<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dzikra - Website Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.</title>
	<atom:link href="http://dzikra.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dzikra.com</link>
	<description>Website Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Mar 2013 09:06:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Ma&#8217;iyatullah</title>
		<link>http://dzikra.com/maiyatullah/</link>
		<comments>http://dzikra.com/maiyatullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2013 02:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca yang dirahmati Allah, marilah kita awali perjumpaan kita dalam kesempatan ini dengan memuji dan bersyukur kepada Allah serta berselawat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mengikuti sunnah RasulullahSallallahu Alaihi Wa Sallam. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang sifat Ma&#8217;iyatullah, pembahasan ini sangat erat hubungan dengan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Para pembaca yang dirahmati Allah, marilah kita awali perjumpaan kita dalam kesempatan ini dengan memuji dan bersyukur kepada Allah serta berselawat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mengikuti sunnah RasulullahSallallahu Alaihi Wa Sallam.</p>
<p dir="LTR">Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang sifat <em>Ma&#8217;iyatullah</em>, pembahasan ini sangat erat hubungan dengan pembahasan sebelumnya yaitu tentang sifat <em>&#8216;Uluw</em> bagi Allah. Karena diantara argumentasi para Ahli kalam dalam mengingkari sifat <em>&#8216;Uluw</em> adalah berhujjah dengan dalil-dalil sifat <em>Ma&#8217;iyah</em>.</p>
<ul>
<li dir="LTR"><strong>Pengertian sifat Ma&#8217;iyah</strong></li>
</ul>
<p dir="LTR">Yang dimaksud dengan sifat <em>Ma&#8217;iyah</em> yaitu tentang sifat <em>kebersamaan</em> Allah dengan makhluk-Nya. Seperti ungkapan seseorang: <em>Allah bersama kita</em>. Diantara manusia ada yang memahami bahwa maksud dari kalimat <em>kebesamaan</em> dalam ungkapan tersebut adalah bahwa Zat Allah ada di mana-mana dan bercampur-baur dengan zat makhluk-Nya. Maka bagaimanakah duduk persoalan tersebut menurut Al Qur&#8217;an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat y? Maka pada berikut ini kita mencoba mengupas pembahasan tersebut dengan dalil-dalil Al Qur&#8217;an dan Sunnah serta perkataan para ulama salaf.</p>
<p><span id="more-721"></span></p>
<ul>
<li dir="LTR"><strong>Penggunaan kalimat bersama (&#1605;&#1593;) dalam bahasa Arab</strong></li>
</ul>
<p dir="LTR">Dijelaskan para ulama yang pakar dalam bahasa Arab<sup>(</sup>[1]<sup>)</sup> bahwa kalimat <em>bersama</em> (&#1605;&#1593;) dalam bahasa Arab hanya semata-mata menunjukkan tentang <em>kebesamaan</em> secara mutlak, tanpa mengharuskan untuk saling berdampingan dan bersentuhan atau bercampur. Karena kebersamaan itu bermacam-macam bentuknya:</p>
<ol>
<li dir="LTR">Ada kebersamaan dalam segi tempat, seperti ungkapan seseorang: saya sama-sama satu kampung dengannya.</li>
<li dir="LTR">Ada kebersamaan dalam segi masa, seperti ungkapan seseorang: saya sama-sama lahir dengannya.</li>
<li dir="LTR">Ada kebersamaan dalam segi kedudukan dan jabatan, seperti ungkapan seseorang: saya sama-sama-sama satu golongan dengannya.</li>
<li dir="LTR">Ada kebersamaan dalam segi pembelaan, sebagaimana dalam firman Allah:</li>
</ol>
<p dir="RTL">{&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1581;&#1618;&#1586;&#1614;&#1606;&#1618; &#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;} [&#1575;&#1604;&#1578;&#1608;&#1576;&#1577;/40]
<p dir="LTR"><em>&#8220;Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya <span style="text-decoration: underline;">Allah bersama kita</span>.&#8221;</em> Maksudnya Allah bersama kita dalam segi pertolongan dan pembelaan<sup>([2]</sup><sup>)</sup>. Bukan berarti Allah bersama mereka dengan zat-Nya, karena luas gua tersebut bila dibanding kebesaran Allah tidak ada atinya sama sekali.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="5">Ada kebesamaan dalam sisi pengawasan, sebagaimana dalam firman Allah:</li>
</ol>
<p dir="RTL">{&#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1601;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1601;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1573;&#1616;&#1584;&#1618; &#1610;&#1615;&#1576;&#1614;&#1610;&#1616;&#1617;&#1578;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1614;&#1609; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1616;} [&#1575;&#1604;&#1606;&#1587;&#1575;&#1569;/108]
<p dir="LTR"><em>&#8220;Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, <span style="text-decoration: underline;">padahal Allah bersama mereka</span>, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai&#8221;.</em> Maksunya Allah bersama mereka yaitu melihat dan menyasikan apa yang sedang mereka putuskan dalam rapat rahasia mereka tersebut. Bukan berarti Allah menghadiri perundingan mereka tersebut dengan Zat-Nya.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="6">Ada kebersamaan yang berarti menyatu, seperti ungkapan seseorang aku minum teh bersama gula dan susu.</li>
</ol>
<p dir="LTR">Jadi makna dari kata <em>bersama</em> (&#1605;&#1593;) dalam bahasa Arab memiliki makna yang berbeda-beda maksudnya. Untuk menetukan makna dari kalimat bersama (&#1605;&#1593;) dalam sebuah ungkapan adalah dengan melihat gramatika dan susunan kalimat atau rangkaian kata dalam sebuah ungkapan.</p>
<ul>
<li dir="LTR"><strong>Pembagian sifat Ma&#8217;iyah</strong></li>
</ul>
<p dir="LTR">Para ulama Ahlussunnah menjelaskan bahwa <em>Ma&#8217;iyatullah</em> terhadap makluk-Nya terbagi dalam dua bentuk sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur&#8217;an:</p>
<p dir="LTR"><strong>Pertama: <em>Ma&#8217;iyah Ammah</em> (ma&#8217;iyah dalam betuk umum) </strong></p>
<p dir="LTR">Pengertian dari <em>Ma&#8217;iyah Ammah</em> yaitu kebersamaan Allah terhadap seluruh makhluk dengan ilmu, penglihatan, pndengaran dan pengawasan-Nya. Disebut <em>Ma&#8217;iyah Ammah</em> karena ia umum terhadap seluruh makhluk, baik yang beriman maupun yamg kafir sekalipun. Diantara ayat yang menunjukkan tentang <em>Ma&#8217;iyah Ammah</em> adalah beberapa firman Allah berikut ini:</p>
<ol>
<li dir="RTL">{&#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1601;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1601;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1573;&#1616;&#1584;&#1618; &#1610;&#1615;&#1576;&#1614;&#1610;&#1616;&#1617;&#1578;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1614;&#1609; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1616; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615; &#1576;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1615;&#1581;&#1616;&#1610;&#1591;&#1611;&#1575;} [&#1575;&#1604;&#1606;&#1587;&#1575;&#1569;/108]</li>
</ol>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak tersembunyi dari Allah, <span style="text-decoration: underline;">padahal Allah bersama mereka</span>, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan Allah itu Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan&#8221;.</em></p>
<p dir="LTR">Imam Thobari menjelaskan tentang maksud dari kalimat &#8220;<em>Allah bersama mereka&#8221;</em> dalam ayat ini, yakni: Allah melihat dan menyasikan perbuatan mereka tersebut sekalipun mereka berusaha menyembunyikannya dari manusia namun tidak tersembunyi atas Allah<sup>([3]</sup><sup>)</sup>. Dan hal tersebut umum untuk semua makhluk tidak khusus terhadap kelompok tertentu dari manusia.</p>
<ol>
<li dir="RTL" value="2">{&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1614;&#1617;&#1584;&#1616;&#1610; &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1587;&#1616;&#1578;&#1614;&#1617;&#1577;&#1616; &#1571;&#1614;&#1610;&#1614;&#1617;&#1575;&#1605;&#1613; &#1579;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617; &#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1608;&#1614;&#1609; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1585;&#1618;&#1588;&#1616; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1604;&#1616;&#1580;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1582;&#1618;&#1585;&#1615;&#1580;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1586;&#1616;&#1604;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1585;&#1615;&#1580;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615; &#1576;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1576;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1585;&#1612;} [&#1575;&#1604;&#1581;&#1583;&#1610;&#1583;/4]</li>
</ol>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwaa&#8217; di atas </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/maiyatullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jawaban Ahlussunnah Terhadap Argumentasi Takwil Para Pengingkar Sifat ‘Uluw</title>
		<link>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-takwil-para-pengingkar-sifat-uluw/</link>
		<comments>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-takwil-para-pengingkar-sifat-uluw/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 01:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Ahlussunnah Terhadap Argumentasi Takwil Para Pengingkar Sifat ‘Uluw Oleh: DR. Alimusri Semjan Putra, MA Para pembaca yang dirahmati Allah! Semoga petunjuk Allah senantiasa tercurah kepada kita semua. Pada bahsan yang lalu kita telah menjelaskan tentang jawaban dan bantahan Ahlussunnah terhadap Syubhat ’Aqliyah (argumen logika) para pengingkar sifat ’Uluw. Sebagai kelanjutan dari pembahasan tersebut, bagaimana ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><span style="text-decoration: underline;">Jawaban Ahlussunnah Terhadap </span><span style="text-decoration: underline;">Argumentasi</span><span style="text-decoration: underline;"> Takwil </span><span style="text-decoration: underline;">Para</span><span style="text-decoration: underline;"> Pengingkar Sifat ‘Uluw</span></p>
<p dir="LTR" align="center">Oleh: DR. Alimusri Semjan Putra, MA</p>
<p dir="LTR">Para pembaca yang dirahmati Allah! Semoga petunjuk Allah senantiasa tercurah kepada kita semua.</p>
<p dir="LTR">Pada bahsan yang lalu kita telah menjelaskan tentang jawaban dan bantahan Ahlussunnah terhadap Syubhat ’Aqliyah (argumen logika) para pengingkar sifat ’Uluw. Sebagai kelanjutan dari pembahasan tersebut, bagaimana pula jawaban dan bantahan Ahlussunnah terhada Syubhat Naqliyah (argumen takwil) para pengingkar sifat &#8216;uluw terhadap ayat dan hadits-hadits yang menetapkan sifat tersebut bagi Allah?</p>
<p dir="LTR">Ada dua cara yang dilakukan oleh para pengingkar sifat ‘Uluw terhadap nash-nash yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah:</p>
<p dir="LTR">Cara Pertama: Mereka mencoba menolak dalil-dalil yang menetapkan sifat ‘Uluw bagi Allah dengan cara <em>mentafwidh</em> (menyerahkan maknanya kepada Allah) dan mengingkari makna yang terkandung lafaz secara zohir. Sebahagian mereka menisbahkan cara ini kepada para ulama salaf. Mereka tidak bisa membedakan antar tafwidh yang dipahami oleh ulama salaf dengan tafwidh yang pahami oleh Ahlul kalam. Tafwidh yang dipahami oleh ulama salaf adalah dalam masalah kaifiyah (bentuk /hakikat) tentang sifat tersebut bukan makna dari sifat. Adapun tafwidh yang pahami oleh Ahlul kalam adalah tafwidh terhadap makna sifat.</p>
<p dir="LTR">Tentang kebatilan manhaj <em>Tafwidh</em> yang dipahami oleh Ahlul kalam sudah pernah kita jelaskan dalam pembahasan tentang kaedah-kaedah dalam memahami nash-nash sifat. Secara ringkas dapat kita sebutkan kembali di sini sisi-sisi kebatilan mahaj <em>Ahlul Tafwidh</em>;</p>
<ol>
<li dir="LTR">Mereka telah menutup jalan yang paling utama untuk mengenal Allah, yaitu melalui nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Karena menurut Ahlu Tafwidh nash-nash sifat tersebut tidak bisa dipahami dan tidak dimengerti makna dan maksudnya.</li>
<li dir="LTR">Menurut mereka Al Qur&#8217;an tidak dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk mengenal Allah, karena menurut mereka ayat-ayat sifat tersebut adalah lafaz-lafaz yang tidak diketahui maknanya.</li>
<li dir="LTR">Mereka telah menuduh -tanpa mereka sadari- bahwa Nabi r dan para sahabat y dalam membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah mereka tidak memahaminya dan tidak mengetahui maknanya. Ini adalah prasangka yang amat buruk kepada Nabi r dan para sahabat mulia y.</li>
</ol>
<p dir="LTR">Cara Kedua: Mereka mentakwil ayat dan hadits-hadits yang menetapkan sifat tersebut.</p>
<p dir="LTR">Namun bila kita cermati sesungguhnya takwil-takwil yang mereka sebutkan sangat bertolak belakang dengan maksud dari nash-nash tersebut, bahkan terkesan mereka telah mempermainkan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits Rasulullah r. Sebelum kita masuk kepada topik pembahasan takwil para Ahli kalam terhadap dalil-dalil &#8216;Uluw, ada baiknya terlebih dahulu kita kemukakan penjelasan para ulama tentang pengertian takwil secara ringkas.</p>
<p dir="LTR">Takwil dalam penjelasan para ulama memiliki tiga pengertian[1]:</p>
<p dir="LTR">Pertama takwil bermakna: <em>tafsir</em>, pengertian takwil dengan makna ini sangat masyhur dikalangan ulama salaf dan sangat banyak terdapat dalam ungkapan para ulama ahli tafsir yang terdahulul (mutaqaddimin).</p>
<p dir="LTR">Seperti yang terdapat dalam do&#8217;a Nabi r untuk sahabat yang mulia Ibnu &#8216;Abbas t:</p>
<p dir="RTL">&#8220;اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل&#8221;</p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Ya Allah! Pahamkanlah ia tentang agama dan ajarkan kepadanya takwil (tafsir)&#8221;</em> [2]
<p dir="LTR">Demikian pula ungkapan <em>Imam Thobary</em> -yang digelari sebagai imam mufassirin- berulang kali menggunakan kata <em>takwil</em> untuk makna <em>tafsir</em> dalam kitab tafsir beliau yang monumental &#8220;<em>Jaami&#8217;ul Bayaan</em>&#8220;:      &#8221;<span dir="RTL">&#8220;القول في تأويل قوله تعالى</span></p>
<p dir="LTR">&#8220;Penjelasan tentang takwil (tafsir) firman Allah <em>Ta&#8217;alaa</em>&#8220;.</p>
<p dir="LTR">Kedua takwil bermakna: <em>hakikat tentang sesuatu perkara/kejadian</em>, sebagaimana hakikat dari mimpi nabi Yusuf u, ketika beliau melihat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Lalu mimpi tersebut terbukti setelah beberapa waktu kemudian, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{ وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا} [يوسف/100]
<p dir="LTR"><em>&#8220;Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) menundukkan diri seraya bersujud kepada Yusuf. Dan berkatalah Yusuf: &#8220;Wahai ayahku inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan&#8221;.</em></p>
<p dir="LTR">Makna yang kedua ini juga makna yang sering dipergunakan oleh para ulama salaf dalam ungkapan mereka.</p>
<p dir="LTR">Ketiga takwil bermakna: <em>memalingkan lafaz dari maknanya yang zohir kepada makna lain karena adanya qorinah (dalil) yang membolehkannya</em>. Takwil dengan pengertian ini hanya dikenal dikalangan para ulama yang zaman terakhir (muta-akhirin) secara khusus lebih banyak dipergunakan oleh para ulama ahli ushul fiqh. Para ulama yang memakai takwil untuk makna ini menetukan syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk melakukan takwil terhadap sebuah nash/dalil.</p>
<p dir="LTR">Diantara syarat-syarat tersebut adalah:</p>
<ol>
<li dir="LTR">Penentuan makna dalam mentakwilkan sebuah lafaz/kalimat harus ada qorinah/dalil lain yang mendukungnya, baik dalil syar&#8217;i atau dalil lughawi (bahasa).</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Maka seseorang tidak boleh mentakwil hanya sekedar berdasarkan kepada logikanya semata, dan mengabaikan dalil-daliil yang lain, karena hal tersebut akan menimbulkan kontradiksi /kerancuan dalam memahami nash-nash agama.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="2">Penetuan makna dalam mentakwilkan sebuah lafaz/kalimat harus memperhatikan gramatika bahasa Arab serta memperhatikan susunan rangkaian kata-kata dari sebuah lafaz dan kalimat.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Dalam bahasa Arab sebuah kata bisa memiliki bebrapa makna, seperti kata <em>&#8216;Ainun</em> bisa berarti mata yang dapat melihat, dan bisa berarti mata air, atau berarti <em>jasus</em> (intel) dan bisa juga berarti bagian dari sesuatu untuk diteliti di labor. Yang dapat menetukan makna yang sebenarnya adalah tergantung dari gramatika dan susunan rangkaian kata yang terdapat dalam sebuah ungkapan.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="3">Makna yang menjadi pilihan dalam mentakwilkan sebuah lafaz/kalimat haruslah diantara makna-makna yang tercakup dan terkandung dalam lafaz/kalimat tersebut dalam bahasa Arab.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Maka tidak boleh mentakwilkan sebuah lafaz dengan kata yang tidak tercakup dalam makna lafaz tersebut. Seperti takwilan orang-orang bathiniyah terhadap lafaz puasa dengan makna <em>menjaga rahasia guru-guru mereka</em>.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="4">Tidak terdapat dalil lain yang menolak lebih kuat terhadap makna yang ditakwilkan tersebut, baik dalil syar&#8217;i maupun dalil lughawi (garamatika bahas Arab).</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Seperti mentakwilkan kata <em>tangan</em> dengan <em>qudrat</em> dalam firman Allah berikut ini:</p>
<p dir="RTL">{قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ} [ص/75]
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Allah berfirman: &#8220;Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Seandainya kata <em>tangan</em> ditakwil dengan <em>qutrat</em>, berarti <em>qudrat Allah</em> ada dua! karena kata tangan dalam ayat di atas dikaitkan dengan bilangan dua. Kemudian jika <em>tangan</em> diartikan <em>qutrat</em> berarti tidak ada keistimewaan Adam dari Iblis karena Iblis juga diciptakan dengan qudrat Allah.</p>
<p dir="LTR">Jika salah satu syarat yang kita sebutkan di atas tidak terpenuhi maka takwil tersebut dinilai sebagai <em>takwil fasid</em> (cacat). Takwil dalam pengertian terakhir ini yang selalu menjadi perdebatan kalangan para ulama. Karena takwil dalam pengertian ini bisa benar atau bisa salah, dan bahkan bisa menimbulkan kesesatan dalam agama. Konsep takwil seperti ini sering dipergunakan oleh para pengingkar sifat-sifat Allah dalam argumentasi mereka, sebagaimana yang akan kita jelaskan pada berikutnya nanti. Alat untuk mengukur dan memastikan kebenaran takwil tersebut adalah dengan merujuk kepada pemahaman para ulama salaf dalam memahami nash /dalil.</p>
<p dir="LTR" align="center">Takwil-takwil Ahlul kalam terhadap dalil-dalil &#8216;Uluw</p>
<p dir="LTR">Pada berikut ini kita kemukakan beberapa takwil yang digunakan Ahlul kalam dalam mengingkari sifat-sifat Allah <em>subhaanahu wata&#8217;alaa </em> yang terdapat dalam Al Qur&#8217;an dan sunnah, secara khusus sifat &#8216;Uluw.</p>
<p dir="LTR"><strong>Pertama: Mentakwil nash-nas yang menunjukkan tentang sifat &#8216;Uluw dan Fauqiyyah (Allah di atas seluruh zat makhluk) dengan makna ketinggian nilai dan kekuasan (<em>rutbah</em> dan <em>qohhar</em>). </strong></p>
<p dir="LTR">Mereka mencontohkannya dalam ungkapan seseorang: &#8220;emas lebih tinggi dari perak&#8221;, &#8220;ketua lebih tinggi dari wakilnya&#8221;. Ketinggian yang dimaksud dalam ungkapan tersebut adalah ketinggian nilai dan kekuasaan, bukan ketinggian zat masing-masing di atas yang lainnya. Demikian analogi yang mereka pakai dalam mentakwil nash-nash yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah <em>subhaanahu wata&#8217;alaa</em>.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Sebagai contoh firman Allah:    <span dir="RTL">{أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاء} [الملك/16]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit&#8221;</em></p>
<p dir="LTR">Maka menurut pemahaman Ahlu Takwil maksud firman Allah tersebut ialah: Allah lebih mulia dari langit atau Allah lebih berkuasa dari langit. Bukan berarti Allah berada di atas langit.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Contoh lain firman Allah:    <span dir="RTL">{يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ} [النحل/50]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka</em><em>&#8220;</em></p>
<p dir="LTR">Menurut Ahlu Takwil maksud firman Allah tersebut ialah: Allah lebih mulia dari mereka atau Allah lebih berkuasa dari mereka. Bukan berarti Allah berada di atas mereka.</p>
