di atas kebodohan atau taqlid buta. Islam mewajibkan pemeluknya untuk menuntut dan menyebarkan ilmu.

Hal ini tercermin dari ayat yang pertama kali turun yang berbunyi;

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ {3}

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ {5}.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang telah menciptakan, Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah…, dan Tuhanmu yang Maha pemurah, Yang telah mengajarkan dengan perantaan pena, mengajarkan manusia apa-apa yang belum ia ketahui”.  (surat Al Alaq ayat ; 1-5).

Dalam ayat yang mulia di atas terdapat beberapa pelajaran penting;

Pertama: Bahwa wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Perintah tersebut disebutkan dalam bentuk berulang. Ini menunjukan penekanan tentang perintah tersebut, karena membaca adalah salah satu jalan untuk menerima pendidikan.

Kedua: Ilmu yang paling utama untuk dipelajari adalah ilmu yang mendekatkan dirinya kapada Sang Pencipta, dan mengikhlaskan seluruh ibadah kepadaNya, serta mengenal sifat-sifat Sang Pencipta tersebut. Zat yang telah menciptakan manusia serta segala apa yang ada di alam semesta ini dengan segala kesempurnaan dan keseimbangan.

Ketiga: Menulis dengan pena adalah sarana untuk menerima pendidikan.

Keempat: Semua ilmu yang diperoleh manusia adalah atas ajaran Allah kepada mereka baik melaui bacaan maupun tulisan.

Kelima: Hendaknya semua ilmu yang dimiliki oleh manusia tersebut membawanya untuk bersyukur kepada Allah dan menunjukkan ketundukan kepada wahyu yang diturunkan kepada nabi-Nya, serta menyadari bahwa keberhasilan dan ilmu yang dimilikinya hanyalah berkat rahmat dan ajaran Allah kepadanya.

Kelanjutan perintah ini didukung oleh berbagai ayat dan hadits yang menerangkan tentang pentingnya ilmu dan memuji kedudukan orang-orang yang berilmu sebaliknya mencela orang-orang yang bodoh.

Banyak sekali ayat dan hadits yang menunjukan betapa pentingnya menuntut ilmu bagi umat Islam, di samping datangnya ketegasan langsung dari Rasulullah ﷺ dalam sabda Beliau yang berbunyi:

((طََلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ))

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim” (HR Ibnu Majah. No 224 ).

Dalam hadits yang mulia di atas Rasulullah ﷺ secara tegas mewajibkan kepada umat Islam untuk menuntut ilmu, ilmu yang dimaksud pertama sekali adalah ilmu agama, sekalipun menurut sebagian ulama hukum menuntut ilmu duniawi adalah fardhu kifayah.

Ditambah lagi dengan datangnya sabda Beliau yang menerangkan ancaman bagi orang yang tidak mau mengajarkan atau menyembunyikan ilmu sebagaimana yang terdapat dalam sabda Rasulullah ﷺ:

((مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ الله ُبِلِجَامٍ مِنَ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))

“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikannya, Allah akan mengekangnya dengan kekangan dari api neraka pada hari kiamat”. (HR Abu Daud No 3658, Ibnu Majah No 266).

 

Anjuran Islam Kepada Pemerintah Dan Orang Tua Untuk Memperhatikan Generasi Muda

Sebagai tugas mutlak suatu pemerintahan adalah mendidik generasi muda untuk menjadi orang yang berilmu baik yang berhubungan dengan ilmu agama maupun ilmu duniawi, serta adanya saling membahu antara penguasa dan orang tua dalam mencapai tujuan tersebut, kewajiban mencerdaskan bangsa dalam ilmu agama jauh lebih besar dari sekedar mencerdaskan kehidupan bangsa dalam hal ilmu duniawi. Namun yang sering kita saksikan dalam dunia pendidikan justru sebaliknya, maka tidak heran bila kebanyakan orang-orang penting yang berpengaruh di pemerintahan maupun tengah masyarakat tidak tahu batasan-batasan agama. Bahkan mereka sering menyebarkan khurafat, takhayul dan kesyirikan serta berprilaku Amoral di tengah-tengah masyarakat. Timbulnya hal-hal seperti ini menunjukan minimnya ilmu agama yang dimiliki oleh mereka.

Telah disebutkan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

((مَا مِنْ أمِيْرٍ يَلِي أمْرَ الْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُمْ وَينْصَحُ إلَّا لَمْ يَدْخُلِ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ))

 “Tidak seorang pemimpinpun yang mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian ia tidak bersunggu-sungguh untuk (kemaslahatan) kaum muslimin dan tidak memberi nasehat ([1]), kecuali ia tidak akan masuk sorga bersama mereka”. (HR: Imam Muslim no 142).