<p dir="LTR">Maka mereka tidak mengimani bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, akan tetapi mereka hanya membatasi keimanan pada bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Mulia di atas seluruh makhlukn-Nya.</p>
<p dir="LTR">Adapun Ahlussunnah mengimani seluruh bagian dari makna &#8216;uluw secara mutlak bagi Allah, baik dari segi zat maupun sifat-sifat-Nya termasuk sifat Maha Kuasa dan sifat Maha Mulia.</p>
<p dir="LTR"><strong>Jawaban Ahlussunnah:</strong></p>
<p dir="LTR">Jika kita cermati takwil mereka terhadap sifat &#8216;Uluw dengan makna ketinggian nilai dan kekuasan seperti dalam dua ayat di atas memiliki kesalahan dari beberapa sisi:</p>
<ol>
<li dir="LTR">Mentakwil nash-nas &#8216;Uluw dengan makna Maha Mulia dan Maha Kuasa tidak sesuai dengan gramatika yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat tersebut tidak berbicara tentang konteks perbandingan kelebihan Allah di atas makhluk-Nya dalam segi kekuasan dan kemulian. karena tidak ada sedikitpun kedekatan antara Allah dan makhluk dalam hal tersebut! Hal tersebut sama dengan ungkapan seseorang: &#8220;permata lebih tinggi nilainya dari kulit bawang&#8221; atau &#8220;pedang lebih tajam dari pada tongkat&#8221;. Bila ada seseorang yang berkata demikian sungguh semua orang akan ketawa mendengarkannya. Karena hal tiu tidak perlu dibandingkan sebab begitu jauh perbedaan anatar keduanya. Ungkapan tersebut adalah sesuatu yang sia-sia, apalagi perbandingan kemulian dan kekuasaan Allah dengan kemulian dan kekuasaan makhluk! Sesungguhnya Allah Maha Suci dari segala perkataan yang sia-sia.</li>
<li dir="LTR">Allah tidak pernah dalam memuji diri-Nya baik dalam Al Qur&#8217;an maupun melalui sabda Rasul r, bahwasanya Dia (Allah) lebih mulia dari &#8216;Arasy, atau lebih baik dari langit. Akan tetapi perbandingan yang sering disebutkan dalam Al Qur&#8217;an tentang sesembahan dari selain Allah manakah yang lebih baik dari Allah? Seperti dalam firman Allah:</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="margin-left: 18.0pt;">{أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ} [يوسف/39، 40]
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;"><em>&#8220;Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?</em><em> Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</em></p>
<ol>
<li dir="LTR" value="3">Nash-nash yang menyatakan tentang sifat &#8216;Uluw (keMahatinggian Zat Allah) di atas seluruh makhluk-Nya diungkapkan dalam berbagai redaksi dan sinonim yang menafikan takwil terhadap sifat tersebut.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Sebagai contoh firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُه}ُ [فاطر/10]
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;"><em>&#8220;Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. <span style="text-decoration: underline;">Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik</span> dan amal yang saleh <span style="text-decoration: underline;">Ia angkat kepada-Nya</span>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Dan firman Allah:    <span dir="RTL">{بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْه} [النساء/158]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;"><em>&#8220;Tetapi (yang sebenarnya), <span style="text-decoration: underline;">Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya</span></em><em>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Kata-kata; <em>naik</em> dan <em>diangkat</em> dalam dua ayat tersebut sangat jelas lafaz yang menunjukan posisi dari bawah ke atas dan tidak mungkin ditakwil lagi dengan ketinggian nilai dan kekuasaan atau makna-makna lain yang mau dicari oleh Ahlu Takwil.</p>
<p dir="LTR"><strong>Kedua: Mereka mentakwil lafaz </strong><em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>)<strong> yang terdapat dalam Al Qur&#8217;an dengan makana </strong><em>Istawlaa</em>  (<span dir="RTL">استولى</span>)<strong>.</strong></p>
<p dir="LTR">Dianatara dalil yang menyatakan bahwa Allah bersifat <em>&#8216;Uluw</em> adalah ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah <em>beristiwaa</em> di atas &#8216;Arasy. Sebagaimana telah kita jelaskan permasalahan ini dalam pembahasan tentang dalil-dalil <em>&#8216;Uluw</em> dari ayat-ayat Al Qur&#8217;an. Namun orang-orang Ahlul kalam berusaha menolak makna <em>Istiwaa</em> dengan cara mentakwilnyat dengan makna <em>istilaa</em> (berkuasa).</p>
<p dir="LTR"><strong>Jawaban Ahlussunnah:</strong></p>
<ol>
<li dir="LTR">Garamatika penggunaan lafaz <em>istiwaa</em> dalam bahasa Arab ada dua bentuk:
<ol style="list-style-type: upper-alpha;">
<li dir="LTR">Mutlak yaitu penggunaannya tidak dihubungkan dengan <em>huruf bantu</em> .</li>
<li dir="LTR">Muqayyad yaitu penggunaannya dihubungkan dengan <em>huruf bantu</em> .</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Ketika lafaz <em>istiwaa</em> dalam gramatika <em>Mutlak</em> berbeda maknanya ketika berrada dalam gramatika <em>Muqayyad</em>, begitu pula dalam garamatika <em>Muqayyad</em> dengan huruf tertentu maka maknanya bisa sama atau bebrbeda bila saat <em>Muqayyad</em> dengan huruf yang lain.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Bila lafaz <em>istiwaa</em> berada dalam gramatika <em>Mutlak</em> maka ia bermakna: sempurna atau matang (<span dir="RTL">كمل وتمّ</span>) . seperti diungkapkan dalam bahasa Arab:   (<span dir="RTL">استوى النبات، واستوى الطعام</span>) atinya: tanaman itu telah tumbuh sempurna dan makanan itu telah matang.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Adapun lafaz <em>istiwaa</em> yang Muqayyat dengan huruf, ia berada dalam tiga gramatika:</p>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR">Digabung dengan huruf banru <em>Ilaa</em> (<span dir="RTL">إلى</span>) seperti dalam ungkapan berikut:  <span dir="RTL">استوى فلان إلى السطح</span> artinya: Sipulan naik ke atas loteng&#8221;. Untuk gramatika ini terdapat dalam Al Qur&#8217;an dalam dua ayat:</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Pertama dalam firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ} [البقرة/29]
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit&#8221;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Kedua dalam firman Allah:    <span dir="RTL">{ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ} [فصلت/11]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap</em><em>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Dalam konteks ini <em>istawaa</em> mennjukkan dua Makna:  <span dir="RTL">قصد</span> (bermaksud) dan makna <span dir="RTL">علا وارتفع</span> (tinggi/ di atas) untuk menetukkan makna yang tepat dari dua makna tersebut dilihat dari sisi gramatikanya, sebagaimana dalam contoh di atas.</p>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR" value="2">Digabung dengan huruf bantu <em>&#8216;Alaa</em> (<span dir="RTL">على</span>) sebagaimana dalam beberpa ayat berikut:</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Pertama dalam firman Allah:         <span dir="RTL">{وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ} [هود/44]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Dan bahtera itupun berlabuh <span style="text-decoration: underline;">di atas</span> bukit Judi<strong>&#8220;</strong></em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Kedua firman Allah:                          <span dir="RTL">{لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ} [الزخرف/13]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Supaya kamu duduk <span style="text-decoration: underline;">di atas</span> punggungnya</em><em>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Ketiga firman Allah:                             <span dir="RTL">{فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ} [الفتح/29]</span></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Tegak lurus <span style="text-decoration: underline;">di atas</span> rumpunnya&#8221;</em><em>.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Dalam konteks ini dalam semua nash <em>istawaa</em> menunjukkan makna <span dir="RTL">علا وارتفع</span> (tinggi/ di atas) dan tidak bisa tawil dengan makna dari selain itu. Dalam sifat Istiwaa Allah terdapat tujuh ayat[3] yang muqayyad dengan huruf <em>&#8216;Alaa</em> (<span dir="RTL">على</span>) sebagaimana telah jelaskan ketika membahas dalil-dalil <em>&#8216;Uluw</em> dalam Al Qur&#8217;an.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Bila kita cermati semua nash yang menunjukkan tentang Istiwaa Allah hanya berada dalam hal yaitu: muqayyad dengan huru <em> Ilaa</em> (<span dir="RTL">إلى</span>) atau huruf  <em>&#8216;Alaa</em> (<span dir="RTL">على</span>) saja.</p>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR" value="3">Digabung dengan huruf penghubung <em>Waaw </em> (<span dir="RTL">واو</span>) yang menunjukkan akan makna maf&#8217;ul ma&#8217;ah (kesamaan /sebanding) seperti ungkapan seseorang:   (<span dir="RTL">استوى الماء والخشبة</span>)  artinya <em>air dan kayu sejajar</em>.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Jika kita cermati lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) dalam dari berbagai gramatika bahasa Arab tidak ada satupun yang bermakna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) dan tidak ada satupun dari ulama pakar bahasa arab yang terpercaya menyebutkannya.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Seorang ulama pakar bahasa Arab yaitu <em>Khalil bin Ahmad</em> pernah ditanya: apakah engkau pernah menemukan dalam bahasa Arab <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>)? Beliau menjawab: &#8220;ini adalah sesuatu yang tidak pernah dikenal orang Arab dan tidak pernah digunakan dalam bahasa mereka&#8221;[4].</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="2"><em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) dan <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) adalah dua kata yang berbrbeda dari sisi lafaz dan makna. Karena tidak penah ditemukan penggunaan <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) dalam Al Qur&#8217;an dan sunnah maupun dalam bahasa Arab untuk menunjukkan makna <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>), ini membuktikan bahwa lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) tidak boleh ditakwilkan dengan makna<em> Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>),  kalau hal tesebut diperbolehkan tentu akan terdapat penggunaan kedua lafaz tersebut saling bergantian.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Andaikan lafaz <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) disebutkan dalam Al Qu&#8217;an, namun bila dibandingkan lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) jumlahnya lebih banyak disebutkan umpamanya, tentu yang seharusnya dilakukan adalah menggunakan makna <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) untuk lafaz <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>), bukan sebaliknya! Apalagi kenyataanya justru lafaz <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) tidak pernah penah disebut dalam Al Qur&#8217;an, lalu dari mana bisa kita bisa menjadikan makna<em> Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) sebagai takwil bagi lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>)?</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="3">Bila <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) hal tersebut akan melazimkan kerancuan dalam makna dan dalam pemahaman kaum muslimin. Hal tersebut ditinjau dari beberapa segi:
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR">Tatanan gramatika bahasa Arab, kalimat <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) didahului oleh kata penghubung <em>Tsumma</em> (<span dir="RTL">ثم</span>) yang menunjukkan runtutan kejadian /peristiwa (<em>tartib</em>).</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} [السجدة/4]
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;"><em>&#8220;Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas &#8216;Arsy<strong>&#8220;.</strong></em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Bila lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) berarti &#8216;Arsy sebelumn pencitaan langit dan bumi berada di luar kekuasaan Allah. Lalu &#8216;Arasy tersebut di bawah kekuasaan siapa sebelumnya? Karena arti dari makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) itu <em>menguasai</em>  jauh beda dengan makna <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>).</p>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR" value="2">Bila Bila lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) berarti ada yang berusaha menguasai &#8216;Arasy dari selain Allah! karena penggunaan lafza <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) dalam bahsa Arab adalah untuk menunjukkan <em>dua pihak yang saling berebut menguasai sesuatu</em>, bila salah satu di anatara keduanya dapat mengalahkan yang lainnya maka ia disebut menguasanya (<span dir="RTL">عليه</span> <span dir="RTL">استولى</span>). Apakah ada yang berusaha merebut &#8216;Arasy dari kekuasaan Allah sebelumnya? Bila ada di anatara manusia yang berasumsi demikian sesunggunya ia telah jatuh kedalam kesesatan yang nyata.</li>
</ol>
<ol>
<li dir="LTR" value="4">Jika lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) yang artinya <em>menguasai</em>. Melazimkan para Ahlu Takwil memilih salah satu dari dua pilihan yang kedua-duanya bagaikan memakan buah simalakama:</li>
</ol>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li dir="LTR">Berarti boleh dikatakan oleh seseorang bahwa Allah <em>Istiwaa</em> (<span dir="RTL">استو</span><span dir="RTL">اء</span>) di atas gunung, di atas pohon, dan di atas semua makhluk yang ada di muka bumi. Karena kekuasaan tidak terbatas atas &#8216;Arasy saja. Lalu apa artinya Allah mengkhusus &#8216;Arasy dengan sifat <em>istiwaa</em> (<span dir="RTL">استواء</span>) dalam setiap ayat dalam Al Qu&#8217;an!?</li>
<li dir="LTR">Atau Allah hanya mengusai &#8216;Arasy saja setelah menciptakan langit dan bumi, karena Allah mengkhusus &#8216;Arasy dengan sifat <em>istiwaa</em> (<span dir="RTL">استواء</span>) dalam setiap ayat dalam Al Qu&#8217;an!? Lalu siapa yang menguasai langit dan bumi kalau bukan Allah!?</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 36.0pt;">Kesimpulanya lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) tidak bisa ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) karena kedua saling berbeda dilalahnya menurut syara&#8217; dan lughah.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="5">Jika lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) ditakwilkan dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) ini adalah <em>tahrif</em>  (penyelewengan) terhadap kalam Allah. Seperti perbuatan orang-orang Bani Irail ketika diperintahkan Allah untuk mengucapkan <em>Hiththoh</em> (ampunan) mereka menukar ucapan tersebut dengan kata <em>Hinthoh</em> (gandum).</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Sebagaimana diceritakan dalam firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ} [البقرة/58، 59]
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;"><em>&#8220;Dan katakanlah: &#8220;Bebaskanlah kami dari dosa&#8221;, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (kebaikan) kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang zalim mengganti ucapan yang tidak dikatakan kepada mereka</em><em>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Maka orang yang suka metakwil kalam Allah adalah telah meniru kebiasaan orang-orang Bani Israil yang telah merubah-rubah kalam Allah yang diturunkan kepada mereka. Oleh sebab itu ulama kita mengatakan <em>Laam</em>  (<span dir="RTL">ل</span>) yang ditambahkan oleh Ahlu Kalam terhadap lafaz (<span dir="RTL">استوى</span>) sehinggga menjadi (<span dir="RTL">استولى</span>) sama dengan perbuatan orang Bani Israil yang menambah Nuun (<span dir="RTL">ن</span>) terhadap kalimat (<span dir="RTL">حطّة</span>) sehingga menjadi (<span dir="RTL">حنطة</span>).</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="6">Alasan utma orang Ahlul kalam mentakwil lafaz <em>Istawaa</em> (<span dir="RTL">استوى</span>) dengan makna <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) adalah takut terjatuh kedalam aqidah <em>Tasybih</em> (menyerupakan Allah dengan makhluk). Akan tetapi dalam kenyataannya justru mereka terjatuh pada lubang yang mereka gali sendiri, karena makhluk juga memilki sifat <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>). Jika mereka menetapkan sifat <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) bagi Allah berarti mereka juga menyerupakan Allah dengan makhluk. Bahkan lebih keliru lagi ketika mereka mentakwil sifat Allah dengan makna yang tidak pantas dinisbahkan kepada Allah. Karena  <em>Istawlaa</em> (<span dir="RTL">استولى</span>) maknanya menyadingkan Allah dengan makhluk dalam berebut menguasai &#8216;Arasy. Oleh sebab itu Allah tidak pernah menisbahkan sifat tersebut kepada diri-Nya dalam Al Qu;an, demikian pula Rasulullah r dalam sabdanya.</li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Di sini mereka harus mengakui kebenaran pandangan Ahlussunnah tentang sifat <em>Istiwaa&#8217;</em> (<span dir="RTL">استواء</span>): bahwa Allah beristiwaa di &#8216;Arasy sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak sama seperti beristiwaa&#8217;nya makhluk.</p>
<ol>
<li dir="LTR" value="7">Takwil yang dilakukan oleh Ahlul kalam terhadap ayat-ayat tentang sifat &#8216;Uluw adalah takwil yang cacat hukum karena tidak memenuhi syarat-syarat dan kriteria yang ditetukan oleh para ulama sebagaimana yang kita sebutkan di awal bahasan ini. Bahkan Tidak ditemukan seorang pun dari para sahabat dan para ulama salaf dikalangan umat ini yang mentakwil ayat-ayat tentang sifat &#8216;Uluw bagi Allah. Kecuali mereka yang terpengaruh dengan aqidah filsafat Yunani.</li>
<li dir="LTR" value="8">Sebagai pemungkas untuk orang-orang yang mengaku mengikuti aqidah Imam Abu hasan Asy&#8217;ari. Di sini kami sebutkan bantahan beliau terhadap orang yang mentakwil lafaz (<span dir="RTL">استوى</span>) dengan makna (<span dir="RTL">استولى</span>) dalam kitab munumental beliau &#8220;<em>Al Ibaanah</em>&#8220;[5]: &#8220;Sesungguhnya orang-orang Mu&#8217;tazilah, Jahmiyah dan Haruriyah berpendapat bahwa firman Allah:  <span dir="RTL">{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه/5]</span></li>
</ol>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;"><em>&#8220;Tuhan Yang Maha Pemurah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arsy</em><em>&#8220;.</em></p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Menurut mereka makna  (<span dir="RTL">استوى</span>) adalah <em>menguasai </em> (<span dir="RTL">وملك وقهر</span> <span dir="RTL">استولى</span>) dan zat Allah berada disetiap tempat. Mereka mengikari bahwa Allah berada di atas &#8216;Arasy sebagaimana yang diyakini oleh Ahlul Haq, mereka mengartikan <em>Istiwaa&#8217;</em> dengan <em>Qudrah</em>.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Kalau benar apa yang mereka sebutkan tentu tidak ada perbedaanya antara &#8216;Arasy dengan bumi yang dilapisan ketujuh! Karena segala sesuatu berada di bawah kekuasan Allah. Bumi, tempat buang kotoran dan segala yang di dalam alam ini adalah di bawah kekuasaan Allah. Jika <em>istiwaa&#8217;</em> Allah di atas &#8216;Arasy diartikan <em>istilaa&#8217;</em>  tentu Allah itu beristiwaa&#8217; di atas segala sesuatu?! berarti Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arasy, bumi, langit, tempat buang hajat dan di atas segala tempat yang kotor?! Karena Zat Yang kuasa atas segala sesuatu  berarti Ia telah memilikinya (<span dir="RTL">مستول عليه</span>). Sekalipun Allah menguasai segala sesuatu, namun tidak ada seorangpun dari kalangan kaum muslimin yang membolehkan ungkapan: Allah beristiwaa&#8217; di atas  tempat buang hajat dan kotoran&#8230;&#8221;.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">&#8220;Asumsi orang-orang Mu&#8217;tazilah, Haruriyah dan Jahmiyah bahwa zat Allah berada disetiap tempat, melazimkan Allah berada dalam perut Maryam, tempat buang kotoran dan tempat buang hajat, hal ini adalah bertentangan dengan agama&#8221;. Hal ini juga melazimkan Allah berada diantara diantara langit dan bumi, dianatara dua langit dan dianatara dua lapis bumi, ini senua merupakan kemustahilan dan saling bertentangan&#8221;.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;">Demikian bantahan Imam Abu Hasan Asy&#8217;ary secara ringkas. Semoga orang-orang <em>Asyaa&#8217;irah</em> yang mengaku sebagai pengikut beliau mau menerima keyakinan imam mereka dan meninggalkan keyakinan orang-orang Mu&#8217;Tazilah, Haruriyah dan Jahmiyah.</p>
<p dir="LTR" style="margin-left: 18.0pt;" align="center"><em>Wallahu A&#8217;lam wa Ahkam</em></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<p dir="LTR" style="margin-left: 11.35pt;">[1]  Penjelasan lebih luas tentang hal ini dapat dilihat dalam kitab &#8220;<em>Jinayah at Takwil al Faasid</em>&#8221; karangan Dr. Muhammad Ahmad Luh, MA. Dan kita-kitab &#8216;Ulumuttafsir.</p>
<div id="ftn2">
<p dir="LTR">[2]  H.R. Imam Ahmad no (2397), dan dishohihkan oleh Syeikh Al Bany dalam &#8220;silsilah shohihah&#8221; no (2589).</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p dir="LTR">[3]   Lihat: Q.S. Al A&#8217;raaf: (54), Yunus: (3), Thohaa: (5), Ar Ra&#8217;d: (2), Al Furqon: (59), As Sajdah: (4), Fushshilat: (11).</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p dir="LTR">[4]   Lihat: <em>Aqoowiil Ats Tsiqqoot</em> karangan <em>Al karmy</em>, hal: 124.</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p dir="LTR">[5]   Lihat: <em>&#8216;Al Ibaanah&#8221;</em>, hal: 98-99.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-takwil-para-pengingkar-sifat-uluw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jawaban Ahlussunnah Terhadap Argumentasi  Para Pengingkar Sifat ‘Uluw Bagi Allah</title>
		<link>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-para-pengingkar-sifat-uluw-bagi-allah/</link>
		<comments>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-para-pengingkar-sifat-uluw-bagi-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 02:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Ahlussunnah Terhadap Argumentasi Para Pengingkar Sifat ‘Uluw Bagi Allah Oleh: DR. Alimusri Semjan Putra, MA Para pembaca yang budiman! Sempga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua. Dalam beberapa pembahasan tentang sifat ‘Uluw telah kita sebutkan tentang argumentasi Ahlussunnah dalam penetapan sifat ‘Uluw bagi Allah. Baik dari ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits shahih, perkataan para ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Jawaban Ahlussunnah Terhadap </span><span style="text-decoration: underline;">Argumentasi </span></p>
<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Para Pengingkar Sifat ‘Uluw Bagi Allah</span></p>
<p align="center">Oleh: DR. Alimusri Semjan Putra, MA</p>
<p>Para pembaca yang budiman! Sempga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua.</p>
<p>Dalam beberapa pembahasan tentang sifat ‘Uluw telah kita sebutkan tentang argumentasi Ahlussunnah dalam penetapan sifat ‘Uluw bagi Allah. Baik dari ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits shahih, perkataan para ulama terkemuka dari kalangan umat ini, serta dalil ijma’, logika dan Fitrah.</p>
<p>Pada kesempatan ini, kita akan bahas tentang bantahan Ahlussunnah terhadap hujah dan argumentasi sesat yang menjadi pegangan para pengingkar sifat ‘Uluw. Argumentasi mereka terbagi kepada dua macam; pertama argumentasi logika, kedua argumentasi takwil.</p>
<p>Maka bahasan ini akan kita bagi kepada dua bagian:</p>
<ol start="1">
<li>Bantahan terhadap Syubhat ’Aqliyah (argumen logika) para pengingkar sifat ’Uluw.</li>
<li>Banatahan terhadap argumentasi takwil terhadap ayat dan hadits-hadits yang menetapkan sifat ‘Uluw bagi Allah.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><b>Syubuhat ‘Aqliyah (Argumentasi Logika) Para Pengingkar Sifat ‘Uluw</b></p>
<p> Para pengingkar sifat ‘Uluw mencoba menolak dalil-dali yang menetapkan sifat ‘Uluw bagi Allah dengan logika pikiran mereka sendiri. Diantara logika-logika yang mereka analogikan dengan akal pikiran mereka adalah seperti berikut:</p>
<p><b>I.    </b><b>Logika Pertama: Kalau Allah itu memiliki sifat ‘Uluw berarti Allah itu memiliki arah dan tempat&#8230;?!</b></p>
<p>Orang-orang Ahlul kalam berlogika: kalau kita mentapkan sifat ‘uluw bagi Allah! Berarti kita mengatakan bahwa Allah itu berada/bertempat pada satu arah (<i>jihah</i>). Sedangakan sifat memiliki arah/tempat adalah khusus bagi makhluk. Karena arah/tempat itu tercipta setelah terciptanya makhluk. Hal ini menurut Ahlul kalam melazimkan Allah itu menyerupai makhluk yang berada/terkungkung dalam arah/tempat tertentu. Pada hal Allah itu Maha Suci dari menyerupai makhluk-Nya. Barang siapa yang mengatakan Allah memiliki sifat ‘uluw berarti orang tersebut menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya?!</p>
<p><b>Jawaban Ahlussunnah untuk argumentasi mereka tersebut sbb:</b></p>
<ol>
<li>Penafian maupun penetapan kata-kata <i>jihah</i> bagi Allah tidak pernah terdapat baik dalam Al Qur’an dan sunnah maupun perkataan para ulama salaf. Maka kita tidak boleh menafikan maupun menetapkan sesuatu sifat terhadap Allah yang tidak disebutkan Al Qur’an maupun sunnah. Hal ini diharamkan dalam agama Islam karena berbicara/menisbahkan tentang sesuatu kepada Allah tanpa ada dalilnya. Boleh jadi sesuatu yang dinafikan itu benar adanya, atau sebaliknya boleh jadi juga hal yang ditetapkan itu tidak benar adanya. Karena masing-masing dari kedua belah pihak sama-sama tidak memilik argumentasi/dalil atas pernyataanya.</li>
<li>Kata-kata <i>jihah</i> adalah termasuk kalimat yang mujmal (global/samar). Untuk itu perlu diminta penjelasan dari maksud kalimat tersebut dari sipengucapnya.Kata-kata jihah bisa berarti <i>jihah</i> (arah/tempat) makhluk, dan bisa pula berarti <i>jihah</i> yang di luar makhluk. Bila jihah diartikan (arah/tempat) makhluk, maka jelas Allah tidak bertempat pada makhluknya. Ahlussunnah tidak pernah memahami bahwa Allah dikungkung atau berada dalam makhlu-Nya.Aka tetapi bila <i>jihah</i> diartikan adalah <i>jihah</i> Allah itu sendiri tidak bukan <i>jihah</i> makhluk, maka Allah berada pada <i>jihah</i>-Nya sendiri yaitu di atas seluruh makhluk (“Uluw mutlak). Namun demikian Ahlussunnah tidak memboleh penggunakan kata-kata <i>jihah</i> untuk penyebutan sifat ‘Uluw. Karena menimbulkan kesamaran dan membawa perselisihan disamping itu juga tidak sesuai dengan istilah yang terdapat dalam Al Qur’an hadits. Tidak satupun dalil dalam Al Qur’an maupun sunnah mempergunakan kata-kata <i>jihah</i> untuk penyebutan sifat ‘Uluw. Sesunggunya Allah telah memilih lafaz-lafaz yang sempurna dalam wahyu-Nya, yang tidak ada kesamaran dan kebatilan dalamnya. Apakah kita akan merubah lafaz yang dipilih Allah dan dipilih oleh rasul-Nya?! Ini adalah salah satu sebab kesesatan orang-orang yahudi yaitu suka merubah-rubah kalimat Allah.Kalimat <i>jihah</i> biasanya digunakan oleh para Ahlul kalam untuk menyamarkan tentang maksud mereka. Mereka menamakan sifat ‘Uluw dengan <i>jihah</i>  agar orang-orang awam tertipu dengan tujuan mereka.  Maka oleh sebab itu salah satu metode dari mahaj para penentang kebenaran adalah menamakan kebenaran itu dengan istilah yang dapat membuat orang lari dari kebenaran tersebut. seperti di sini mereka mengunakan istilah <i>jihah</i> bagi sifat ‘Uluw agar orang-orang awam tertipu dan percaya terhadap apa yang mereka samarkan tersebut.</li>
<li>Suatu hal yang sangat aneh dari sikap orang-orang Ahlul kalam, mereka menafikan <i>jihah</i> (arah/tempat) bagi Allah karena <i>jihah</i> adalah makhluk. Akan tetapi pada waktu yang sama mereka mengakatan bahwa zat Allah berada pada setiap <i>jihah</i> (tempat/ arah)?! Jusru mereka-lah orang-orang Ahlul kalam yang mengatakan bahwa Allah itu berada dan bertempat dalam makhluk-Nya, bukan Ahlussunnah&#8230;! Kemana logika kalian wahai Ahlul kalam&#8230;.!!!, jika kalian tidak malu maka katakanlah dan lakukanlah apa yang kalian mau&#8230;?!</li>
</ol>
<p><b>II.    </b><b>Logika kedua: Kalau Allah itu berada di atas ‘Arasy berarti Allah itu butuh kepada ‘Arasy?!</b></p>
<p>Menurut logika orang-orang Ahlul kalam jika Allah beristiwa’ di atas ‘Arasy, melazimkan Allah itu butuh kepada ‘Arasy dan bila seandainya ‘Arasy tidak ada, maka tentu Allah akan jatuh. Seperti keberadaa orang di atas kapal dan di atas hewan tunggangan, seandainya kapal tersebut tenggelam maka tenggelam pulah orang yang berada di atasnya, begitu pula seandainya hewan tunggangan tersebut tergelicir maka sipenunggangnya akan jatuh tersungkur.</p>
<p>Maka orang-orang Ahlul kalam berkesimpulan menafikan sifat Istiwa’ bagi Allah karena Allah tidak butuh kepada ‘Arasy. Siapa yang mengatakan Allah beristiwa’ di atas ‘Arasy, berarti Ia mengatakan Allah itu butuh kepada ‘Arasy.</p>
<p><b>Jawaban Ahlussunnah untuk argumentasi mereka tersebut sbb:</b></p>
<ol>
<li>Dalam analog dan perumpamaan yang dibuat oleh orang-orang Ahlul kalam di muka adalah menyerupakan istiwa’ Allah dengan istiwa’ makhluk, disini awal kesalaham mereka. Karena mereka memahami dari istiwa’ Allah tersebut seperti istiwa’nya makhluk di atas makhluk lain. Hal ini adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Untuk menghindari penyerupaan Allah dengan makhluk, mereka mengingkari istiwa’ Allah dan mentakwilnya dengan makna yang lain (Istila’).Sedangkan Allah menisbah sifat istiwa’ kepada diri-Nya, artinya istiwa’ Allah tidak seperti istiwa’ makhluk. Sebagaimana Allah menisbahkan sifat-sifat lain kepada diri-Nya, seperti sifat melihat, mendengar dan lainnya. Kita meyakini Allah mendengar dan melihat akan tetapi penglihtan dan pendengaran Allah tidak seperti pendengaran dan penglihtan makhluk. Demikian pula sifat istiwa’, Allah beristiwa’ di atas ‘Arasy akan tetapi istiwa’ Allah tidak seperti istiwa’ makhluk yang bergantung kepada tempat istiwa’nya.</li>
<li>Orang-orang Ahlussunnah dalam mengimani sifat istiwa’ bagi Allah, tidak pernah meyakini bahwa Allah itu beristiwa’ sebagaimana beristiwa’nya makhluk, apalagi sampai mengatakan bahwa Allah itu butuh kepada ‘Arasy. Ini adalah tuduhan yang sengaja dibuat-buat oleh Ahlul kalam agar orang-orang awam lari dari pemahaman Ahlussunnah. Bagaiamana bisa dikatakan Allah butuh pada ‘Arasy, sedangakan ‘Arasy itu sendiri makhluk yang keberadaannya butuh kepada Allah.Siapa saja yang membaca dan meneliti karangan ulama-ulama Ahlussunnah dalam maslah ini tidak akan pernah mendapatkan sedikitpun apa yang dituduhkan oleh orang-orang Ahlul kalam tersebut.</li>
<li>Dalam kenyataan di alam ini, Allah menciptakan sebahagian makhluk di atas sebahagian yang lainnya. Namun tidak mesti butuh bergantung kepada yang di bawahnya, sekalipun posisinya berada di atas. Seperi udara/angin berada diatas bumi, ia tidak butuh bergantung kepada bumi. Begitu juga Awan berada di atas bumi, ia tidak butuh bergantung kepada bumi, sekalipun ia di atas bumi. Demikian pula langit yang tujuh, salah satu berada di atas yang lainnya, dan langit pertama berada di atas bumi. Masing-masing tidak butuh kepada bumi. Buktinya ketika terjadi gempa di bumi, langit pertama tidak jatuh ke bumi.Jika makhluk sesama makhluk saja tidak mesti butuh kepada mahkluk lain yang di bawahnya, apa lagi Allah yang Maha Kaya dan Maha Perkasa, walaupun Allah itu beristiwa’ di atas ‘Arasy tidak mesti Allah itu butuh pada ‘Arasy.</li>
<li>Orang-orang Ahlul kalam mentakwil kata-kata istiwa’ dengan istila’, dengan alasan agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, karena istiwa’ adalah sifat makhluk. Di sini terlihat lagi keanehan orang-orang Ahlul kalam, mereka terperosok kedalam lobang yang mereka gali sendiri. Karena makhluk-pun bersifat istila’, berarti orang-orang Ahlul kalam-pun menyerupakan Allah dengan makhluk&#8230;?! Kapan orang-orang Ahlul kalam akan berhenti dari membuat keanehan dalam keyakinan mereka&#8230;?! Mereka menuduh Ahlussunnah menyerupakan Allah dengan makhluk justru mereka-lah yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Sebagaimana kita lihat dalam analog logika mereka di muka, menyerupakan istiwa’ Allah dengan istiwa’ makhluk (<i>tasybih</i>). Lalu setelah mereka lakukan takwil terhadap sifat istiwa’ dengan istila’ (<i>ta’thil</i>). Tanpa mereka sadari mereka terjatuh lagi pada tsybih, karena makhluk-pun memiliki sifat istila’ (<i>tasybih</i>). Betapa indahnya pribahasa ini: “Betapa besar aib atas dirimu, kamu mencegah sesuatu yang kamu lakukan”.</li>
</ol>
<p><b>III.    </b><b>Logika ketiga: Kalau Allah beristiwa’ di atas ‘Arasy! Berarti Allah memiliki tubuh, setiap yang memiliki tubuh adalah berjasad. </b></p>
<p>Orang-orang Ahlul kalam berasumsi: kalau Allah itu beristiwa’ di atas ‘Arasy, tentu Allah itu memiliki tubuh, karena istiwa’ adalah sifat bagi setiap yang bertubuh. Setiap yang bertubuh adalah berjasad. Sedangkan Allah Maha Suci dari berjasad. Kesimpulannya adalah berarti Allah itu tidak beristiwa’, karena Allah tidak berjasad.</p>
<p><b>Jawaban Ahlussunnah untuk argumentasi tersebut sbb:</b></p>
<ol>
<li>Orang-orang Ahlul kalam mengingkari sifat istiwa’ dengan alasan melazimkan bahwa Allah itu berjasad, karena yang setiap yang istiwa’ adalah bertubuh dan setiap yang bertubuh mesti berjasad. Demikian analogi argumentasi mereka Alul kalam dalam mengingkari sifat istiwa’ bagi Allah. Dalam analogi mereka tersebut terdapat beberapa kekeliruan:Pertama: Justipikasi mereka bahwa setiap yang memiliki sifat mesti bertubuh, setiap yang memiliki rtubuh mesti berjasad, ini adalah kesipulan dan analogi yang keliru. Dari mana mereka dapat memastikan kesempulan seperti ini? Karena dalam kenyataan di alam ini, banyak sekali makhluk yang memiliki sifat, akan tetapi ia tidak bertubuh. Ada pula dianatara makhluk yang memiliki sifat dan tubuh,  akan tetapi ia tidak berbentuk jasad.Sepeti halnya angin, petir dan kilat memiliki sifat qudrat (kekuatan), akan tetapi tidak memiliki tubuh dan jasad.Demikian pula malaikat dan jin mereka memiliki siafat ilmu, qudrat dan kalam (berbicara), mereka memilki tubuh akan tetapi tidak berjasad. Begitu pula halnya roh manusia dapat bergerak kemana-mana, akan tetapi tidak berjasad.
<p>Jadi tidak benar kesimpulan yang dibuat orang-orang Ahlul kalam: bahwa setiap yang memiliki sifat adalah bertubuh, dan sertiap yang memiliki tubuh adalah berjasad.</li>
<li>Kalimat <i>jasad</i> sama seperti kalimat <i>jihah</i>, memiliki pengertian yang samar-samar dan multi tafsir. Tidak terdapat dalam Al Qur’an maupun dalam sunnah tentang penetapan dan penafiannya. Jika <i>jasad</i> diartikan bagi setiap sesuatu yang memilki sifat, maka hal ini tidak bisa dinafikan bagi Allah, karena Allah memilki sifat. Akan tetapi tidak boleh digunakan untuk sifat-sifat Allah dengan kalimat <i>jasad</i>, karena menimbulkan kebimbangan dan perselisihan di tengah-tengah kaum muslimin.Dan bila jasad diartikan bagi setiap sesuatu yang memilki fostur atau bodi seperti makhluk, maka hal ini tidak boleh dinisbahkan kepada Allah. Karena sifat-sifat Allah tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk.</li>
<li>Jika orang-orang Ahlul kalam berkesimpulan setiap yang memiliki sifat adalah betubuh, dan setiap yang memilki tubuh adalah berjasad. Barang siapa yang mengatakan Allah itu memilki sifat istiwa’ berarti ia telah mengatakan Allah itu bertubuh. Dan bila ia mengatakan Allah itu bertubuh berarti ia mengatakan Allah itu berjasad. Barangsiapa yang mengatakan Allah itu berjasad berarti ia menyerupakan Allah dengan makhluk.Disini kita akan menyasikan kembali orang-orang Ahlul kalam tersungkur kedalam lubang yang mereka gali sendiri. Orang-orang Ahlul kalam mengatakan bahwa Allah itu memiliki sifat <i>wujud</i> (ada), qudrat, ilmu, melihat, mendaengar dll. Berarti mereka juga mengatakan Allah itu berjasad, karena menurut analogi mereka setiap yang memiliki sifat mesti bertubuh, setiap yang memiliki tubuh mesti berjasad. Maka pada akhirnya mereka orang-orang Ahlul kalam juga menyerupakan Allah dengan makhluk.Bila mereka berkomentar, sesungguhnya sifat-sifat Allah tersebut tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk. Maka komentar yang sama mesti pula mereka terapkan terhadap sifat istiwa’, bahwa istiwa’ Allah tidak serupa dengan istiwa’ makhluk. sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Ahlussunnah wal jama’ah.</li>
</ol>
<p><b>IV.    </b><b>Logika keempat: Jika Allah beristiwa&#8217; di atas &#8216;Arasy berarti Allah itu menyerupai makhluk.</b></p>
<p>Orang-orang Ahlul kalam berasumsi: Jika Allah beristiwa&#8217; di atas &#8216;Arasy berarti Allah itu menyerupai makhluk. Pada hal Allah itu tidak serupa dengan makhluk, maka kesimpulannya Allah itu tidak beristiwa&#8217; di atas &#8216;Arasy. Karena istiwa&#8217; adalah sifat makhluk.</p>
<p><b>Jawaban Ahlussunnah untuk argumentasi tersebut:</b></p>
<p>Asumsi mereka: &#8220;Jika Allah beristiwa&#8217; di atas &#8216;Arasy berarti Allah itu menyerupai makhluk&#8221;. Ini adalah asumsi yang salah, karena Allah itu tidak serupa dengan makhluk baik dalam zat maupun sifat begitu pula dalam perbuatan. Meslipun penyebutan nama terhadap sifat tersebut sama, akan tetapi hakikat (<i>kaifiyah</i>) dari sifat tersebut jauh berbeda. Sebagaimana kita meyakini Allah itu melihat dan mendengar, akan tetapi tidak serupa dengan sifat makhluk yang melihat dan mendengar. Demikian pula dalam sifat <i>&#8216;Uluw/ Istiwa&#8217;</i>, Allah beristiwa&#8217; tidak seperti istiwa&#8217;nya makhluk.</p>
<p>Hal ini bisa juga dijawab dengan dua kaidah yang telah berlalu kita jelaskan dalam kaidah-kaidah dalam memahami sifat-sifat Allah.</p>
<p>Pertama: bahwa kita mengimani sifat Allah sebagaimana kita mengimani zat Allah. Allah memiliki zat akan tetapi tidak serupa dengan zat makhluk. Begitu pula dalam hal sifat, Allah memiliki sifat akan tetapi tidak serupa dengan sifat makhluk, meskipun dari segi penamaan sama, akan tetapi hakikat masing-masing sifat tersebut berbeda.</p>
<p>Kedua: mengimani sebahagian sifat sebagaimana mengimani sifat yang lainnya. Sebagaimana kita mengimani sifat <i>qudrat</i> bagi Allah, bahwa <i>qudrat</i> Allah tidak sama dengan qudrat makhluk. Demikian pula dalam mengimani sifat <i>istiwa&#8217;</i> bagi Allah, bahwa <i>istiwa&#8217;</i> Allah tidak sama dengan istiwa&#8217; makhluk. Meskipun dalam segi penamaan sama, akan tetapi hakikat <i>(kaifiyah)</i> masing-masing sifat tersebut berbeda.<br />
<b>V. Logika kelima: Kalau Allah itu beristiwa di atas ‘Arasy berarti Allah itu melakukan sesuatu yang baru. </b></p>
<p>Menurut logika orang Ahlul kalam; setiap sesuatu yang melakukan sesuatu yang baru adalah baru (makhluk). Dan Allah tidak beristiwa’ karena Allah itu bersifat qodim (tidak baru). Menetapkan sifat istiwa’ bagi Allah berarti menafikan sifat qodim bagi Allah.</p>
<p><b>Jawaban Ahlussunnah untuk argumentasi tersebut sbb:</b></p>
<ol>
<li>Lagika orang Ahlul kalam di atas jelas bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah berbuat dengan sekehendak-Nya, baik yang berhubungan dengan sifat-sifat-Nya maupun perbuatan-Nya.Seperti firman Allah:   {إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ}<i>&#8220;Sesungguhnya Tuhanmu Maha berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki&#8221;.</i> (Q.S. Huud: 107).Dan firman Allah:    {ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ}
<p><i>&#8220;Yang mempunyai &#8216;Arsy, lagi Maha Mulia,</i><i>Maha berbuat apa yang dikehendaki-Nya&#8221;.</i> (Q.S. Al Buruuj: 15-16).</li>
<li>Para ulama membagi sifat Allah kepada dua bentuk: (a) sifat <i>zatiyah</i>, (b) sifat <i>fi&#8217;liyah</i>.Sifat <i>zatiyah</i> ialah sifat yang senantiasa melekat dengan zat Allah. Adapun sifat <i>fi&#8217;liyah</i> adalah sifat yang dilakukan Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Atau dengan kata lain; sifat <i>fi&#8217;liyah</i> kemunculannya sesuai dengan kehendak Allah, Jika Allah berkehendak sifat tersebut Allah lakukan pada saat Dia kehendaki untuk melakukannya.Seluruh sifat-sifat Allah adalah mengikut kepada zat-Nya, meskipun sifat tersebut dikatakan baru dalam pandangan makhluk, namun tidak berarti bahwa zat Allah juga baru. Karena Allah memiliki kemampuan untuk melakukan/ memiliki sifat tersebut sejak <i>azaly</i>. Akan tetapi kemunculan sifat <i>fi&#8217;liyah</i> tersebut sesuai dengan plihan dan kehendak Allah untuk melakukannya.Diantara contoh tentang sifat <i>fi&#8217;liyah</i> yang disebutkan para ulama adalah: (a) sifat <i>Ar Razq </i>(Yang memberi rizki), kemunculan sifat ini setelah adanya makhluk yang diber rizki oleh Allah. (b) sifat <i>Al Ihyaa&#8217; </i>(Yang menghidupkan), kemunculan sifat ini setelah adanya makhluk yang dihidupakan oleh Allah. (c) sifat <i>Al Imaatah</i> (Yang mematikan), kemunculan sifat ini setelah adanya makhluk yang dimatikan Allah.
<p>Meskipun kemunculan sifat-sifat tersebut setelah adanya makhluk, akan tetapi sifat-sifat tersebut tidak disebut sifat yang baru bagi Allah atau bergantung kepada makhluk, karena Allah memiliki kemampuan untuk melakukan sifat-sifat tersebut sejak <i>azaly</i>.</p>
<p>Demikian pula halnya sifat <i>istiwa&#8217;</i>, kemunculannya setelah diciptakannya &#8216;Arasy, akan tetapi bukan berarti <i>istiwa&#8217;</i> Allah bergantung kepada &#8216;Arasy tersebut, karena Allah memiliki kemampuan untuk melakukan sifat tersebut sejak <i>azaly</i>.</li>
<li>Seandainya sifat <i>istiwa&#8217;</i> bertentangan dengan sifat <i>qodim</i> (<i>Al Awal</i>) bagi Allah, tentu Allah tidak akan menetapkan sifat tersebut bagi diri-Nya dalam Al Qur&#8217;an sebanyak tujuh kali<sup>(<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>)</sup>. Demikian pula Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam tidak akan mungkin mendiamkan hal itu terhadap umatnya. Pastilah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam akan menjelaskan kepada para sahabatnya, berikutnya para sahabat-pun akan menjelaskannya pula kepada para tabi&#8217;in.</li>
</ol>
<p align="center"><i> </i></p>
<p align="center"><i>Wallahu A&#8217;lam</i></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
[1]( lihat: Q.S. Al A&#8217;raaf (7): 54, Yunus (10): 3, Ar Ra&#8217;d (13): 2, Thohaa (20): 5, Al Furqan (25): 59, As Sajdah (32): 4, Al Hadid (57): 4.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/jawaban-ahlussunnah-terhadap-argumentasi-para-pengingkar-sifat-uluw-bagi-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Allah (Bagian ke-4)</title>
		<link>http://dzikra.com/675/</link>
		<comments>http://dzikra.com/675/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 01:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ali musri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Dalil Akal, Fitrah Dan Ijma&#8217; Tentang Sifat &#8216;Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Dalil Akal, Fitrah Dan Ijma&#8217; Tentang Sifat &#8216;Uluw Bagi Allah</span></p>
<p align="center">Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA.</p>
<p align="center">
<p>Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.</p>
<p>Para pembaca yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini kita akan lanjutkan pembahasan seputar dalil-dalil tentang sifat &#8216;Uluw bagi Allah (Maha Tinggi dengan Zat-Nya di atas seluruh makhluk).</p>
<p>Bahasan ini akan terbagi pada Tiga bagian:</p>
<p>Bagaian Pertama: Dalil Akal (Nalar/Rasio) tentang sifat ‘Uluw bagi Allah.</p>
<p>Bagian Kedua: Dalil Fitrah (Naluri) tentang sifat ‘Uluw bagi Allah.</p>
<p>Bagian Ketiga: Dalil Ijma&#8217; tentang sifat ‘Uluw bagi Allah.</p>
<p align="center">
<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Dalil Akal (Logika/Nalar/Rasio) Tentang sifat ‘Uluw Bagi Allah</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penetapan sifat &#8216;Uluw bagi Allah, yakni bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk juga ditunjukkan kebenarannya oleh akal sehat, atau dikenal dengan istilah logika, nalar atau rasio.</p>
<p>Secara nalar (logika/ akal) yang sehat, yaitu nalar yang belum tercemar oleh polusi ilmu kalam dan filsafat, niscaya dengan sangat mudah ia mempercayai bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk. Karena setiap orang yang berakal mengakui bahwa tempat yang tinggi adalah lebih mulia dari tempat yang rendah (di bawah). Hal ini tidak ada seorang pun dari makhluk yang menolaknya. Maka yang layak untuk dinisbahkan kepada Allah adalah hal yang mulia bukan yang hina, karena Allah Maha Mulia lagi Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya. Oleh sebab itu kesimpulan logika menyatakan bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, tidak ada satupun makhluk yang sama tinggi apalagi lebih tinggi dari Allah.</p>
<p>Berikut ini kita kutip beberapa penjelasan ulama tentang dalil logika, nalar atau rasio dalam menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p>Diantara dalil logika akal yang sering disebutkan ulama tentang sifat &#8216;Uluw adalah sebagaimana berikut:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Sifat &#8216;Uluw (keMahaTinggian Zat Allah) adalah sifat yang menunjukkan akan keMahaSempurnaan Allah. Sedangkan lawan dari sifat &#8216;Uluw adalah sifat <em>suful</em> (bawah) adalah sifat yang menunjukkan akan kekurangan. Maka yang layak bagi Allah adalah sifat yang menunjukkan akan kesempurnaan, karena Allah Mahasuci dari segala sifat yang kurang. Maka sifat &#8216;Uluw adalah sifat yang menunjukkan kesesmpurnaan Allah.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Dua zat yang diakui wujudnya tidak terlepas dari dua kemungkinan. Adakalnya keduanya saling menyatu dengan yang lain, atau keduanya saling terpisah. Sedang wujud Allah tidak akan mungkin bersatu dengan wujud makhluk, maka zat Allah terpisah dari zat makhluk. Jika demikian halnya, tentu Allah memiliki posisi tempat yang jauh lebih mulia dari makhluk karena zat Allah tidak bercampur dengan zat makhluk. Posisi yang amat mulia adalah posisi yang amat tinggi (&#8216;Uluw). Maka kesimpulannya adalah zat Allah berada di atas seluruh zat makhluk. Karena kalau zat Allah berada di mana-mana berarti zat Allah bercampur baur dengan seluruh zat makhluk. Keyakinan ini melazimkan zat Allah berada tempat-tempat yang hina dan kotor sekalipun. Sedangkan Allah MahaSuci dari segala hal yang hina dan kotor.</p>
<p><strong>Ketiga: </strong>saat Allah menciptakan alam ini ada beberapa kemungkinan:</p>
<ol>
<li>Kemungkinana pertama: Allah menciptakan alam beserta segala isinya dalam zat-Nya.</li>
<li>Kemungkinan kedua: Allah menciptakan alam beserta segala isinya di luar zat-Nya kemudian setelah alam tercipta Allah masuk ke dalamnya (menjadikan alam sebagai tempat-Nya).</li>
<li>Kemungkinan ketiga: Allah menciptakan alam di luar zat-Nya kemudian setelah alam tersebut tercipta Allah tidak masuk ke dalamnya (tidak menjadikan alam sebagai tempat-Nya).</li>
</ol>
<p>Kemungkinan yang pertama adalah batil menurut akal sehat, karena jika Allah menciptakan makhluk dalam zat-Nya melazimkan zat Allah sebagai tempat bagi makhluk yang penuh dengan berbagai aib dan kekurangan, sebab diantara makhluk ada yang keji dan hina. Apakah mungkin hal-hal yang kotor dan keji berada dalam zat Allah. Sedangkan Allah Mahasuci dari segala hal yang kotor dan hina.</p>
<p>Kemungkinan yang kedua juga batil menurut akal sehat, sebab jika Allah masuk ke dalam makhluk (alam) setelah Allah menciptakannya dan  Allah berada dimana-mana, hal ini melazimkan bahwa Allah lebih kecil dari makhluk, dan Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan keji. Sedangkan Allah adalah Mahabesar lagi Mahasuci dari segala hal yang kotor dan keji.</p>
<p>Kemungkinan yang ketiga adalah kemungkinan yang sangat masuk akal dan sesuai dengan dengan keMahaAgungan dan keMahaMulian serta keMahaBesaran Allah itu sendiri. Bahwa Allah menciptakan alam beserta segala isinya di luar zat-Nya. Dan Allah tidak masuk kedalamnya setelah alam tersebut tercipta.</p>
<p>Lalu timbul pertanyaan berikut: dimanakah posisi alam (makhluk) ketika Allah menciptakannya? Maka jawabannya ada tiga kemungkinan pula:</p>
<ol>
<li>Jawaban pertama: Allah menciptakan alam (makhluk) dengan posisi lebih tinggi dari Allah, dengan kata lain bahwa makhluk (alam) lebih tinggi dari Allah dan Allah berada di bawah makhluk.</li>
<li>Jawaban kedua: Allah menciptakan makhluk dengan posisi sama tinggi dengan Allah, maka Allah dan mahkluk (alam) berada pada posisi yang sama tinggi.</li>
<li>Jawaban ketiga: Allah menciptakan makhluk (alam) dengan posisi lebih rendah dari Allah, seluruh makhluk berada di bawah Allah dan Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya.</li>
</ol>
<p>Jawaban yang pertama adalah batil, sebab jika Allah menciptakan alam (makhluk) dengan posisi lebih tinggi dari Allah, dengan kata lain bahwa makhluk (alam) lebih tinggi dari Allah dan Allah berada di bawah makhluk, berarti Allah bersifat tidak sempurna (kurang).</p>
<p>Demikian  pula jawaban kedua juga batil, karena jika Allah menciptakan makhluk dengan posisi sama tinggi dengan Allah, maka Allah dan mahkluk (alam) berada pada posisi yang sama tinggi, berarti Allah tidak memiliki kesepurnaan yang melebihi seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Maka jawaban yang sesuai dengan keMahaagungan dan keMahamulian serta keMahatinggian Allah adalah jawaban yang ketiga. Karena sifat keMahatinggian adalah sifat yang mutlak bagi Allah, baik zat-Nya maupun sifat-Nya, hal tersebut adalah kelaziman dari keagungan dan kemulian zat Allah.</p>
<p>Maka melalui paparan di atas dapat kita simpulkan, bahwa zat Allah adalah terpisah dari seluruh zat makhluk dan zat Allah adalah Mahatinggi di atas seluruh zat makhluk. Tidak ada satupun dari makhluk yang menyamai ketingian zat Allah, apalagi melebihi ketinggian zat Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Dalil Fitrah (Naluri) Tentang Sifat ‘Uluw Bagi Allah</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara naluri atau fitrah semua makhluk meyakini bahwa Allah berada di atas mereka. Maka oleh sebab itu ketika mereka berdo’a merasakan dalam sanubari hati mereka meminta kearah atas, lalu diiringi oleh gerakan mengangkat tangan kearah atas. Karena hal tersebut sudah tertancap tajam secara naluri atau fitrah dalam sanubari hati mereka, tanpa perlu melaui proses penelitian dan pendidikan. Masing-masing kita merasakan akan hal tersebut saat kita berdo&#8217;a kepada Allah, dimana mata hati kita tidak menoleh ke kiri dan ke kanan atau ke depan dan belakang, akan tetapi kita memohon kepada Zat Yang Maha Mulia di atas kita.</p>
<p>Hujjah yang serupa pernah dikemukan oleh imam Abu Ja&#8217;far Al hamadaany ketika berdiskusi dengan ustadz Abul Ma&#8217;aly Al Juwainy dalam sebuah majlis. Saat itu Abul Ma&#8217;aly Al Juwainy menyampaikan dalam ceramahnya bahwa Allah tidak memiliki tempat tertentu, seketika itu Abu Ja&#8217;far seakan-akan bertanya kepadanya: wahai guruku! Bagaimana cara kita melawan perasaan yang timbul dalam hati saat kita berdo&#8217;a!? Hati kita selalu menatap dan meminta dari Zat yang berada di atas kita!? Pertanyaan tersebut membuat Abul Ma&#8217;aly bingung untuk menjawabnya karena ia juga merasakan hal yang serupa saat berdo&#8217;a dan ia tidak mampu untuk menepis dan menolak perasaan tersebut. Lalu ia turun dari kursinya sambil berkata: Al Hamadany telah membuatku bingung, Al Hamadany telah membuatku bingung, ia mengulang perkataan tersebut beberapa kali<a title="" href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>.</p>
<p>Dalil ini juga diungkapkan oleh Imam Abu Hasan Al Asy&#8217;ary ketika beliau menyebutkan hujjah-hujjah tentang istiwaa&#8217; Allah dalam kitab beliau &#8220;Ibanah&#8221;: &#8220;Kita melihat kaum muslimin seluruhnya mereka mengangkat kedua tangan mereka ketika berdo&#8217;a kearah lengit. Karena Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;arasy yang di atas seluruh langit. Jika seandainya Allah tidak di atas &#8216;Arasy, niscaya mereka tidak mengangkat kedua tangan mereka ke arah &#8216;Arasy, sebagimana mereka tidak mengarahkan kedua tangan mereka ke arah bumi<a title="" href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a>.</p>
<p>Bagaimana jawaban terhadap orang yang mengatakan: bahwa mengangkat tangan ke langit ketika berdo&#8217;a adalah karena langit kiblat do&#8217;a, bukan karena Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Perkataan tersebut adalah batil, sebagaimana yang akan kita jelaskan pada berikut ini:</p>
<p style="margin-left: 40px;">Pertama:  Tidak ada dalil, baik dari ayat Al Qur&#8217;an maupun hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam demikian pula perkatan dari ulama salaf yang menyatakan bahwa kiblat do&#8217;a adalah langit.</p>
<p style="margin-left: 40px;">Kedua:  Menurut penjelasan para ulama yang menerangkan tentang adab-adab berdo&#8217;a, bahwa kita disunnah menghadap kiblat ketika berdo&#8217;a, yaitu dengan menghadapkan wajah kita kearah kiblat sambil mengangkat tangan ke langit. Jadi tidak ada perbedaan antara kiblat waktu berdo&#8217;a dengan kiblat waktu sholat yaitu menghadap ka&#8217;bah yang mulia. Sebagaimana Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam berdo&#8217;a dalam bebrbagai kesempatan beliau selalu menghadap kiblat. Barang siapa yang membedakan anatara kiblat do&#8217;a dengan kiblat sholat, maka ia telah menyalahi kesepakatan umat Islam tentang kiblat do&#8217;a .</p>
<p style="margin-left: 40px;">Ketiga: Yang disebut kiblat adalah mengarahkan wajah ke arah ka&#8217;bah yang mulia, sebagaiamana diwajibkan ketika sholat dan dianjurkan ketika berzikir, membaca Al Qur&#8217;an ataupun ketika berdo&#8217;a. Adapun posisi arah telapak tangan yang di arahkan ke atas langit saat berdo&#8217;a tidak pernah disebut kiblat dalam bahasa umat manapun.</p>
<p style="margin-left: 40px;">Keempat: Kalau seandainya langit adalah kiblat do&#8217;a, tentu kita dianjurkan untuk mengarahkan wajah kita kelangit saat berdo&#8217;a. Namun hal tersebut tidak pernah dianjurkan dalam agama.</p>
<p style="margin-left: 40px;">Kelima: Kiblat adalah perkara yang bisa berubah (berpindah) arahnya, sebagaimana berpindanya arah kiblat pertama dari Baitul maqdis di Palestina ke Ka&#8217;bah yang mulia di Makkah Al Mukarromah. Sedang mengarahkan dan membuka telapak tangan ke arah atas (langiat) saat berdo&#8217;a adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam fitrah  sanubari setiap manusia yang tidak mungkin untuk dirobah sama sekali.</p>
<p style="margin-left: 40px;">Keenam: Seseorang yang sedang mengahadap ke qiblat mengetahui bahwa Allah tidak berada di dalam atau dekat Ka&#8217;bah tersebut. Berbeda dengan perasaan seseorang yang sedang berdo&#8217;a sesungguhnya ia merasakan dalam hatinya bahwa ia sedang menghadap Allah dan ia berharapkan agar diturunkan rahmat dari sisi Allah yang berada di atas seluruh makhluk, oleh sebab itu ia membuka kedua telapak tangannya kepada Allah.</p>
<p style="margin-left: 40px;">Ketujuh: Demikian pula saat seseorang bersujud dalam sholat, ia merasakan dalam hatinya bahwa Allah berada pada arah yang Maha Tinggi. Tidak pernah terbetik dalam hati orang yang bersujud bahwa Allah berada di bumi tempat ia meletakkan muka dan keningnya<a title="" href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>.</p>
<p dir="RTL" align="center">
<p dir="RTL" align="center"><span style="text-decoration: underline;"><span dir="LTR">Dalil Ijma&#8217; tentang sifat ‘Uluw bagi Allah</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diantara para ulama yang mengemukakan tentang ijma&#8217; (kesepakan) para ulama tentang keMahaTinggian Zat Allah yang Maha Kuasa adalah:</p>
<ol>
<li>Imam Al Auza&#8217;i, beliau adalah seorang ulama Ahlussunnah yang Masyhur dari negeri Syam yang hidup pada abad kedua hijriyan, wafat th 157 H. Beliau berjumpa dan berguru dengan para ulama-ulama tabi&#8217;iin. Beliau menyatakan bahwa ulama pada zaman beliau di hadapan para tabi&#8217;iin mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Allah berada di atas &#8216;Arasy-Nya, dan kami beriman dengan apa yang terdapat dalam sunnah tentang sifat-sifat Allah&#8221;<a title="" href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>.</li>
</ol>
<p style="margin-left: 36.0pt;">Dapat kita pahami dari ungkapan imam Al Auza&#8217;i tersebut bahwa para ulama tabi&#8217;iin dan tabi&#8217; taabi&#8217;in mempercayai Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, namun tidak ada seorang pun diantara mereka menolak atau mengingkari hal tersebut ini menunjukkan ijma&#8217; (kesepakatan) tentang mengimani perkara tersebut.</p>
<ol>
<li value="2">Imam Abu Hatim Ar Rozy (195-277H) dan Imam Abu Zur&#8217;ah Ar Rozy (200-264H) keduanya adalah dua tokoh ulama Ahlussunnah yang sangat masyhur. Beliau berdua menyatakan dalam sebuah buku yang beliau tulis berdua tentang aqidah beliau berdua &#8220;<em>Ashlus Sunnah</em>&#8220;: &#8220;Telah ijma&#8217; (sepakat) seluruh para ulama Islam di seluruh penjuru negeri; baik di Hijaz, Iraq, Mesir dll, dalam mengimani segala sifat-sifat Allah, bahwasanya Allah di atas &#8216;Arasy, terpisah dari makhluk-Nya sedangkan ilmu-Nya meliputi semua tempat&#8221;<a title="" href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>.</li>
<li>Ibnu Baththoh Al &#8216;Ukbury (304-387H), menyatakan tentang ijma&#8217; para ulama dalam karya beliau yang monumental tentang aqidah Ahlussnnah &#8220;<em>Al Ibaanah</em>&#8220;: &#8220;Kaum muslimin dari kalangan para sahabat dan tabi&#8217;iin serta seluruh ulama dari kaum mukminin telah ijma&#8217; (sepakat) bahwa sesungguhnya Allah di atas &#8216;Arasy, terpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk&#8221;<a title="" href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>.</li>
<li>Abu Umar Ath Tholamangky (340-429H), beliau adalah salah seorang ulama Ahlussunnah terkemuka dari pengikut mazhab Al Maliky, menyatakan: &#8220;Sungguh kaum muslimin dari kalangan Ahlussunnah telah ijma&#8217; (sepakat) bahwa sesungguhnya Allah di atas &#8216;Arasy, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, Allah MahaTinggi dari prasangka orang-orang yang sesat&#8221;<a title="" href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a>.</li>
<li>Abul Qosim Al Ashfahany Asy Syafi&#8217;i (457–535H), beliau adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan pengikut mazhab imam Syafi&#8217;i menyebutkan dalam karya beliau yang monumental tentang aqidah Ahlussunnah &#8220;<em>Al Hujjah fi bayan Al Mahajjah</em>: &#8220;Telah ijma&#8217; (sepakat) seluruh kaum muslimin bahwa Allah Maha Tinggi dengan setinggi-tingginya, sebagaimana hal itu telah disebutkan Al Qur&#8217;an <span dir="RTL">(سبح اسم ربك الأعلى)</span> &#8220;<em>Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi&#8221;</em> mereka (orang-orang Jahmiyah) mengira makna ayat tersebut hanya sebatas Maha Tinggi dalam keputusan-Nya saja, tidak mencakup Maha Tinggi Zat-Nya. Sedangkan menurut kaum muslimin Allah itu Maha Tinggi dalam segala segi, karena sifat &#8216;Uluw adalah sifat yang terpuji, maka oleh sebab itu Allah MahaTinggi zat-Nya, MahaTinggi dalam segala sifat-Nya dan MahaTinggi dalam segala keputusan-Nya&#8221;<a title="" href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>.</li>
<li>Ibnu Qudamah Al Maqdisy (541-620H), beliau adalah salah seorang ulama terkemuka dari pengikut mazhab hambaly, menyatakan dalam karya beliau &#8220;<em>Itsbat Shifatil &#8216;Uluw</em>&#8221; yang khusus membahas tentang hujjah-hujjah aqidah Ahlussunnah tentang sifat &#8216;Uluw bagi Allah: &#8220;Sesungguhnya Allah menetapkan bagi diri-Nya memiliki sifat &#8216;Uluw (MahaTinggi) di atas langit, hal itu juga ditegaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam penutup segala nabi-nabi. Demikian pula seluruh ulama dari semenjak masa sahabat sampai para ulama dari kalangan para fuqohaa&#8217; telah berijma&#8217; (sepakat) atas hal tersebut<a title="" href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a>.</li>
<li>Syeikh Islam Ibnu Taimiyah (661-728H), beliua sudah tidak asing lagi oleh segenap Ahlussunnah di seluruh pelosok dunia. Keluasan ilmu beliau diakui oleh kawan dan lawan, menyatakan: &#8220;Tentang sifat &#8216;Uluw (keMahaTinggian Zat Allah di atas seluruh makhluk) telah disepakati oleh umat manusia seluruhnya, baik yang muslim maupun yang kafir. Takala nabi Musa ‘Alaihis Salam mengajak Fir&#8217;aun untuk beriman, firmaun berkata kepada Haman (perdana menteri Fir&#8217;aun):</li>
</ol>
<p dir="RTL">وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا [غافر/36، 37]
<p>&#8220;Fir&#8217;aun berkata: wahai Haman! Tolong bangunkan untukku sebuah bangunan yang itnggi supaya aku sampai kepintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya sebagai seorang pendusta&#8221;.</p>
<p>Fir&#8217;aun tidak mencari Allah ke kanan ataupun ke kiri, Tidak kebelakang dan tidak pula kedepan. Akan tetapi ia mencari ke arah atas, hal ini menunjukkan bahwa pengakuan tentang Allah berada di atas seluruh makhluk telah tertanam dalam sanubari setiap makhluk, sekalipun binatang melatah&#8221;.</p>
<p>Dalam ayat di atas ada dua kesimpulan:</p>
<p>Pertama: Fir&#8217;aun mengetahui tentang prihal bahwa Allah di atas seluruh makhluk tersebut melalui nabi Musa ‘Alaihis Salam secara langsung, lalu fir&#8217;aun menuduh nabi Musa ‘Alaihis Salam berdusta dalam hal tersebut. Maka orang yang mengingkari Allah berada di atas seluruh makhluk adalah mengikuti mazhab fir&#8217;aun ketika mendustakan nabi Musa ‘Alaihis Salam yang mengajaknya untuk beriman kepada Allah yang Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Kedua: Fir&#8217;aun mengetahui tentang prihal bahwa Allah di atas seluruh makhluk tersebut dengan naluri yang ada dalam hatinya. Lalu rasa sombong membuatnya mendustakan apa yang terdapat dalam nalurinya tersebut. Agar dengan demikian ia dapat menolak seruan nabi Musa ‘Alaihis Salam yang mengajaknya untuk beriman kepada Allah.</p>
<p>Demikianlah hujjah-hujjah yang menjelaskan tentang penetapan sifat &#8216;Uluw bagi Allah &#8216;Azza wa Jalla yang kupas dalam beberpa edisi dalam majalah kita ini. Mulai dari ayat-ayat Al Qur&#8217;an, Hadits-hadits nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam, perkataan para sahabat dan para ulama sepanjang masa, dalil logika, dalil fitrah (hati nurani) manusia dan Ijma&#8217; para ulama sepanjang zaman.</p>
<p>Insya Allah pada bahasan berikutnya akan kita kupas tentang bantahan terhadap argumentasi para penetang Ahlussunnah dalam masalah ini.</p>
<div><br clear="all" />&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div id="ftn1">
<p style="margin-left: 14.2pt;">([1]) Kisah tersebut banyak dinukil oleh para ulama, lihat: &#8220;Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Taimiyah&#8221;: 4/44, 61, &#8220;Tafsir al Alusy&#8221;: 7/115, &#8220;Kasyfu Zhunun&#8221;: 1/78, dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p style="margin-left: 14.2pt;"><span dir="RTL">([2])</span>Lihat &#8216;Al Ibanah&#8221;: 97-98.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p style="margin-left: 14.2pt;"><span dir="RTL">([3])</span>Lihat penjelasan ini dalam kitab &#8220;Syarah Aqidah Thohawiyah&#8221; oleh Syeikh Abdul &#8216;Aziz Ar Rajhy: 1/205.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p style="margin-left: 14.2pt;">([4]) diriwayatkan oleh imam Lalaakaa&#8217;i dalam &#8220;Syarah ushul I&#8217;tiqad Ahlussunnah&#8221;: 4/401, dan imam Baihaqy dalam &#8220;As Asmaa&#8217; wash Shifaat&#8221;: 2/304.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p style="margin-left: 14.2pt;">([5]) Lihat &#8216;Ashlus Sunnah&#8221;: 37-43, dan diriwayatkan oleh imam Lalaakaa&#8217;i dalam &#8220;Syarah ushul I&#8217;tiqad Ahlussunnah&#8221;: 1/176-182.</p>
<p style="margin-left: 14.2pt;">([6]) Lihat &#8220;Al Ibaanah&#8221;: 3/136.</p>
<p style="margin-left: 14.2pt;"><span dir="RTL">([7])</span>Dinukil oleh Syeikh Islam Ibnu Taimiyah dalam &#8220;Majmu&#8217; Fatawa&#8221;: 5/501.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p style="margin-left: 14.2pt;"><span dir="RTL">([8])</span> Lihat &#8216;Al Hujjah fi bayan Al Mahajjah&#8221;: 2/117.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p style="margin-left: 14.2pt;">([9]) Lihat &#8216;Itsbat Shifati &#8216;Uluw&#8221;: 63.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/675/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Allah (Bagian ke-3)</title>
		<link>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-3/</link>
		<comments>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 04:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Perkataan Para Ulama Salaf Dari Masa Ke Masa Yang Menetapkan Sifat &#39;Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center" dir="LTR">
	Perkataan Para Ulama Salaf Dari Masa Ke Masa
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	Yang<span style="text-decoration: underline;"> Menetapkan Sifat &#39;Uluw Bagi Allah</span>
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA.</strong>
</p>
<p dir="LTR">
	Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.
</p>
<p dir="LTR">
	Para pembaca yang dirahmati Allah, pada pembahasan yang lalu telah kita sebutkan dalil-dalil dari Al Qur&#39;an dan Sunnah yang menjelaskan sifat &#39;Uluw (bahwa Allah Maha Tinggi dengan Zat-Nya di atas seluruh makhluk).
</p>
<p dir="LTR">
	Maka pada kesempatan kali ini (bagian ketiga dari bahasan tersebut) kita kemukakan perkataan para ulama salaf dari masa ke masa yang menetapkan sifat &#39;Uluw bagi Allah. Agar kita mengtahui bagaimana para ulama salaf dalam memahami ayat dan hadits-hadits tentang sifat &#39;Uluw yang telah kita sebutkan sebahagiannya pada pembahasan yang lalu. Dimana para generasi Salaf tidak mentakwil nash-nash tersebut menurut akal pikiran mereka semata. Akan tetapi mereka mengimani sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang terdapat dalam Al Qur&#39;an dan Sunnah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk.
</p>
<p dir="LTR">
	Karena keterbatasan waktu dan begitu banyaknya perkataan mereka yang berkenaan sifat &#39;Uluw, maka penulis hanya menyebutkan sebahagian kecil dari perkatan mereka yang berkenaan dengan sifat &#39;Uluw tersebut.
</p>
<p dir="LTR">
	Perkataan mereka tersebut akan kita susun berdasarkan tingkatan masa secara umum, kemudian dari setiap masa kita dahulukan yang lebih tua atau yang lebih mulia.
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>&nbsp;</strong>
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>Perkataan Para Sahabat</strong>
</p>
<p dir="LTR">
	Para sahabat adalah generasi yang beriman dan berjumpa dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam serta meninggal dalam keadaan beriman. Pemahaman dan keyakinan mereka sangat valit kebenarannya karena menrima langsung tentang penjelasan ajaran Islam dari Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Oleh sebab itu kita diperintahkan dalam Al Qur&#39;an dan Sunnah untuk berjalan di atas jalan mereka. Pada kesempatan kali ini kita melacak keyakinan dan perkataan-perkataan mereka tentang penetapan sifat &#39;Uluw bagi Allah. Berikut kita sebutkan ungkapan sebahagian diantara mereka:
</p>
<ol>
<li>
		<strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Abu bakar Shiddiiq Radhiallahu &lsquo;anhu.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن ابن عمر رضي الله عنهما قال لما قبض رسول الله دخل أبو بكر رضي الله عنه عليه فأكب عليه وقبل جبهته وقال بأبي أنت وأمي طبت حيا وميتا وقال: ((من كان يعبد محمدا فإن محمدا قد مات ومن كان يعبد الله فإن الله في السماء حي لا يموت)).
</p>
<p dir="LTR">
	Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu &lsquo;anhu, ia berkata: Tatkala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam wafat, Abu Bakar masuk dan mencium kening Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam lalu berkata: &quot;Aku tebus engkau dengan dengan ayah dan ibuku, sungguh amat baik hidup dam matimu. Barangsiapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah, <em><span style="text-decoration: underline;">sesungguhnya Allah di langit</span></em>, lagi Maha Hidup tidak akan mati&quot;<a href="#_ftn1" title="">[1]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam ungkapan Abu bakar Siddiq Radhiallahu &lsquo;anhu di atas terdapat isyarat dengan jelas bahwa Abu Bakar meyakini bahwa Allah di arah Yang Maha Tinggi di atas langit. Ungkapan ini di dengar oleh para sahabat yang sedang melayat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, namun tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengingkari ungkapan Abu Bakar Radhiallahu &lsquo;anhu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat meyakini hal yang sama dengan apa yang diyakini oleh Abu bakar Radhiallahu &lsquo;anhu. Kalau mereka berbeda pendapat tentu akan terdapat riwayat yang menjelaskannya. Ini adalah sebuah indikasi bahwa para sahabat telah sepakat (ijma&#39;) dalam hal mengimani bahwa Allah di atas langit.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Umar bin Khatab Radhiallahu &lsquo;anhu</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	يروى أن عمر رضي الله عنه &nbsp;لقيته امرأة يقال لها: خولة بنت ثعلبة، وهو يسير مع الناس فاستوقفته فوقف لها، ودنا منها، وأصغى إليها رأسه، حتى قضت حاجتها وانصرفت، فقال له رجل: ياأمير المؤمنين حبست رجالات قريش على هذه العجوز. قال: &quot;ويحك وتدري من هذه؟ قال: لا. قال: هذه امرأة سمع الله شكواها من فوق سبع سموات، هذه خولة بنت ثعلبة، والله لو لم تنصرف عني إلى الليل ماانصرفت عنها حتى تقضي حاجتها إلا أن تحضر صلاة فأصليها ثم أرجع إليها حتى تقضي حاجتها&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Umar bin Khtab Radhiallahu &lsquo;anhu bertemu dangan seorang wanita yang bernama Khaulah binti Tsa&#39;labah. Ketika itu Umar Radhiallahu &lsquo;anhu sedang berjalan bersama para sahabat, ketika wanita tersebut meminta Umar berhenti, maka Umar Radhiallahu &lsquo;anhu berhenti dan menghampirinya serta mendengarkannya dengan seksama, sampai wanita tersebut menyampaikan keperluannya dan pergi. Lalu seseorang berkata kepada Umar Radhiallahu &lsquo;anhu: Wahai Amirul Mukminin! Engkau telah menahan para tokoh Quraisy demi wanita tua tersebut. Umar Radhiallahu &lsquo;anhu menjawab: kenapa engkau! Tahukah kamu siapa wanita tersebut? Ia adalah wanita yang didengar aduannya oleh <em><span style="text-decoration: underline;">Allah dari atas langit yang tujuh</span></em>. Ini adalah Khaulah binti Tsa&#39;labah. Demi Allah! Seandainya ia tidak pergi sampai larut malam, niscaya aku pun tidak akan berpaling darinya samapi ia menyelesaikan keperluannya. Kecuali datang waktu shalat maka aku shalat, kemudian aku akan kembali menemuinya sampai ia menyelasaikan keperluannya&quot;<a href="#_ftn2" title="">[2]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat lain diesbutkan:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن عبد الرحمن بن غنم قال : سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه &nbsp;يقول : &quot;ويل لديان الارض من ديان السماء يوم يلقونه إلا من أمر بالعدل فقضى بالحق ولم يقض على هوى ولا على قرابة ولا على رغبة ولا رهب وجعل كتاب الله مرآة بين عينيه&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Abduraahman bin Ghanim: aku mendengar Umar bin Khatab Radhiallahu &lsquo;anhu&nbsp; berkata; &quot;Kahancuran bagi penguasa bumi dari <em><span style="text-decoration: underline;">Pengasa langit (Allah)</span></em> pada hari ia menjumpai-Nya. Kecuali orang yang menyuruh dengan keadilan dan memberi keputusan dengan kebenaran. Ia tidak memutuskan di atas hawa nafsu, tidak juga diatas hubungan kekeluargaan dan tidak pula kerena mengharab dan takut pada sesuatu. Ia menjadikan kitab Allah sebagai kaca di hadapan dua matanya&quot;<a href="#_ftn3" title="">[3]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat yang lain disebutkan:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	لما قدم عمر رضي الله عنه الشام استقبله الناس وهو على بعيره فقالوا : يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم؟ فقال عمر رضي الله عنه: ألا أريكم ههنا إنما الأمر من ههنا فأشار بيده إلى السماء&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Tatkala Umar Radhiallahu &lsquo;anhu datang dari Syam, para sahabat menyambutnya, lalu mereka berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin seandainya engaku mau mengendarai kereta raja, agar para tokoh dan pemuka masyarakat menyambutmu! Jawab Umar: alangkah baiknya seandainya aku tidak melihat kalian di sini. Sesungguhnya segala urusan dari arah sana, <em><span style="text-decoration: underline;">maka ia menunjuk kearah langit</span></em>&quot;<a href="#_ftn4" title="">[4]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Maksud Umar Radhiallahu &lsquo;anhu adalah bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah yang ada di atas langit. Dua ungkapan Umar bin Khatab Radhiallahu &lsquo;anhu yang diriwatakan di atas juga di ucapkan di hadapan para sahabat, namun tidak ada seorangpun yang membantah ucapan Umar Radhiallahu &lsquo;anhu tersebut. Karena hal itu sudah satu hal yang ma&#39;ruf dan mutlak dalam keimanan mereka.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Usman bin &#39;Affan Radhiallahu &lsquo;anhu:</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="LTR">
	Diriwayatkan behawa Ustman Radhiallahu &lsquo;anhu berkata dalam khutbahnya yang terakhir:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;الحمد لله الذي دنا في علوه وناء في دنوه لا يبلغ شيء مكانه ولا يمتنع عليه شيء أراده&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Segala puji bagi Allah yang dekat dalam <em><span style="text-decoration: underline;">keMahatinggiannya</span></em> dan jauh (tinggi) dalam kedekata-Nya. <em><span style="text-decoration: underline;">Tiada satupun yang sampai kepada tempat-Nya</span></em>. Dan tiada satupun yang mampu menghalangi terhadap sesuatu yang diinginkan-Nya&quot;<a href="#_ftn5" title="">[5]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Kedudukan ungkapan Utsman bin Affan Radhiallahu &lsquo;anhu sama dengan ungkapan Abu Baka dan Umar, ketika ucapan tersebut disampaikan dalam khutbah yang dihadiri oleh seluruh kaum muslim dan para sahabat yang terkemuka. Kalau seandainya Ustman Radhiallahu &lsquo;anhu keliru dalam pernyataanya tentulah akan dibantah oleh para sahabat yang lain. Karena para sahabat tidak pernah mendiamkan sebuah kebatilan apalagi masalah yang amat urgen dalam aqidah.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Abdullah bin Abbbas Radhiallahu &lsquo;anhu.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	أن ابن عباس رضي الله عنه &nbsp;دخل عليها وهي تموت فقال لها: (كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات).
</p>
<p dir="LTR">
	Bahwasanya Ibnu Abbas Radhiallahu &lsquo;anhu datang menyenguk &#39;Aisyah -saat itu &#39;Aisyah dalam keadaan mendekati ajalnya, maka ia berkata kepada &#39;Aisyah: &quot;Engkau adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, ia tidak mencintai kecuali yang baik. Dan Allah menurunkan tentang kesucianmu <em><span style="text-decoration: underline;">dari atas langit yang tujuh</span></em>&quot;<a href="#_ftn6" title="">[6]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat yang lain:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	في قوله تعالى {ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} &quot;قال ابن عباس لم يستطع ان يقول من فوقهم علم أن الله من فوقهم&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam firman Allah: &quot;Kemudian saya (Iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Ibnu Abbas berkata: Ia (Iblis) tidak mampu mengatakan dari atas mereka, karena ia tahu <em><span style="text-decoration: underline;">bahwa Allah berada di atas mereka</span></em>&quot;<a href="#_ftn7" title="">[7]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>&nbsp;Perkataan Ibnu Mas&#39;ud Radhiallahu &lsquo;anhu.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن ابن مسعود رضي الله عنه&nbsp; قال: &quot;الله فوق العرش لا يخفى عليه شيء من أعمالكم&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiallahu &lsquo;anhu, ia berkata: &quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Allah berada di atas &#39;Arasy</span></em>, tidak ada yang tersembunyi atas-Nya sedikitpun dari perbuatan-perbuatan kalian&quot;<a href="#_ftn8" title="">[8]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat lain disebutkan:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال من قال سبحان الله والحمد لله والله أكبر تلقاهن ملك فعرج بهن إلى الله عزوجل فلا يمر بملأ من الملائكة إلا استغفروا لقائلهن&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiallahu &lsquo;anhu, ia berkata: barangsiapa membaca <em>subhaanallah, walhamdulillah, wallahu akbar,</em> malaikat menangkapnya dan membawanya <em><span style="text-decoration: underline;">naik</span></em> <em><span style="text-decoration: underline;">kepada Allah &#39;azza wajalla</span></em> maka tidaklah ia melewati sekelompok malaikat &nbsp;kecuali memohonkan ampun untuk orang yang mengucapkannya&quot;<a href="#_ftn9" title="">[9]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat yang lain disebutkan:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: &quot;ما بين السماء الدنيا والتي تليها خمسمائة عام وبين كل سماء مسيرة خمسمائة عام وبين السماء السابعة وبين الكرسي خمسمائة عام، وبين الكرسي وبين الماء خمسمائة عام، والعرش على الماء والله تعالى فوق العرش، وهو يعلم ما أنتم عليه&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiallahu &lsquo;anhu, ia berkata: &quot;Jarak antara langit dunia denga langit di atasnya lima ratu tahun perjalanan. Jarak antara setiap langit adalah lima ratus tahun perjalanan. Jarak antara langit ke tujuh dengan kursi adalah lima ratus tahun, antara kursi dan dan air lima ratus tahun. &#39;Arasy berada di atas air <em><span style="text-decoration: underline;">dan Allah di atas &#39;Arasy</span></em>, namun Ia mengetahui apa yang kalian lakukan&quot;<a href="#_ftn10" title="">[10]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan &#39;Aisyah <em>radhiallahu &#39;anha</em>.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قالت عائشة رضي الله عنها: &quot;سبحان الذي وسع سمعه الأصوات كان يخفى عليّ بعض&nbsp; كلام المجادلة، وسمعه الرب عز وجل وهو فوق سبع سموات&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata &#39;Aisyah <em>radhiallahu &#39;aha</em>: &quot;Maha Suci Allah yang Maha Mendengar segala suara, tersembunyia atasku sebaghagian perkataan wanita yang bertanya (kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam), <em><span style="text-decoration: underline;">namun Allah mendengarnya dan Ia di atas langit yang tujuh</span></em>&quot;<a href="#_ftn11" title="">[11]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkatan Zainab <em>radhiallahu &#39;anha</em> isteri Nabi </strong><strong>Sallallahu Alaihi Wa Sallam:</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قال أَنس بْن مَالِكٍ رضي الله عنه : كَانَتْ زَيْنََ بِنْتِ جَحْشٍ تَفْخَرُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ تَقُولُ إِنَّ اللَّهَ أَنْكَحَنِى فِى السَّمَاءِ&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Anas Radhiallahu &lsquo;anhu: Zainab binti Jahsy berbangga diatas para isteri Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam yang lain, ia berkata: sesungguhnya <em><span style="text-decoration: underline;">Allah menikahku (dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam) dari langit</span></em>&quot;<a href="#_ftn12" title="">[12]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam lafazh yang lain ia berkata:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot; زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Kalian dinikahkan oleh orang tua kalian masing-masing, sedangkan aku dinikahkan <em><span style="text-decoration: underline;">Allah dari atas langit yang tujuh</span></em>&quot;<a href="#_ftn13" title="">[13]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Malik bin Anas.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن عبد الله بن نافع قال: قال مالك بن أنس رضي الله عنه: الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Abdullah bin Nafi&#39; berkata: berkata Anas bin malik Radhiallahu &lsquo;anhu: &quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Allah di langit</span></em> dan ilmu-Nya di setiap tempat, tidak satupun yang luput dari ilmu-Nya&quot;<a href="#_ftn14" title="">[14]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Abu Zarr Radhiallahu &lsquo;anhu.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن ابن عباس رضي الله عنهما بلغ أبا ذر مبعث النبي صلى الله عليه وسلم فقال لأخيه: &quot;اعلم لي علم هذا الرجل الذي يزعم أنه يأتيه الخبر من السماء&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Dari Ibnu Abbas Radhiallahu &lsquo;anhu, tatkala samapai kepada Abu Zarr Radhiallahu &lsquo;anhu berita tentang diutusnya Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam, ia berkata kepada sudaranya: tolong kamu beritahu aku tentang ilmu laki-laki yang mengaku bahwa ia <em><span style="text-decoration: underline;">mendapat berita dari langit</span></em>&quot;<a href="#_ftn15" title="">[15]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Maksud Abu Zarr Radhiallahu &lsquo;anhu berita dari langit adalah wahyu yang datang dari Allah yang berada di langit.
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>&nbsp;</strong>
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>Perkataan Para Tabi&#39;iin Dan Taabi&#39; Taabi&#39;iin.</strong>
</p>
<p dir="LTR">
	Berikutnya kita sebutkan perkataan para taabi&#39;iin dan taabi&#39; at taabi&#39;iin sebagai bukti bahwa mereka tetap bepegang teguh dengan apa yang dipahami dan diimani oleh para sahabat. Hal tersebut dibuktikan oleh berbagai ungkapan mereka yang sama dan semakna dengan apa yang diucapkan oleh para sahabat. Mereka tidak pernah memutar balikkan pengertian nash-nash yang menerangkan sifat-sifat Allah. Oleh sebab itu mereka termasuk kedalam generasi terbaik umat ini, karena mereka menerima langsung penjelasan tentang ajaran Islam dari generasi yang langsung belajar kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam yaitu para sahabat. Berikut kita sebutkan ungkapan sebahagian diantara mereka:
</p>
<ol>
<li>
		<strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Masruuq.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;كان مسروق اذا حدث عن عائشه رضي الله عنها قال حدثتني الصديقة بنت الصديق حبيبة حبيب الله المبرأة من فوق سبع سموات&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Bila Masruuq meriwayatkan hadits dari &#39;Aisyah <em>radhialhu &#39;anha</em> ia berkata: &quot;Telah menceritakan kepadaku Wanita terjujur anak laki-laki terjujur, kekasih dari kekasih Allah, yang <em><span style="text-decoration: underline;">disucikan dari atas langit yang tujuh</span></em>&quot;<a href="#_ftn16" title="">[16]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Qatadah.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قال قتادة: &quot;قالت بنو إسرائيل يا رب أنت في السماء ونحن في الأرض فكيف لنا أن نعرف رضاك وغضبك قال إذا رضيت عنكم استعملت عليكم خياركم وإذا غضبت عليكم استعملت عليكم شراركم&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata imam Qatadah: orang-orang Bani Istrail berkata: &quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Ya Allah Engkau di langit</span></em>, kami di bumi! Bagaimana kami bisa mengenal keridhaanMu dan kemurkaanMu. Kata Allah: apabila Aku meridhai kalian, akan Aku angkat orang-orang baik diantara kalian sebagai pemimpin. Apbila Aku murka, akan Aku angkat orang-orang buruk diantara kalian sebagai pemimpin&quot;<a href="#_ftn17" title="">[17]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Dhahhaak:</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن الضحاك قال: {مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ} [المجادلة/7] قال: هو الله عز وجل على العرش وعلمه معهم&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Dari Imam Dhahhaak: Allah berfirman: &quot;Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya&quot;. Dhahhaak berkata: &quot;Ia adalah <em><span style="text-decoration: underline;">Allah di atas &#39;Arasy</span></em> dan ilmu-Nya bersama mereka&quot;<a href="#_ftn18" title="">[18]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Muqati bin Hayyan.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن مقاتل بن حيان في قوله تعالى {مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ} قال هو على عرشه وعلمه معهم.
</p>
<p dir="LTR">
	Diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan tentang firman Allah: &quot;Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya&quot;. Muqatil berkata: &quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Ia (Allah) berada di atas &#39;Arasy</span></em> dan ilmu-Nya bersama mereka&quot;<a href="#_ftn19" title="">[19]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat lain:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن مقاتل بلغنا والله أعلم في قوله عز و جل {هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ} الأول قبل كل شيء والآخر بعد كل شيء والظاهر فوق كل شيء والباطن أقرب من كل شيء وإنما يعني القرب بعلمه وقدرته وهو فوق عرشه {وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [الحديد/3]
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Muqatil dismapaikan kepada kami tentang maksud firman Allah: &quot;<em>Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin</em>&quot;. Al Awal adalah sebelum segala sesuatu. Al Akhir adalah setelah segala sesuatu. Azh Zhahir adalah <em><span style="text-decoration: underline;">di atas segala sesuatu</span></em>. Al Baatin adalah dekat dari segala sesuatu, maksudnya adalah dekat dengan ilmu-Nya dan Qutrat-Nya <em><span style="text-decoration: underline;">sedangkan Ia (Allah) di atas &#39;Arasy</span></em>. <em>&quot;Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu&quot;</em><a href="#_ftn20" title="">[20]</a><em>.</em>
</p>
<ol>
<li>
		<strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Auza&#39;i.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن محمد بن كثير قال: سمعت الأوزاعي يقول: كنا والتابعون متوافرون نقول: إن الله تعالى ذكره فوق عرشه، ونؤمن بما وردت السنة به من صفاته جل وعلا&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Muhammad bi Katsiir: aku mendengar Auza&#39;I berkata: &quot;Para Tabi&#39;iin mennyasikkan kami mengatakan: &quot;Sesungguhnya <em><span style="text-decoration: underline;">Allah Yang Maha Tinggi berada di atas &#39;Arasy</span></em>, kami beriman dengan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam sunnah&quot;<a href="#_ftn21" title="">[21]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Abdullah bin Mubaarak.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	كان عبد الله بن المبارك يقول نعرف ربنا بأنه فوق سبع سموات على العرش استوى بائن من خلقه ولا نقول كما قالت الجهمية&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Abdullah bin Mubaarak berkata: &quot;Kita mengenal Robb kita dengan bahwa sesungguhnya <em><span style="text-decoration: underline;">Dia (Allah) di atas langit yang tujuh di atas &#39;Arasy</span></em>, terpisah dari makhluk-Nya. Kita tidak berpendapat sebagaimana pendapat orang-orang Jahmiyah&quot;<a href="#_ftn22" title="">[22]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Sulaiman Attaimy.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن صدقة قال: سمعت سليمان التيمي يقول: (لو سئلت أين الله لقلت في السماء).
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Shadaqah: aku mendengar Sulaiman Attaimy berkata: &quot;Seandainya aku ditanya dimana Allah? Aku katakan: <em><span style="text-decoration: underline;">di langit</span></em>&quot;<a href="#_ftn23" title="">[23]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Abu Hatim Ar Rozy dan Abu Zur&#39;ah Ar Rozy.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عبد الرحمن بن أبي حاتم قال سألت أبي وأبا زرعة رحمهما الله تعالى عن مذهب أهل السنة في أصول الدين وما أدركا عليه العلماء في جميع الأمصار وما يعتقدان من ذلك فقالا : أدركنا العلماء في جميع الأمصار حجازا وعراقا ومصرا وشاما ويمنا فكان من مذهبهم أن الله تبارك وتعالى على عرشه بائن من خلقه كما وصف نفسه بلا كيف أحاط بكل شيء علما ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Abdurrahman bin Abi Hatim: aku bertanya kepada ayahku (Abu hatim) dan Abu Zur&#39;ah tentang pokok-pokok agama menurut mazhab Ahlussunnah dan dan apa yang diketahui oleh para ulama di suruh negeri? Dan apa yang kamu berdua yakini?. Beliau berdua menjawab: kami mendapati para ulama di seluruh nergeri; Hijaz, Iraq, Mesir, Syam, dan Yaman. Maka di antara mazhab mereka adalah (meyakini) <em><span style="text-decoration: underline;">bahwa Allah di atas &#39;Arasy</span></em>, terpisah dari makhluk-Nya. Sebagaimana Allah mensifati diri-Nya, tanpa mempertanyakan tentang bentuk (hakikat sifat tersebut) <a href="#_ftn24" title="">[24]</a>&quot;.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Ishaq Bin Rahuyah.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه/5] أجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Ishaq bin Rahuyah: Allah berfirman: &quot;<em>Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa di atas &#39;Arsy</em>&quot;. Para ulama telah bersepakat bahwa sesungguhnya Allah itu <em><span style="text-decoration: underline;">beristiwaa di atas &#39;Arasy</span></em>. Dan Ia (Allah) mengetahui segala sesuatu di bawah lapis bumi yang ketujuh&quot; <a href="#_ftn25" title="">[25]</a>.
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>Perkataan Para Ulama Mazhab Fiqih Yang Empat </strong>
</p>
<p dir="LTR">
	Berikut ini kita sebutkan pula perkataan para Imam mazhab fiqih yang emapat. Karena begitu banyak orang yang mengaku mengikuti mereka dalam masalah yang berhubungan dengan hukum fiqih akan tetapi mereka tidak mengikutinya dalam masalah aqidah. Sungguh sangat ironis sekali, yang seharusnya jutsru yang lebih penting adalah mengikutinya dalam masalah aqidah, karena aqidah masalah yang paling urgen dalam agama Islam.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Abu hanifah.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="LTR">
	Diriwayatkan bahwa di masa Imam Abu Hanifah ada seorang wanita yang belajar ilmu kalam kepada Jaham pencetus paham Jahmiyah. Lalu wanita tersebut mempengaruhi manusia untuk mengikutinya, sehingga ia memiliki pengekut yang cukup banyak. Lalu wanita tersebut mendatangi Imam Abu hanifah dan berkata kepada Iamam Abu Hanifah: dimana Tuhanmu? Lalu Imam Abu Hanifah menulis jawaban:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;إن الله عزوجل في السماء دون الأرض فقال له رجل أرأيت قول الله عزوجل ( وهو معكم ) قال هو كما تكتب إلى الرجل إني معك وأنت غائب عنه&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Sesungguhnya Allah di langit bukan di bumi. Lalu seorang lakik-laki berkata kepadanya: bagaimana dengan firman Allah: <em>&quot;Ia (Allah) bersamamu&quot;</em> ? jawab Imam Abu Hanifah: maksudnya adalah sebagaimana engkau menulis surat kepada seseorang: sesungguhnya aku bersamamu, sedangkau tidak di sampingnya&quot;<a href="#_ftn26" title="">[26]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Dalam riwayat lain Imam Abu hanifah berkata:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;قال أبو حنيفة: من قال لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقد كفر. وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أو في الأرض. والله تعالى يدعى من أعلى لا من أسفل&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Berkata Imam Abu hanifah: &quot;barangsiapa yang berkata: aku tidak tahu tentang Tuhanku apakah Ia di langit atau di bumi! Maka sesungguhnya ia telah kafir. Demikian pula orang yang berkata: bahwa Ia di atas &#39;Arasy, namun aku tidak tahu apakah &#39;Arasy itu di langit atau di bumi. Memohon kepada Allah kearah atas, tidak memohon kearah bawah&quot;<a href="#_ftn27" title="">[27]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Maksud dari ungkapan Imam Abu hanifah di atas adalah bila ada orang yang tidak mengetahui bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Demikian pula orang yang tidak mengatahui tentang posisi &#39;Arasy sebagai makhluk yang tertinggi, karena hal tersebut berhubungan dengan mengimani sifat <em>Istiwaa</em> bagi Allah di atas &#39;Arasy.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Malik.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	عن عبد الله بن نافع قال: قال مالك بن أنس رحمه الله : &laquo; الله عز وجل في السماء ، وعلمه في كل مكان ، لا يخلو من علمه مكان &raquo;
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Abdullah bin nafi&#39;: Imam Malik berkata: <em><span style="text-decoration: underline;">&quot;Allah &#39;azza wajalla di langit</span></em> dan ilmu-Nya di setiap tempat, tiada satu tempatpun yang luput dari ilmu-Nya&quot;<a href="#_ftn28" title="">[28]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Syafi&#39;i.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قال الإمام محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى: &quot;القول في السنة التي أنا عليها ورأيت عليها الذين رأيتهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وينـزل إلى السماء الدنيا كيف شاء&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Imam Syafi&#39;i: &quot;Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya dan aku lihat di atasnya orang-orang aku jumpai seperti Sufyan, Malik dan lainnya; mengakui persaksian bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan bahwa sesungguhnya Allah di atas &#39;Arasy di atas langit. Ia mendekati hamba-Nya sesuai cara yang Ia kehendaki dan ia turun kelangit dunia sesuai cara yang Ia kehendaki&quot;<a href="#_ftn29" title="">[29]</a>.
</p>
<ol>
<li>
		<strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Perkataan Imam Ahmad bin Hambal.</strong>
	</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	قال يوسف بن موسى البغدادي: قيل لأبي عبد الله أحمد بن حنبل: &laquo;الله عز وجل، فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه في كل مكان؟. قال: نعم على العرش، وعلمه لا يخلو منه مكان&raquo;
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Yusuf bin Musa: dikatakan kepada Imam Ahmad: &quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Allah di atas langit yang ketujuh di atas &#39;Arasy-Nya</span></em>, terpisah dari makhluk-Nya. Qudrat dan ilmu-Nya di setiap tempat? Jawab Imam Ahmad: <em><span style="text-decoration: underline;">Ya di atas &#39;Arasy</span></em>, dan ilmu-Nya tidak satupun tempat yang tersembunyi darinya&quot;<a href="#_ftn30" title="">[30]</a>.
</p>
<p align="center" dir="LTR">
	<strong>Perkataan Abul Hasan Al Asy&#39;ary</strong>
</p>
<p dir="LTR">
	Terakhir kita kemukan pandangan Abu hasan Al Asy&#39;ary, sebagai hujjah atas orang-orang Asy &#39;ariyah yang mengaku mengikuti aqidahnya. Imam Abul Hasan Al Asy&#39;ary berulang kali menegaskan dalam berbagai karya beliau tentang maslah ini. Dimana beliau meyakini bahwa Allah beristiwaa di &#39;Arasy di atas langit yang ketujuh. Berbeda dengan golongan Asy &#39;Ariyah, kelompok yang menisbahkan diri kepada beliau, dimana mereka meyakini bahwa Allah berada di mana-mana dengan Zat-Nya, bercampur baur dengan makhluk. Sesungguhnya apa yang mereka nisbahakan kepada Abul hasan Al Asy&#39;ary adalah sebuah kedustaan dan kebohongan demi menutupi kesesatan yang mereka yakini.
</p>
<p dir="LTR">
	Berkata Imam Abul Hasan Al &#39;Asy&#39;ary dalam kitabnya &quot;<em>Risalah Ila Ahli Tsaghar</em>&quot;<a href="#_ftn31" title="">[31]</a>:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;وأنه تعالى فوق سمواته على عرشه دون أرضه وقد دل على ذلك بقوله {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ} [الملك/16] وقال {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر/10]&quot;
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;<em><span style="text-decoration: underline;">Bahwa sesungguhnya Allah ta&#39;ala dai atas segala langit di atas &#39;Arasy</span></em>, bukan di bumi. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh firman Allah: &quot;<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu</em>&quot;. Dan firman-Nya: <em>&quot;Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baikdan amal yang saleh dinaikkan-Nya&quot;</em>.
</p>
<p dir="LTR">
	Kemudian beliau menjelaskan pula dalam kitab beliau &quot;<em>Maqaalaat Islamiyiin</em><a href="#_ftn32" title="">[32]</a>&quot; tentang perkataan Ahli hadits dan Ahlussunnah:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&quot;جملة ما عليه أهل الحديث والسنة والاقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وما جاء من عند الله وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم &#8230; وأن الله سبحانه على عرشه كما قال &quot;الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه/5]&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Pokok-pokok keyakinan Ahlul Hadits dan Sunnah, yaitu; beriman dengan Allah, kepada para malaikat, kitab-kitab suci, kepada para rasul, dan segala apa yang datang dari Allah serta apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang tsiqoh (terpercaya) dari Raulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam &hellip;dan bahwa sesungguhnya Allah di atas &#39;Arasy sebgaimana firman-Nya: &quot;<em>Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa di atas &#39;Arsy&quot;.</em>
</p>
<p dir="LTR">
	Sebahagian orang mencoba mengingkari perkataannya tersebut dari Imam Abul Hasan Al Asy&#39;ary pada hal Ibnu &#39;Asaakir menukil perkataan yang sama dalam kitabnya &quot;Tabyiin Kazbil Muftary<a href="#_ftn33" title="">[33]</a>&quot;. Disini Ibnu &#39;Asakir ingin membutikan kedustaan orang yang berbuat bohong atas nama Abul Hasan Al Asy&#39;ary.
</p>
<p dir="LTR">
	Demikian pula beliau nyatakan dalam kitab beliau &quot;<em>Al Ibaanah</em>&quot; yang sebahagian besar kandungannya di nukil oleh Ibnu &#39;Asakir dalam kitabnya &quot;Tabyiin Kazbil Muftary<a href="#_ftn34" title="">[34]</a>&quot; termasuk bagian yang menyatakan tentang masalah Istiwaa Allah di atas &#39;Arasy. Bahkan dalam kitab &quot;Al Ibaanah&quot; beliau kemukakan dalil-dalil tentang Istiwaa dan &#39;Uluw yang lebih banyak lagi. Berikut ini nukilan dari kitab &quot;Al Ibaanah&quot;<a href="#_ftn35" title="">[35]</a>:
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	((الباب السابع ذكر الاستواء على العرش)) إن قال قائل: ما تقولون في الاستواء ؟ قيل له: نقول: إن الله عز و جل يستوي على عرشه استواء يليق به كما قال: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه/5] وقد قال تعالى : {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر/10] وقال تعالى : {بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ} [النساء/158] وقال تعالى : {يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ} [السجدة/5] وقال تعالى حاكيا عن فرعون لعنه الله : {يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر/36، 37] كذّب [فرعون نبي الله] موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات.
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	وقال تعالى : {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ} [الملك/16]
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	&nbsp;فالسماوات فوقها العرش فلما كان العرش فوق السماوات قال : {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} لأنه مستو على العرش الذي فوق السماوات وكل ما علا فهو سماء والعرش أعلى السماوات وليس إذا قال: {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} يعني جميع السماوات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السماوات &#8230;
</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">
	ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم إذا دعوا نحو السماء لأن الله تعالى مستو على العرش الذي هو فوق السماوات فلولا أن الله عز و جل على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش، كما لا يحطونها إذا دعوا إلى الأرض.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Bab Yang Ketujuh: Penjelasan Istiwaa di atas &#39;Arasy.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Jika ada yang bertanya: bagaimana pendapat kamu tentang Istiwaa? Jawaban untuknya: Sesungguhnya Allah beristiwaa di atas &#39;Arasy, yaitu Istiwaa yang sesuai dengan (keagungan)-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: &quot;<em>Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa di atas &#39;Arsy&quot;.</em> Dan firman-Nya: <em>&quot;Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baikdan amal yang saleh dinaikkan-Nya&quot;</em>. Dan firman-Nya: &quot;Tetapi <em>(yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya</em>&quot;. Dan firman-Nya: &quot;<em>Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya</em>&quot;. Dan Allah menceritakan tentang Fir&#39;aun: &quot;<em>Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta</em>&quot;. Fir&#39;aun ingin tidak mempercayai nabi Allah Musa u dalam ungkapannya: sesungguhnya Allah di atas seluruh langit.
</p>
<p dir="LTR">
	Allah berfirman: &quot;<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu</em>&quot;.
</p>
<p dir="LTR">
	Di atas semua langit adalah &#39;Arasy. Tatkala &#39;Arasy di atas semua langit, Allah berfirman: &quot;<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit</em>&quot;. Karena Allah beristiwaa di atas &#39;Arasy yang di atas semua langit. Setiap arah yang tinggi disebut langit, &#39;Arasy adalah langit yang paling tinggi. Bukalah maksud dari firman Allah: &quot;<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit&quot;. </em>Yaitu semua langit, akan tetapi maksud-Nya adalah &#39;Arasy yang lebih tinggi di atas semua langit&hellip;
</p>
<p dir="LTR">
	Dan kita juga menyasikan seluruh kaum muslimin mengangkat tanganya apabila berdo&#39;a ke arah langit, karena Allah beristiwaa di atas &#39;Arasy yang di atas seluruh langit. Jika seandanya Allah tidak di atas &#39;Arasy niscaya mereka tidak akan mengakat tangannya ke arah &#39;Arasy. demikian pula mereka tidak pernah ketika mereka berdo&#39;a meletakkan tangannya ke bumi.
</p>
<p dir="LTR">
	Apakah orang-orang Asya&#39;irah akan tetap memilih kesombongan dari pada mengikuti petunjuk yang telah jelas bagaikan matahari disiang bolong!
</p>
<p dir="LTR">
	Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &laquo;الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ &raquo;. رواه مسلم.
</p>
<p dir="LTR">
	&quot;Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain&quot;<a href="#_ftn36" title="">[36]</a>.
</p>
<p dir="LTR">
	Ya Allah berilah petunjuk siapa saja dianatara kami yang tergelincir dari kebenaran. Sesungguhnya Engakau menunjukki siapa yang Engkau kehendaki dan menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki.
</p>
<div>
	&nbsp;
</div>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref1" title="">[1]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Itsbat shifatil &#39;Uluw&quot;/Ibnu Qudamah: 148, dan &quot;Ijtimaa&#39; Al Juyusy Al Islamiyah/Ibnul Qoyyim: 118.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref2" title="">[2]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Itsbat shifatil &#39;Uluw&quot;/Ibnu Qudamah: 149, dan &quot;Ijtimaa&#39; Al Juyusy Al Islamiyah/Ibnul Qoyyim: 120.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref3" title="">[3]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al&#39;Uluw&quot;/Dzahaby, hal: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref4" title="">[4]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref5" title="">[5]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Ar Raddu &#39;Allal Jahmiyah&quot;/Daarimiy: 58.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref6" title="">[6]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref7" title="">[7]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Itsbat shifatil &#39;Uluw&quot;/Ibnu Qudamah: 106, dan &quot;Ijtimaa&#39; Al Juyusy Al Islamiyah/Ibnul Qoyyim: 124.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref8" title="">[8]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref9" title="">[9]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 79.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref10" title="">[10]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Ar raddu &#39;Alal Jahmiyah&quot;/Darimy: 55, dan &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 45.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref11" title="">[11]</a> &nbsp;Lihat: &quot;kitab Tauhid&quot;/Ibnu Khuzaimah: 1/107, dan &quot;Al Hujjah&quot;/ Al Ashfahaany: 1/198.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref12" title="">[12]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Shahih Bukhari&quot;: 6/2700.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref13" title="">[13]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Shahih Bukhari&quot;: 6/2699.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref14" title="">[14]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref15" title="">[15]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Sahih Bukhary&quot;: 6/2701.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref16" title="">[16]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Itsbat Shifatil &#39;Uluw&quot;/Ibnu Qudamah: 110, dan &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 121-122.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref17" title="">[17]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Ar Raddu &#39;Alal Jahmiyah/Darimy: 59, dan &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref18" title="">[18]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al Asmaa was Shifaat/Baihaqy: 2/447 .
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref19" title="">[19]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75 .
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref20" title="">[20]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al Asmaa was Shifaat&quot;/Baihaqy: 2/342 .
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref21" title="">[21]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al Asmaa was Shifaat/Baihaqy: 2/408 .
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref22" title="">[22]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Ar Raddu &#39;Al jahmiyah&quot;/Darimy: 47, dan &quot;Al Asmaa was Shifaat/Baihaqy: 2/440.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref23" title="">[23]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref24" title="">[24]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref25" title="">[25]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 179.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref26" title="">[26]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 134, dan &quot;Al Asmaa was Shifaat&quot;/Baihaqy: 2/442.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref27" title="">[27]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Al Fiqhul Akbar&quot;/Abu HAnifah: 135.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref28" title="">[28]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Asy Syari&#39;ah&quot;/ Al Ajurry, no (651), (652), dan &quot;Syarah Ushul I&#39;tiqaad&quot;/ Al Laa lakaai, no (516).
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref29" title="">[29]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Istbat Sifatil &#39;Uluw&quot;/ Ibnu Qudamah: 124, dan &quot;Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 165.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref30" title="">[30]</a> &nbsp;Lihat: &quot;Mukhtashar Al &#39;Uluw&quot;/Dzahaby: 75, dan &quot;Syarah Ushul I&#39;tiqaad&quot;/ Al Laa lakaai, no (517).
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref31" title="">[31]</a> &nbsp;Lihat: Hal: 130.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref32" title="">[32]</a> &nbsp;Lihat: Hal: 345.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref33" title="">[33]</a> &nbsp;Lihat: Hal: 158.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref34" title="">[34]</a> &nbsp;Lihat: Hal: 158.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref35" title="">[35]</a> &nbsp;Lihat: Hal: 97-98.
	</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR">
		<a href="#_ftnref36" title="">[36]</a> &nbsp;HR. Muslim no (275).
	</p>
</div>
<p>
	&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Allah (Bagian ke-2)</title>
		<link>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-2/</link>
		<comments>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2012 03:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Dalil-dalil dari Sunnah yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA Pada bagian pertma dari bahasan ini telah kita sebutkan sebahagian dari ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang menegaskan bahwa Allah bersifat &#8216;Uluw (Maha Tinggi) di atas segala makhluk. Maka pada bagian kedua dari lanjutan bahasan ini kita kemukakan dalil-dalil dari Sunnah (hadits-hadits) ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><em><span style="text-decoration: underline;">Dalil-dalil dari Sunnah yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah </span></em></p>
<p dir="LTR" align="center">Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA</p>
<p dir="LTR">Pada bagian pertma dari bahasan ini telah kita sebutkan sebahagian dari ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang menegaskan bahwa Allah bersifat &#8216;Uluw (Maha Tinggi) di atas segala makhluk. Maka pada bagian kedua dari lanjutan bahasan ini kita kemukakan dalil-dalil dari Sunnah (hadits-hadits) yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah<strong>.</strong> Karena keterbatasan waktu dan begitu banyaknya hadist-hsdits yang berkenaan sifat &#8216;Uluw, maka penulis hanya menyebutkan sebahagian kecil dari hadits-haditst yang berkenaan dengan sifat &#8216;Uluw tersebut.</p>
<p dir="LTR">Hadits-hadits tersebut akan kita susun berdasarkan bentuk-bentuk redaksinya dalam menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah. Kemudian pada setiap macam dari redaksi tersebut kita sebutkan satu hadits atau paling banyak tiga hadits saja jika hal tersebut diperlukan.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi pertama</strong>: Bahwa manusia mengangkat dan membuka dua telapak tangannya ke arah atas ketika berdo’a kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada pada arah atas.</p>
<p dir="LTR">Seperti disebutkan dalam hadits berikut ini:</p>
<p dir="RTL">«ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».</p>
<p dir="LTR"><em>“Kemudian ia menyebutkan seorang laki-laki yang telah melakukan perjalanan yang jauh, rambutnya kusut, badanya berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah langit (sambil berdo’a): Ya Robb, Ya Robb. Sedangakan makananya harm, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia dibesarkan dengan yang haram, dimana Allah akan mengabulkan do’anya”<sup class='footnote'><a href='#fn-654-1' id='fnref-654-1' onclick='return fdfootnote_show(654)'>1</a></sup>.</em></p>
<p dir="LTR">Dalam hadits lain disebutkan:</p>
<p dir="RTL">«إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا».</p>
<p dir="LTR"><em>“Sesungguhnya Robba kalian adalah Maha Malu lagi Maha Pemberi, Ia malu dari hambaNya apa bila mengangkat dua tangannya kepadaNya, ia kembalikan dalam keadaan kosong”<sup class='footnote'><a href='#fn-654-2' id='fnref-654-2' onclick='return fdfootnote_show(654)'>2</a></sup></em><em>.</em></p>
<p dir="LTR">Hadits yang menerangkan tentang mengangkat tangan ketika berdo&#8217;a sangat banyak sekali. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa mengangkat tangan adalah termasuk adab-adab dalam berdo&#8217;a dan merupakan salah satu sebab untuk dikabulkannya do&#8217;a.</p>
<p dir="LTR">Berkata imam Shan&#8217;any: &#8220;Sungguh telah diakui tentang mengangkat tangan ketika berdo&#8217;a dalam beberapa hadits, imam Munziry telah mengumpulkannya dalam sebuah karya tulis. Berkata imam Nawawy: aku telah mengumpulakan dalamnya sekitar tiga puluh hadits dari dua kita shohih (Buhkari dan Muslim) atau salah satu keduanya. Ia (imam Nawawy) telah menyebutkannya di akhir bab sifat shalat dalam syarah Muhazzab&#8221;<sup class='footnote'><a href='#fn-654-3' id='fnref-654-3' onclick='return fdfootnote_show(654)'>3</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Di syari&#8217;atkannya mengangkat ke arah ke atas adalah karena Zat yang tempat kita meminta berada di atas kita. Hal ini dirasakan oleh setiap orang yang sedang berdo&#8217;a dalam sanubarinya. Artinya gerakan tangan mengikuti apa yang dikatakan hati kita. Oleh sebab itu imam Juwaini ketika ditanya oleh salah seorang yang menghadiri majlisnya: bagaimana cara melawan kondisi hati ketika saat berdo&#8217;a selalu meminta kearah atas? Imam Juwaini tidak bisa menjawabnya dan ia turun dari kursinya sambil memukul-mukul kepalanya lalu berkata: aku dibingungkan oleh Hamadani, aku dibingungkan oleh Hamadani (nama penanya tsb)<sup class='footnote'><a href='#fn-654-4' id='fnref-654-4' onclick='return fdfootnote_show(654)'>4</a></sup>.</p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kedua</strong>: Rasulullah r menyebutkan dalam sabdanya bahwa para malaikat yang mencatat amalan manusia ditanya Allah ketika mereka telah naik kelangit. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas lengit. Sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">« يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ ».</p>
<p dir="LTR"><em>“Saling bergantian di tengah-tengah kalian malaikat yang bertugas di waktu malam dan malaikat yang bertugas di wakti siang. Dan mereka bertemu di waktu shalat asar dan di waktu shalat subuh. Kemudian mereka yang telah bertugas<span style="text-decoration: underline;"> naik (kelangit), lalu Robb mereka bertanya kepada mereka</span> –dan Ia lebih tahu tentang hal keadaan mereka- bagaimana keadaan hambaku saat kalian tinggalkan? Para malaikat tersebut menjawab: kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat dan kami temui mereka dalam keadaan sedang shalat juga”</em><sup class='footnote'><a href='#fn-654-5' id='fnref-654-5' onclick='return fdfootnote_show(654)'>5</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Dalam hadits yang lain, yaitu tentang para malaikat yang menghadiri majlis zikir, setelah mereka selesai mereka naik kelangit lalu Allah bertanya kepada mereka, hal ini juga menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:</p>
<p dir="RTL">«فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ &#8211; قَالَ &#8211; فَيَسْأَلُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِى الأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ».</p>
<p dir="LTR"><em>“Apbila mereka telah selesai<span style="text-decoration: underline;">, mereka naik kelangit. Maka Allah bertanya kepada mereka</span> –dan Ia lebih tahu tentang keadaan mereka- dari mana kalian datang? Para malaikat tersebut menjawab: kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi, mereka bertasbih , bertakbir, bertahmid dan berdo’a kepada-Mu”</em><sup class='footnote'><a href='#fn-654-6' id='fnref-654-6' onclick='return fdfootnote_show(654)'>6</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Hal ini sudah diyakini oleh setiap muslim bahwa para malaikat yang mencatat amalan manusia naik ke langit setiap pagi dan sore untuk melaporkan amalan manusia kepada Allah. Kalau seandainya Allah berada di setiap tempat, tentulah malaikat melaporkannya di mana saja tidak perlu harus naik kelangit untuk melaporkannya kepada Allah.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi ketiga:</strong> Rasulullah r menyebutkan bahwa Allah-lah yang menurunkan kitab-kitab suci kepada para rasul-Nya, kemudian Rasulullah menfsirkan nama Allah “Azh Zhohir” bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">«اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَىْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ».</p>
<p dir="LTR">“<em>Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Pemilik ‘Arasy yang agung, Rabb kami dan Robb segala sesuatu, Yang membelah bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan (Al Qur’an). Aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pertama tiada sesuatupun sebelum Engkau, Engkaulah Yang Maha Terakhir tiada sesuatupun setelah Engkau, Engkaulah Yang Maha Zhohir tiada sesuatupun di atas Engkau, Engkaulah Yang Maha batin tiada sesuatupun yang lebih tersenbunyi dari-Mu, bebaskahlah kami dari hutang dan jauhkanlah kami dari kefakiran</em>”<sup class='footnote'><a href='#fn-654-7' id='fnref-654-7' onclick='return fdfootnote_show(654)'>7</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Dalam hadits di atas terdapat pernyataan bahwa kitab suci; Taurat, Injil dan Al Qur’an diturnkan oleh Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk. Karena kalau Allah berada di setiap temapt dengan Zat-Nya tentu penggunaan kata menurunkan tidak tepat sama sekali.</p>
<p dir="LTR">Kemudian dalam hadits tersebu t terdapat penjelasan Rasulullah r tentang makna nama Allah “<em>Azh Zhohir</em>” yaitu: <em>Engkaulah Yang Maha Zhohir tiada sesuatupun di atas Engkau.</em> Hal ini menunjukkan bahwa bahwa Allah berada di tempat yang Maha Tinggi di atas seluruh makhluk, tiada satupun yang lebih tinggi dari Allah.</p>
<p dir="LTR">Kalau seandainya Allah berada di setiap tempat dengan Zat-Nya, tentu ada yang lebih tinggi dari Allah, dan Allah berada di anatara, atau di dalam, atau di bawah sebahagian makhluk! Hal ini tidak diragukan lagi kebatilannya.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi keempat:</strong> Bahwasanya para malaikat berbaris rapi di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">«أَلاَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ. قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ « يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِى الصَّفِّ».</p>
<p dir="LTR"><em>“Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di sisi Robb mereka. Para sahabat bertanya; bagaimana para malaikat berbaris di sisi Robb mereka? Jawab beliau: mereka menyempurnakan shaf yang terdepan dan merepatkan shaf”</em> <sup class='footnote'><a href='#fn-654-8' id='fnref-654-8' onclick='return fdfootnote_show(654)'>8</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Sudah dimaklumi oleh stiap muslim yang mengetahui tentang ajaran Islam bahwa para malaikat tersebut berbaris adalah di langit. Tentu sudah sangat dipahami jika mereka berbaris di sisi Allah, bahwa Allah itu berada di atas langit. Kalau Allah berada dimana-mana tentu manusia pun bisa disebut berbaris di sisi Allah, maka hal ini menafikan makna hadits tersebut yang menunjukkan tentang keistimewaan para malaikat.</p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kelima:</strong> menggunakan kata-kata <strong><em>di langit</em></strong> untuk menyatakan tentang Allah. Sebagaiamana sabda Rasulullah r berikut ini:</p>
<p dir="LTR">Hadits Pertama:</p>
<p dir="RTL">«أَلاَ تَأْمَنُونِى وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِى السَّمَاءِ يَأْتِينِى خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً».</p>
<p dir="LTR"><em>“Apakah engkau tidak mempercayai aku! (sedangkan Aku) <span style="text-decoration: underline;">kepercayaan siapa yang di langit (Allah)</span>. </em><em>Datang kepadaku berita langit setiap pagi dan sore”<sup class='footnote'><a href='#fn-654-9' id='fnref-654-9' onclick='return fdfootnote_show(654)'>9</a></sup>.</em></p>
<p dir="LTR">Hadits kedua:</p>
<p dir="RTL">«ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ».</p>
<p dir="LTR"><em>”Sangilah siapa yang di bumi niscaya kalian akan dirahmati <span style="text-decoration: underline;">oleh siapa yang di langit (Allah)</span>”</em> <sup class='footnote'><a href='#fn-654-10' id='fnref-654-10' onclick='return fdfootnote_show(654)'>10</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Hadits ketiga:</p>
<p dir="RTL">« وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِى فِى السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا ».</p>
<p dir="LTR"><em>”Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah seorang suami yang mengajak isterinya ketempat tidur lalu iterinya enggan, <span style="text-decoration: underline;">kecuali Yang di langit (Allah)</span> marah kepada sang isteri sampai sang suami redha terhadapnya”</em> <sup class='footnote'><a href='#fn-654-11' id='fnref-654-11' onclick='return fdfootnote_show(654)'>11</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Telah dijelaskan pada bagian pertama tulisan ini bahwa<strong> </strong>maksud dari ungkapan bahwa <em>Allah berada di atas langit</em> bukan berarti bahwa langit bersentuhan dengan Allah. Sebagaimana ungkapan kita <em>bahwa langit di atas bumi</em> bukan berarti bahwa langit menepel ke bumi, akan tetapi keduanya memiliki jarak ratusan juta ribu mil. Jika demikian halnya maka tidak ada kontradiksi antara ayat yang menyebut Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arasy dengan ayat yang menyebutkan Allah di atas langit. Karena &#8216;Arasy berada di atas langit sekalipun jarak anatara langit dan &#8216;Arasy sangat jauh sekali.</p>
<p dir="LTR">Karena itu huruf <strong><em>Fii </em></strong>dalam lafaz hadits-hadits di atas diartikan dengan huruf <strong><em>&#8216;alla<sup class='footnote'><a href='#fn-654-12' id='fnref-654-12' onclick='return fdfootnote_show(654)'>12</a></sup>.</em></strong></p>
<p dir="LTR">Hal ini sangat jelas dalam hadits yang kedua: <em>”Sangilah siapa yang di bumi”</em>. Maksudnya adalah makhluk yang di muka bumi, bukan makhluk yang adalam perut bumi.</p>
<p dir="LTR">Namun bila huruf <strong><em>Fii</em></strong> tetap pada maknannya yang asli (pada), maka langit dalam ayat di atas bermakna <em>arah yang tinggi</em>. Karena dalam bahasa Arab stiap arah yang tinggi boleh disebut langit<sup class='footnote'><a href='#fn-654-13' id='fnref-654-13' onclick='return fdfootnote_show(654)'>13</a></sup>.</p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi Keenam</strong>: Rasulullah r menggunakan redaksi pertanyaan dengan kata: أَيْنَ (dimana?).</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana terdapat dalam hadits berikut ini, ketika Rasulullah r menguji keimanan seorang budak perembuan yang hendak dimerdekan oleh tuannya:</p>
<p dir="RTL">فَقَالَ لَهَا « أَيْنَ اللَّهُ ». قَالَتْ فِى السَّمَاءِ. قَالَ « مَنْ أَنَا ». قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ « أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».</p>
<p dir="LTR"><em>Rasulullah </em><em>r</em><em> bertanya kepadanya (budak wanita): dimana Allah? Ia menjawab: <span style="text-decoration: underline;">di langit</span>. Lalu beliau bertanya lagi: siapa saya? Ia menjawab: engkau adalah rasulullah (utusan Allah). Beliau bersbada: merdekakanlah dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman”</em> <sup class='footnote'><a href='#fn-654-14' id='fnref-654-14' onclick='return fdfootnote_show(654)'>14</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Dalam hadits ini terdapat tiga sisi yang menunjukkan tentang sifat &#8216;Uluw bagi Allah:</p>
<p dir="LTR">      Sisi pertama: Rasululla menggunaka huruf <em>istifham</em> (mengemukan pertanyaan) dengan kata أَيْنَ (dimana?). Pertanyaan tersebut digunakan untuk menanyakan tempat, yang tidak mungkin ditakwil dengan makna-makna lain. Hal ini kesepakatan seluruh pakar bahasa.</p>
<p dir="LTR">      Sisi kedua: Jawaban budak siperempuan dengan kata-kata yang tegas dan jelas: <em>Ia menjawab: <span style="text-decoration: underline;">di langit</span>.</em> Dan jawaban tersebut tidak disanggah sedikitpun oleh Rasulullah r. Kalau senadainya jawaban tersebut salah, tidak mungkin Rasulullah r diam terhadap kesalahan yang cukup fatal. Rasulullah r tidak pernah metoleril sebuah kesalahan dalam urusah agama apalagi masalah aqidah.</p>
<p dir="LTR">      Sisi ketiga: Rasululull r memberikan penilaian terhadap jawaban budak perempuan tersebut dengan mengatakan: <em>&#8220;Merdekakanlah dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman”</em>.</p>
<p dir="LTR">Hal ini menunjukkan bahwa jawaban budak perempuan tersebut sebagai bukti atas keimanannya. Seandainya budak tersebut menjawab bahwa Allah dimana-mana, tentulah ia akan dianggap belum beriman. Suatu hal yang sangat mengherankan pertanyaan yang bisa dijawab oleh sorang budak perempuan di zaman Rasulullah r tidak bisa jawab oleh sebahagian profesor di zaman moderen ini. Dan yang lebih fata lagi adalah menyalahakan jawaban tersebut, dan menghukum orang-orang yang setuju dengan jawaban tersebut sebagai golongan sesat.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi ketujuh:</strong> Rasulullah r menyebutkan dalam sbadanya nama Allah <strong><em>&#8220;Al &#8216;Aliyyu&#8221;</em></strong>, yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi secara mutlak, baik dari segi kedudukan, kekuasaan maupun zat. Sebagaimana sabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">))إذا قضى الله في السماء أمرا ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانا لقوله كأنه سلسلة على صفوان فإذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم ؟ قالوا الحق وهو العلي الكبير((.</p>
<p dir="LTR"><em>“Apabila memutuskan suatu perkara <span style="text-decoration: underline;">di langit</span>, para malaikat meletakan sayab-sayab mereka dengan penuh tunduk untuk mendengarkan perkataan Allah, (bunyinya) seakan-akan suara rantai di atas batu. Apabila rasa takut telah hilang dari hati mereka, (sebahagian) mereka berkata: Apa yang wahyukan oleh Rabb kalian? (sebahagian) Mereka mejawab: Al Haq (kebenaran) dan Dia adalah <span style="text-decoration: underline;">Maha Tinggi</span> lagi Maha Besar</em>” <sup class='footnote'><a href='#fn-654-15' id='fnref-654-15' onclick='return fdfootnote_show(654)'>15</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Dalam hadits lain:</p>
<p dir="RTL">عن ابن عباس t: ((أن نبي الله r كان يدعو عند الكرب لا إله إلا الله العلي الحليم …))</p>
<p dir="LTR"><em>“Dari Ibnu Abbas </em><em>t bahwa Nabi Allah </em><em>r berdo’a ketika dalam kesulitan: “Tiada yang berhak disembah kecuali Allah <span style="text-decoration: underline;">Yang Maha Tinggi</span> lagi Maha Lembut ….</em>”<sup class='footnote'><a href='#fn-654-16' id='fnref-654-16' onclick='return fdfootnote_show(654)'>16</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Nama  Allah <strong><em>&#8220;Al &#8216;Aliyyu&#8221;</em></strong>,<strong> tidak oleh dibatasi maknanya pada dua sisi saja; yaitu sisi Qadar (kemulian) dan sisi Al Qohar (kekuasaan), akan tetapi mencakup dalam sisi Zat, yaitu bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk. Karena Zat Allah tidak bersentuhan atau tidak bercampur dengan zat makhluk.</strong></p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kedelapan</strong>: Rasulullah r mengarahkan telunjuknya kearah langit ketika memohon persaksian Allah atas jawaban para sahabat terhadap pertanyan yang beliau lontarkan kepada mereka. Sebagaimana dalam hadits berikut ini:</p>
<p dir="RTL">«وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ « اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.</p>
<p dir="LTR"><em>”Kalian akan ditanya tentangku, apakah yang akan kalian katakan? Jawab parahabat: kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau talah menyampaikan (risalah), telah menunaikan (amanah) dan telah menasehati. Maka ia berkata <span style="text-decoration: underline;">dengan mengangkat jari telunjuk kearah langit</span>, lalu ia balikkan ke manusia: Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, sebanyak 3x”</em> <sup class='footnote'><a href='#fn-654-17' id='fnref-654-17' onclick='return fdfootnote_show(654)'>17</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Hadits ini adalah pukulan telak bagi kelompok <em>hululiyah</em> (golongan yang menyatakan bahwa zat Allah berada di mana-mana atau berada di setiap tempat). Karena hadits ini tidak bisa ditakwil dengan makna-makna yang mereka inginkan. Sebab Rasulullah r mengunakan isyarat dengan telunjuk yang diiringi dengan ucapan: <em>&#8220;Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, sebanyak 3x”</em>. Dengan maksud: Ya Allah yang berada di atas, saksikanlah jawaban umatku ini.</p>
<p dir="LTR">Dalam hadits ini juga terdapat bantahan terhadap orang-orang ahli kalam, yang mengharamkan dan melarang mengarahkan telunjuk ke arah atas langit ketika menyatakan tentang Allah.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kesembilan</strong>: Rasulullah r menyebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Sebagaimana dalam sabda beliau:</p>
<p dir="RTL">« يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ».</p>
<p dir="LTR"><em>”Rabb kita <span style="text-decoration: underline;">kita turun setiap malam</span> ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berkata: barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku akan Aku perkenankan, barangsiapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni”</em><sup class='footnote'><a href='#fn-654-18' id='fnref-654-18' onclick='return fdfootnote_show(654)'>18</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Kata-kata <em>turun</em> dalam seluruh bahasa umat manusia adalah memiliki arti dari tempat yang lebih tinggi ketempat yang lebih rendah. Kalau seandainya Allah berada di mana-mana dengan zat-Nya maka tentu tidak mungkin disebut <em>turun</em>. Karena kalau Allah berada di setiap tempat, tentu termasuk di langit dunia, langit kedua, ketiga dan seterusnya. Tentu bisa pula dikatankan bahwa Allah juga turun kelangit yang kedua, ketiga dan seterusnya. Ini bukti bahwa Allah berada di arah yang paling tinggi dan tidak berada di setiap tempat dengan zat-Nya.</p>
<p dir="LTR">Perlu dipahami disini, bahwa turunnya Allah tidak sama seperti turunnya makhluk. Karena sifat-sifat Allah tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk. Karena bila makhluk turun dari tingkat yang lebih tinggi kepada tingkat yang lebih rendah, maka posisinya berada dibawah tingkat yang lebih tinggi. adapun Allah ketika turun kelangit dunia tidak berarti bahwa ia berada dibawah langit yang kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab Allah senantiasa berada di atas seluruh makhluk walaupun saat turun kelangit dunia, karena sifat Allah tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.</p>
<p dir="LTR">Hadits di atas tidak bisa ditakwil, bahwa yang turun adalah malaikat atau rahmat. Sebab bila ditakwil dengan malaikat atau rahmat, mana mungkin malaikat dan rahmat berkata: &#8220;<em>barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku akan Aku perkenankan, barangsiapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni</em>&#8220;. Kata-kata tersebut tidak mungkin diucapkan oleh siapapun kecuali Allah semata.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kesepuluh</strong>: Rasulullah r menyebutkan dalam sabdanya bahwa amal sholeh diangkat naik kepada Allah. Sebagaimana dalam sabda beliau berikut ini:</p>
<p dir="RTL"> ((من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب ولا يصعد إلى الله إلا الطيب فإن الله يتقبلها بيمينه ثم يربيها لصاحبها كما يربي أحدكم فلوه حتى تكون مثل الجبل)).</p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Barangsiapa yang bersedekah sebesar biji kurma dari usaha yang halal, <span style="text-decoration: underline;">dan tidak akan diangkat naik kepada Allah</span> kecuali yang baik, maka Allah menerimanya dengan tangan kananNya, kemudian Allah memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kudnya, sehingga ia menjadi seprti gunung&#8221;<sup class='footnote'><a href='#fn-654-19' id='fnref-654-19' onclick='return fdfootnote_show(654)'>19</a></sup>.</em></p>
<p dir="LTR">Kata-kata<em> diangkat naik kepada Allah</em> tidak bisa ditakwil dengan <em>diterima</em>, karena setelah itu disebutkan <em>Allah menrimanya dengan tangan kananNya</em>. Kalau kata <em>diangkat naik kepada Allah</em> ditakwil dengan <em>diterima</em>! Hal ini akan memberi cacat pada konteks dan redaksi hadits tersebut. Karena terjadi pengulangan yang tidak ada penambahan dalam makna, hal ini jauh dari kefasihan dalam bahasa Arab. Sedangkan Rasulullah r adalah manusia yang paling fasih dalam bahasa Arab.</p>
<p dir="LTR">Dalam sabda yang lain:</p>
<p dir="RTL">((عن أسامة بن زيد t قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم)). قال الشيخ الألباني : حسن.</p>
<p dir="LTR">Usamah bin Zaid t bertanya kepada Nabi r: Ya Rasulullah aku tidak melihat engkau berpuasa dalam bulan dari bulan-bulan (selain Ramadhan) sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya&#8217;ban? Jawab beliau: <em>&#8220;Bulan itu banyak dilalaikan oleh manusia, (sebab) berada antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Pada hal di bulan itu <span style="text-decoration: underline;">amal-amal diangkat naik kepada Robbul&#8217;alamin</span>. Maka suka ketika amalku diangkat, aku sedang berpuasa&#8221;</em><sup class='footnote'><a href='#fn-654-20' id='fnref-654-20' onclick='return fdfootnote_show(654)'>20</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Dan dalam sabda yang lain:</p>
<p dir="RTL">عن عبد الله بن السائب t : أن رسول الله r كان يصلي أربعا بعد أن تزول الشمس قبل الظهر وقال: ((إنها ساعة تفتح فيها أبواب السماء وأحب أن يصعد لي فيها عمل صالح)). قال الشيخ الألباني : صحيح.</p>
<p dir="LTR"><em>Dari Abdullah bin Saib </em><em>t</em><em> bahwa Rasulullah </em><em>r</em><em> shalat empat rakaat setelah matahari tergelincir sebelum shalat zuhur. Dan beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya ia adalah waktu dibukanya pintu langit, dan aku menyukai amal sholehku <span style="text-decoration: underline;">naik</span> pada saat itu&#8221;</em><sup class='footnote'><a href='#fn-654-21' id='fnref-654-21' onclick='return fdfootnote_show(654)'>21</a></sup>.</p>
<p dir="LTR">Kata-kata <em>naik</em> dalam hadits di atas tidak bisa ditakwil dengan makna <em>diterima</em>, karena ia dibatasi dengan waktu tertentu. Sedangkan diterimanya amal sholeh oleh Allah pada setiap saat, tidak dibatasi dengan waktu tertentu.</p>
<p dir="LTR"><strong>Redaksi kesebelas</strong>: Rasulullah r mengisahkan tentang perjalanan <em>mi’raj</em> beliau mulia dari langit yang pertama sampai naik ke langit yang ketujuh dan terus naik ke Siratul Muntaha, di sana beliau menerima perintah shalat yang lima waktu secara langsung dari Allah (tanpa melalui malaikat Jibril). Ini adalah dalil sangat kuat dan valid yang menyatakan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana terdapat dalam penggalan hadits tersebut:</p>
<p dir="RTL">« ثُمَّ عَرَجَ بِى حَتَّى ظَهَرْتُ لِمُسْتَوًى أَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الأَقْلاَمِ, فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِى خَمْسِينَ صَلاَةً &#8211; قَالَ &#8211; فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى أَمُرَّ بِمُوسَى فَقَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَاذَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ &#8211; قَالَ &#8211; قُلْتُ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ لِى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَرَاجِعْ رَبَّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ &#8230;».</p>
<p dir="LTR"><em>“Kemudian aku <span style="text-decoration: underline;">dibawa naik lagi sampai aku mendengar goresan aqlaam</span> (pena-pena). </em><em>Lalu Allah mewajibkan atas umatku lima puluh shalat. Maka aku kembali sampai aku melewati Musa </em><em>u</em><em>. Ia bertanya apa yang diwajubkan Robbmu atas umatmu? Aku jawab: Ia mewajibkan limu puluh shalat atas mereka. Maka musa berkata: kembaliah kepada Robbmu (mohon keringanan) sesungguhnya umatmu tidak mampu melakukan hal itu</em>&#8230;”. [ 22. HR. Muslim no (433).]
<p dir="LTR">Kisah isra&#8217; dan mi&#8217;raj adalah dalil yang paling valid dalam hal ini, yaitu bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk. Peristiwa mi&#8217;raj adalah merupakan mu&#8217;jizat yang agung bagi Nabi r, ketika beliau dipanggil untuk menerima perintah shalat di tempat yang paling mulia yaitu di Siratulmuntaha di atas langit yang tujuh. Kalau ada yang mengatakan bahwa kedekatan Muhammad r dengan Allah saat berada di Siratulmuntaha di atas lengit yang tujuh sama dengan nabi Yunus yang berada dalam perut ikan. Sesungguhnya orang tersebut tidak mengakui keutamaan dan kemulian yang diberikan Allah kepada Rasulullah r.</p>
<p dir="LTR">Suatu hal yang aneh tapi nyata dan amat mengheran kita adalah ketika orang yang sering merayakan peristiwa isra&#8217; dan mi&#8217;raj tidak mengakui bahwa Allah berada di arah yang Maha Tinggi di atas seluruh makhluk.</p>
<p dir="LTR" align="center"><em>,,,Semoga Allah senantiasa menetapkan kita di atas kebenaran,,,</em></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
</div>
<div class='footnotes' id='footnotes-654'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-654-1'>HR. Muslim no (2393). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-2'>HR. Abu Daud no (1490) dan Tirmizy no (3556). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-3'>Lihat “Subulussalam”: 2/79. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-4'>Lihat kisah tersebut dalam “Siyar A’lam Nubalaa’ : 18/475. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-5'>HR. Bukhari no (7048) dan Muslim no (1464). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-6'>HR. Bukhari no (6045) dan Muslim no (7015). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-6'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-7'>HR. Muslim no (5053). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-7'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-8'>HR. Abu Daud no (661) dan Nasa’i no (816). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-8'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-9'>HR. Bukhary no (4094) dan Muslim no (2500). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-9'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-10'>HR. Abu Daud no (4943) dan Tirmizy no (1924). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-10'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-11'>HR. Muslim no (3613). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-11'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-12'>lihat kitab “<em>Asmaa’ wash shifaa</em>t” / Imam Baihaqy: 2/236. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-12'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-13'>lihat tafsir Ibnu ‘Athiyah: 1/92. Atau edisi sebelumnya (112) , hal: 15 redaksi kelima dari redaksi ayat-ayat tentang ‘Uluw. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-13'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-14'>HR. Muslim no (1227). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-14'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-15'>HR. Bukhary no (4424). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-15'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-16'>HR. Tirmizy no (3435) menurut Tirmizy hadits ini adalah hasan shahih. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-16'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-17'>HR. Muslim no (3009). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-17'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-18'>HR. Bukhari no (7056) dan Muslim no (1808). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-18'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-19'>HR. Bukhari no (6993). <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-19'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-20'>HR. Nasa’i no (2357) dihasankan oleh syeikh Al Baany. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-20'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-654-21'>HR. Tirmizi no (478) dishahihkan oleh syeikh Al Baany. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-654-21'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/di-mana-allah-bagian-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Allah (Bagian ke-1)</title>
		<link>http://dzikra.com/sifat-al-uluw-bagi-allah/</link>
		<comments>http://dzikra.com/sifat-al-uluw-bagi-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2012 01:16:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Sifat Al &#8216;Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA Dengan memanjatkan puji dan syukur pada Allah Yang Maha Tinggi di atas segala makhluk-Nya. Kemudian ucapan Selawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Yang telah mi&#8217;raj (naik) menghadap Allah dalam rangka menjeput perintah shalat wajib yang lima ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: 19pt; text-decoration: underline;"><em>Sifat Al &#8216;Uluw Bagi Allah<br />
</em></span></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memanjatkan puji dan syukur pada Allah Yang Maha Tinggi di atas segala makhluk-Nya. Kemudian ucapan Selawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Yang telah mi&#8217;raj (naik) menghadap Allah dalam rangka menjeput perintah shalat wajib yang lima waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pembaca yang budiman! Topik pembahasan kita pada kesempatan ini adalah tentang sifat &#8216;uluw bagi Allah. Sebagai lanjutan dari bahasan tentang sifat-sifat Allah pada edisi-edisi yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dianatara pokok-pokok keyakinan Ahlusunnah yang urgen adalah mengimani bahwa Allah bersifat &#8216;Uluw (Maha Tinggi) di atas seluruh makhluk-Nya. Mengimani sifat &#8216;uluw adalah bagian dari hal-hal yang berhubungan dengan iman kepada Allah. Karena Allah Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya, tidak satupun makhluk yang menyerupai Allah dalam kesempurnaan terseut. Sebagaimana telah kita jelaskan pada edisi-edisi yang lalu tentang kaedah-kaedah dalam mengimani sifat-sifat Allah <sup class='footnote'><a href='#fn-628-1' id='fnref-628-1' onclick='return fdfootnote_show(628)'>1</a></sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalil tentang sifat tersebut sangat banyak sekali baik dalam Al Qur&#8217;an maupun dalam kitab-kitab sunnah. Demikian pula halnya perkataan para ulama salaf dari berbagai bidang kedisiplinan ilmu Islam. Terlebih khusus para ulama yang menulis tentang aqidah Ahlussunnah, mereka tidak pernah melewatkan pembahasan ini. Masalah ini adalah benang merah yang membedakan antara aqidah Ahlussunnah dengan aqidah Ahlul kalam dan aqidah Ahli filsafat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut kita sebutkan diantara para ulama yang membahas masalah ini dalam kitab-kitab mereka yang berbicara tentang pokok-poko aqidah Ahlussunnah:</p>
<ol>
<li>Imam Ahmad bin Hambal wafat th (241 H) dalam kitabnya &#8220;<em>Ar Raddu &#8216;ala Al Jahmiyah</em>.</li>
<li>Imam Daarimy wafat th (280 H) dalam dua kitabnya; yang pertama judulnya: &#8220;Ar Raddu &#8216;ala al Jahmiyah&#8221;, yang kedua judulnya: &#8220;<em>Naqdhu Daarimy &#8216;ala Marrisy</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ibnu Abi &#8216;Ashim wafat (287 H) dalam kitabnya &#8220;As Sunnah&#8221;.</li>
<li>Abdullah bin Ahmad bin Hambal wafat th (290 H) dalam kitanya &#8220;As Sunnah&#8221;.</li>
<li>Imam Ibnu Khuzaimah wafat th (311 H) dalam kitabnya yang berjudul &#8220;<em>At Tauhid</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Khalaal wafat th (311H) dalam kitabnya &#8220;As Sunnah&#8221;.</li>
<li>Imam Abu Ja&#8217;far Thahaawy wafat (321 H) dalam kitabnya yang masyhur <em>&#8220;Aqidah Thahawiyah&#8221;</em>.</li>
<li>Imam Abu Hasan Al Asy&#8217;ary wafat th (324 H) dalam dua kitabnya; yang pertama berjudul &#8220;Al Ibaanah &#8216;an Ushuul Diyanah, yang kedua berjudul &#8220;Rasalah Ila Ahli Tsaghar&#8221;.</li>
<li>Imam Al Ajurry wafat th (360 H) dalam kitabnya &#8220;Asy Syari&#8217;ah&#8221;.</li>
<li>Imam Ibnu Baththah wafat th (387 H) dalam kitabnya &#8220;<em>Al Ibaanah Al Kubro</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ibnu Mandah wafat th (395 H) dalam dua kitabnya; yang pertama berjudul &#8220;<em>At Tauhid</em>&#8221; dan yang kedua berjudul: <em>&#8220;Ar Raddu &#8216;ala al Jahmiyah&#8221;</em>.</li>
<li>Imam Ibnu Abi Zamaniin wafat th (399 H) dalam kitabnya &#8220;Ushuul Sunnah&#8221;.</li>
<li>Imam Al Laa lakaa&#8217;i wafat th (418 H) dalam kitabnya &#8220;<em>Syarah I&#8217;tiqaat Ahlussunnah</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Baihaqy wafat th (458 H) dalam kitabnya yang berjudul &#8220;Al I&#8217;tiqaad&#8221;.</li>
<li>Imam Abu Ali Hasan bin Ahmad Al Banna wafat th (471 H) dalam kitabnya: &#8220;<em>Al Mukhtaar Fi Ushul Sunnah</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ismail Al Ashfahaany wafat th (545 H) dalam kitabnya &#8220;<em>Al Hujjah fi Bayaan Al Mahajjah</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ibnu Qudaamah Al Maqdisy wafat th (620 H) dalam kitabnya: &#8220;<em>Lum&#8217;atul I&#8217;tiqad</em>&#8220;.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bahkan sebahagian ulama ada yang membahas masalah ini secara khusus dalam kitab tersendiri, diantara mereka tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Imam Ibnu Qudaamah Al Maqdisy wafat th (620 H) mengarang kitab &#8220;<em>Itsbaat sifat Al &#8216;Uluw</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ibnu Thahir Al Qaisaraany wafat th (507 H) mengarang kitab &#8220;<em>Al &#8216;Uluw wan Nuzuul</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Ibnu Qayyim al jauziyah wafat th (751 H) mengarang kitab &#8220;<em>Ijtimaa&#8217; Juyuusy Islamiyah &#8216;ala ghazwi Mu&#8217;athilah</em>&#8220;.</li>
<li>Imam Dzahaby wafat th (748 H) mengarang dua kitab dalam masalah ini. Yang pertama dengan judul <em>Al &#8216;Uluw</em> dan yang kedua dengan judul <em>Al &#8216;Arsy</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sengaja penulis menyebutkan tahun wafat dari para ulama tersebut untuk membuktikan kedustaan orang yang mengatakan bahwa penetapan sifat &#8216;Uluw bagi Allah tidak dikenal oleh para ulama salaf. Bahkan ada yang mengatakan hal ini adalah hasil pemikiran Ibnu Taimiyah wafat th (728 H) dan Muhammad Bin Abdulwahab wafat th (1206 H). Ini membuktikan bahwa mereka tidak pernah mengenal buku-buku aqidah karangan para ulama terkemuka dikalangan umat ini, apa lagi untuk membacanya. Atau mereka mengenal dan membacanya akan tetapi mereka taklid buta kepada para guru mereka serta takut terbongkarnya kesesatan mereka selama ini, yang pada akhirnya akan membuat para pengikut mereka tidak simpatik lagi pada mereka. Atau para pengikut mereka akan lari meninggalkan mereka ketika terbuktinya kelemahan ilmu mereka. Hal tersebut akan mengurangi pendapatan perkapita mereka pertahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita perhatikan dengan seksama buku-buku aqidah yang ditulis oleh ulama salaf, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa penetapan sifat &#8216;Uluw bagi Allah adalah masalah yang urgen dalam agama ini. Hal ini dibuktikan betapa banyaknya para ulama yang menjelaskan tentang masalah tersebut dalam kitab-kitab mereka. Terlebih-lebih lagi jika kita membaca kitab-kitab tafsir dan syarah kitab-kitab hadist terkemuka yang dikarang oleh para ulama kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahsan ini akan kita bagi menjadi lima bagian:</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian pertama: Dalil-dalil dari ayat Al Qur&#8217;an yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian kedua: Dalil-dalil dari Sunnah (hadits-hadits) yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian ketiga: Perkataan Para sahabat, Tabi&#8217;iin dan Tabi&#8217; Tabi&#8217;iin serta para ulama dari masa ke masa yang yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian keempat: Dalil-dalil akal dalam menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian kelima: Jawaban terhadap syubuhat (argumentasi) para penetang aqidah Ahlussunnah dalam penetapan sifat &#8216;Uluw bagi Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Bagian Pertama<br />
</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Dalil-dalil dari ayat Al Qur&#8217;an yang menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bagian pertma bahasan ini kita akan menyebutkan sebahagian ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang menegaskan bahwa Allah bersifat &#8216;Uluw (Maha Tinggi) di atas segala makhluk. Suatau hal yang mustahil untuk meneybutkan seluruh ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat &#8216;Uluw. Disamping keterbatasan waktu juga karena ayat-ayat yang berkenaan sifat &#8216;Uluw jumlahnya sangat banyak mencapai ratusan ayat. Akan tetapi kita akan menyebutkan bentuk-bentuk redaksi Al Qur&#8217;an dalam menetapkan sifat &#8216;Uluw bagi Allah. Pada setiap macam dari redaksi tersebut kita sebutkan satu ayat atau sampai tiga ayat saja paling banyak jika hal tersebut diperlukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada berikut ini kita sebutkan bentuk-bentuk redaksi Al Qur&#8217;an dalam menetapkan sifat <strong><em>&#8216;Uluw</em></strong> bagi Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi pertama</strong>: Bahwa Allah mengangkat sebagian makhluk ke arah-Nya di atas. Hal ini Allah sebutkan dengan berulang kali dengan sinonim kata yang menunjuk makna yang sama. Yaitu kata-kata: <strong><em>&#8220;Ar Raf&#8217;u&#8221;</em></strong>, <strong><em>&#8220;Ash Shu&#8217;ud&#8221;,</em></strong> dan<strong><em> &#8220;Al &#8216;Uruuj</em></strong>.</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align: justify;">Menggunakan kata <strong><em>&#8220;Ar Raf&#8217;u&#8221;</em></strong>, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ} [آل عمران/55]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;(Ingatlah), ketika Allah berfirman: &#8220;Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu tertidur dan mengangkat kamu kepada-Ku&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 18pt;"><span style="font-size: 14pt;">{بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ} [النساء/158]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam dua ayat di atas Allah menegaskan bahwa Allah menyelamatkan nabi Isa <span style="font-family: Wingdings;">u</span> dari pembunahan dengan mengakat nabi Isa &#8216;Alaihis Salam kepada-Nya<sup class='footnote'><a href='#fn-628-2' id='fnref-628-2' onclick='return fdfootnote_show(628)'>2</a></sup>. Ini menunjukkan bahwa Allah itu berada di arah atas, bukan di arah bawah. Karena kata-kata <em>mengangkat</em> dalam seleuruh bahasa digunakan untuk menunjukkan ke arah atas.</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align: justify;">Menggunakan kata <strong><em>&#8220;Ash Shu&#8217;ud&#8221;</em></strong> sebagaimana terdapat dalam firman Allah:</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ [فاطر/10]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa perkataan baik dan amal sholeh naik kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah itu berada di arah atas, bukan di arah bawah. Karena kata-kata <em>naik</em> dalam seleuruh bahasa digunakan untuk menunjukkan ke arah atas.</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align: justify;">Mengunakan kata <strong><em>&#8220;Al &#8216;Uruuj&#8221;</em></strong> sebagaimana terdapat dalam firman Allah:</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ [المعارج/4]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ} [السجدة/5]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula dalam dua ayat ini Allah menerangkan bahwa para malaikat dan segala urusan <strong><em>naik</em></strong> kepada Allah pada hari kiamat kelak<sup class='footnote'><a href='#fn-628-3' id='fnref-628-3' onclick='return fdfootnote_show(628)'>3</a></sup>. Dua ayat ini sama dengan ayat sebelumnya menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, maka karena itu dipergunakan kata-kata <strong><em>naik</em></strong> dalam ayat-ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi kedua:</strong> Menggunakan kata <strong><em>&#8220;Al Fauq&#8221;</em></strong> dalam menyatakan bahwa para malaikat takut pada Allah yang berada di atas mereka, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [النحل/50]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menerangkan bahwa para malaikat yang berada di langit takut kepada Robb mereka yang berada diatas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di arah yang lebih tinggi dari para malaikat tersebut. Karena kata-kata <em>di atas</em> dalam semua bahasa penggunaannya untuk menunjukkan arah yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi ketiga:</strong> Menggunakan kata <strong><em>Istiwaa&#8217;</em></strong> yang digabung dengan huruf <strong><em>&#8216;alaa</em></strong> yang artinya menunjukan makna <strong>&#8220;atas&#8221;</strong>, hal ini berulang kali Allah katakan dalam Al Qur&#8217;an, diantaranya sebagaimana firman Allah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه/5]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arsy&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ}<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Lalu Dia beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arsy&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang serupa terdapat enam kali dalam Al Qur&#8217;an, maka keseluruhan ayat <strong><em>istiwaa&#8217;</em></strong> yang digabung dengan huruf <strong><em>&#8216;alaa</em></strong> ada tujuh ayat dalam Al Qur&#8217;an, lihat surat-surat berikut ini;</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">1. surat Al A&#8217;raaf, ayat: 54.</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">2. surat Yunus, ayat: 3.</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">3. surat Ar Ra&#8217;d, ayat: 2.</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">4. surat Al Furqan, ayat: 59.</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">5. surat As Sajdah, ayat: 4.</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;">6. surat Al Hadiid, ayat: 4.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Istiwaa&#8217;</em></strong> dalam bahasa arab mengandung beberapa makna, bila kalimat <strong><em>istiwaa&#8217;</em></strong> bergabung dengan huruf <strong><em>&#8216;alla</em></strong> maka maknanya menunjukkan <em>di atas<sup class='footnote'><a href='#fn-628-4' id='fnref-628-4' onclick='return fdfootnote_show(628)'>4</a></sup>.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Arasy adalah makhluk Allah yang paling tinggi, tidak ada lagi makhluk yang lebih tinggi setelah &#8216;Arasy. Dan Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arasy, maka tidak makhluk yang sama atau lebih tinggi dari Allah. Istiwaa&#8217; Allah di atas &#8216;Arasy, tidak berarti bahwa Allah bersentuhan dengan &#8216;Arasy tersebut. Sebab Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluknya. sebagaimana tidak mesti setiap sesuatu yang berada di atas yang lainnya harus dalam bentuk saling bersentuhan. Sebagaimana halnya keberadaan langit di atas bumi tidak saling bersentuhan antara keduanya. Apabila hal itu mungkin pada makhluk, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi berdiri sendiri tidak butuh sedikitpun kepada makhluk. Ia tidak butuh kepada &#8216;Arasy untuk menahan atau menopang-Nya. Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arasy bukan berarti Allah butuh kepada &#8216;Arasy, akan tetapi jusru sebaliknya, dimana &#8216;Arasy itu sendiri keberadaan nya bergantung kepada kekuasaan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi keempat:</strong> Bahwasanya kitab-kitab suci diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ} [البقرة/285]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman Allah:<span style="font-size: 10pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيم} [الزمر/1]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kitab (Al Quran ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Juga firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify; margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 14pt;">{تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الحاقة/43]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang semakna dengan ayat-ayat di atas amat banyak dalam Al Qur&#8217;an, diantaranya lihat:</p>
<ol>
<li>surat Al Maaidah, ayat: 66 &amp; 67.</li>
<li>surat Al A&#8217;raaf, ayat: 3.</li>
<li>surat Ar Ra&#8217;du, ayat: 1 &amp; 19.</li>
<li>surat Saba&#8217;, ayat: 6.</li>
<li>surat Az Zumar, ayat: 55.</li>
<li>surat as sajdah, ayat 2.</li>
<li>surat Ghafir (Al Mu&#8217;min), ayat: 2.</li>
<li>surat Fushshilat, ayat: 2 &amp; 42.</li>
<li>surat Al jatsiyah, ayat: 2.</li>
<li>surat Al Waaqi&#8217;qh, ayat: 80.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang menyatakan bahwa Al Qur&#8217;an dan kitab-kitab suci lainya diturunkan dari Allah sangat banyak sekali jumlahnya. hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kalau seandainya Allah tidak berada di atas, tentulah kitab-kitab suci tersebut tidak bisa dikatakan turun dari Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab kata-kata<em> turun </em>dalam seluruh bahasa penggunaannya untuk menunjukkan dari arah yang tinggi kearah yang rendah. Jika Allah bukan di atas tentu tidak tepat bila disebut bahwa Al Qu&#8217;an diturun dari sisi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi keenam:</strong> Allah menggunakan kata-kata <strong><em>di langit</em></strong> untuk menyatakan tentang diri-Nya. Sebagaiamana firman Allah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">{أ</span><span style="font-size: 14pt;">َأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا [الملك/16، 17]</span><span style="font-size: 10pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang <strong>di atas langit bahwa</strong> Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang <strong>di atas langit</strong> bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kata langit dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, jika langit diartikan dengan langit yang asli maka huruf <strong><em>Fii</em></strong> dalam ayat di atas bermakna <strong><em>&#8216;alla</em></strong> (di atas).</p>
<p style="text-align: justify;">Karena dalam bahasa Arab antara sesama huruf <em>Jaar</em> boleh saling bergantian dalam penggunaannya, sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ } [آل عمران/137]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Maka berjalanlah kamu di atas bumi&#8221;</em>. Ayat ini tidak mungkin diartikan <em>berjalanlah kamu dalam bumi</em>. Karena itu huruf <strong><em>Fii </em></strong>dalam ayat tersebut diartikan dengan huruf <strong><em>&#8216;alla<sup class='footnote'><a href='#fn-628-5' id='fnref-628-5' onclick='return fdfootnote_show(628)'>5</a></sup>.</em></strong><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Namun bila huruf <strong><em>Fii</em></strong> tetap pada maknannya yang asli (pada), maka langit dalam ayat di atas bermakna <em>arah yang tinggi</em>. Karena dalam bahasa Arab stiap arah yang tinggi boleh disebut langit<sup class='footnote'><a href='#fn-628-6' id='fnref-628-6' onclick='return fdfootnote_show(628)'>6</a></sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ} [إبراهيم/24]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik<strong><sup><br />
</sup></strong>seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Makna ayat di atas ialah bahwa cabang pohon tesebut menjulang tinggi keatas langit, tetapi bukan berarti bahwa cabang pohon itu menyentuh dan membelah langit.</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari ungkapan bahwa <em>Allah berada di atas langit</em> bukan berarti bahwa langit bersentuhan dengan Allah. Sebagaimana ungkapan kita <em>bahwa langit di atas bumi</em> bukan berarti bahwa langit menepel ke bumi, akan tetapi keduanya memiliki jarak ratusan juta ribu mil. Jika demikian halnya maka tidak ada kontradiksi antara ayat yang menyebut Allah beristiwaa&#8217; di atas &#8216;Arasy dengan ayat yang menyebutkan Allah di atas langit. Karena &#8216;Arasy berada di atas langit sekalipun jarak anatara langit dan &#8216;Arasy sangat jauh sekali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi ketujuh:</strong> Allah menyebutkan beberapa nama-Nya yang menunjukkan bahwa Allah Mha Tinggi secara mutlak, baik dari segi kedudukan, kekuasaan maupun zat. Dianatara nama-nama Allah yang menunjukkan akan kemahatinggian Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">A. Nama Allah: <strong><em>&#8220;Al &#8216;Aliyyu&#8221;</em></strong> (<span style="font-size: 10pt;">العلي</span>). Sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا} [النساء/34]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ } [البقرة/255]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nama ini terulang sekitar delapan kali dalam Al Qur&#8217;an, disamping dua ayat di atas lihat pula ayat-ayat berikut ini:</p>
<ol>
<li>surat Al Hajj, aya: 62.</li>
<li>surat Luqman, ayat: 30.</li>
<li>surat Saba&#8217;, ayat: 23.</li>
<li>surat Al Mu&#8217;min, ayat: 12.</li>
<li>surat Asy Syuraa, ayat: 4 &amp; 51.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">B. Nama Allah: <strong><em>&#8220;Al A&#8217;laa&#8221;</em></strong> (<span style="font-size: 10pt;">الأعلى</span>). Sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} [الأعلى/1]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nama ini terulang dua kali dalam Al Qur&#8217;an, disamping ayat di atas lihat pula surat &#8220;Al lail&#8221;, ayat: 20.</p>
<p style="text-align: justify;">C. Nama Allah: <strong><em>&#8220;Al Muta&#8217;aal&#8221;</em></strong> (<span style="font-size: 10pt;">المتعال</span>). Sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ} [الرعد/9]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi dalam segala segi baik dari segi kekuasaan, kemulian maupun zat. Barangsiapa yang mengingkari tentang keMahatinggian Allah dari segi zat, maka sesungguhnya ia telah membatasi kesempurnaan makna sifat Allah yang terkandung dalam nama-nama Allah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan:<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan ayat-ayat yang kita sebutkan di atas maka tidak ada lagi keraguan bagi seorang muslim untuk mengimani bahwa Allah Maha Tinggi secara mutlak di atas seluruh makhluknya. Maka oleh sebab itu ketika mereka berdo&#8217;a mata hatinya mengarah ke arah atas langit, karena Allah berada di atas mereka. Makhluk yang paling tinggi adalah &#8216;Arasy dan Allah berada jauh lebih tinggi dari &#8216;Arasy, tiada di atas kecuali hanya Allah semata. Tidak ada zat makhluk yang bersentuhan dengan Zat Allah dan tidak ada pula Zat Allah yang bercampur dengan zat makhluk. Akan tetapi Allah bersama makhluk-Nya dengan sifat-sifat rububiyahnya bukan dengan zat-Nya. Dianatara sifat-sifat rububiyah seperti sifat ilmu, penglihatan dan pendengaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Imam Ibnu Baththah: &#8220;Telah bersepakat kaum muslimun dari kalangan sahabat, tabi&#8217;iin dan seluruh para ulama dari orang-orang yang beriman bahwa Allah di atas &#8216;Arasy, di atas seluruh langit, tidak bersentuhan dengan makhluk-Nya, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Tidaklah mengikari hal itu kecuali orang yang menganut paham <em>hululiyah</em> (manungaling). Mereka adalah kelompok yang telah sesat hatinya dan mereka telah ditipu setan, lalu mereka meninggalkan agama. Mereka mengatakan: bahwa Allah berada disetiap tempat dengan zat-Nya…&#8221;<sup class='footnote'><a href='#fn-628-7' id='fnref-628-7' onclick='return fdfootnote_show(628)'>7</a></sup>.</p>
<p style="text-align: center;"><em>,,,Semoga Allah menurunkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua,,,</em></p>
<div class='footnotes' id='footnotes-628'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-628-1'>lihat edisi 89, 90, 92, 93, 94 th ke 8-9/2009 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-2'