 

Di antara kemaslahatan yang tidak bisa diabaikan adalah pendidikan agama untuk genersi muda bangsa. Ini merupakan nasehat yang mesti disampaikan dan ditegakkan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam sabda yang lain Beliau sebutkan:

((كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الإمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ))

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, penguasa tertinggi negara adalah pemimpin dan akan ditanya tentang rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang keluarganya’. (HR Bukhari no 853, Muslim no 1829).

Pertanggungjawaban yang amat besar sekali adalah tanggung jawab terhadap pendidikan agama untuk generasi muda, tanggung jawab ini diemban oleh orang tua dan pemerintah, mereka akan ditanya tentang tanggung jawab tersebut..

Ayat Al Quran secara tegas memerintahkan orang tua untuk mendidik anak mereka dengan pendidikan agama:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا} [التحريم : 6]

Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Menjaga diri dan keluarga dari api neraka bukanlah dengan cara menyediakan perlengkapan pangan, sandang dan papan semata, tetapi yang lebih penting adalah menjauhkan diri dan anak keturunan mereka dari jalan-jalan menjerumuskan ke neraka, yang titik awalnya adalah membekali diri dan anak keturunan mereka dengan pendidikan agama.

Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ menekankan kepada orang tua untuk mendidik anak mereka melakukan shalat tatkala berumur tujuh tahun. Dan jika sang anak telah berumur sepuluh tahun diperbolehkan untuk memukul saat mereka enggan melaksanakan shalat tersebut, kemudian memisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan di saat mereka telah menginjak umur sepuluh tahun.

Sebagaimana yang terdapat dalam sabda beliau;

((مُرُّوْا أوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أبْناَءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أبْناَءُ عَشْرٍ وَفَرَّقُوْا بَيْنَهُمْ في الْمَضَاجِعِ))

“Perintahkanlah anak-anak kalian melakukan sholat tatkala mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika mereka enggan untuk melakukannya) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. (HR Abu daud no 495).

Karena pentingnya pendidikan orang tua terhadap anak-anak mereka, Rasulullah ﷺ menerangkan dalam sabda Beliau bahwa berpindahnya anak dari aqidah yang benar kepada aqidah yang sesat adalah karena kelalaian orang tua dalam mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan agama terutama pendidikan aqidah.

Rasululah ﷺ telah bersabda:

((كُلُّ مَوْلودٍ يولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أوْ يُنَصِّرَانِهِ أو يُمَجِّسَانِهِ))

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam), maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi”. (HR Al Bukhari no (1319) dan Muslim no (2658).

Termasuk dalam hal ini menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah non muslim. Oleh sebab pemakalah sangat mendukung fatwa MUI mengharamkan orang-orang Islam menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah non muslim([2]) .

Dari untaian ayat dan hadits yang kita sebutkan di atas, dapat kita pahami bahwa pendidikan agama adalah suatu hal yang mutlak untuk diberikan kepada generasi muda baik di tengah-tengah keluarga maupun dalam pendidikan formal di sekolah umum.

Mempelajari dan memelihara agama adalah salah satu dari dharuriyat alkhamsah (lima hal yang mutlak), yang semestinya mendapatkan proritas dan pengayoman dari segala pihak, baik pihak penguasa maupun masyarakat serta orang tua.

Namun kenyataan yang kita saksikan jusru sangat menyedihkan kita akan mendapat berbagai fasilitas untuk berbagai macam kebutuhan hiburan dengan biaya yang sangat mahal sekali, bahkan barang kali melebihi biaya pendidikan.

Begitu pula para orang tua berani untuk membayar kursus anak-anak mereka sekalipun melampui batas kemampuan mereka, namun untuk biaya pendidikan agama mereka tidak bisa memenuhinya sekalipun Rp 5000 dalam satu bulan untuk iuran Pendidikan Al Qur’an. Mereka bisa berlangganan berbagai macam koran dan majalah, namun sangat keberatan untuk membeli bacaan-bacaan agama untuk anak-anak mereka. Apalagi bila bicara untuk hiasan rumah tangga dan alat-alat hiburan semua bisa mereka lengkapi, tapi alat-alat penunjang untuk pendidikan agama tidak pernah menjadi perhatian mereka. Kalaupun ada sajadah itupun sudah lusuh ditelan masa, kalaupun ada Al Quran itupun sudah berdebu di tempat pajangan.

Mereka tidak pernah alpa dalam mengikuti berbagai senetron dan tayangan film-film seri, tapi pengajian di mushala tidak pernah mereka hadiri. Inilah suasana keagamaan yang saban hari kita saksiakan di tengah-tengah masyarakat kita.

 

)[1]( Yang dimaksud dengan Nasehat dalam hadits tersebut adalah betul-betul memperhatikan segala hal yang menjadi kebutuhan rakyat umum.

)[2]( Lhata: Glorianet.org/berita/b4218.html

 

Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra., MA

Follow Us :   Facebook Dr. Ali Musri Semjan Putra., MA (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook)

Twitter @Ali_Musri_SP | Instagram @ali_musri_semjan_Putra

Post Author: Abdillahil Hadiy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *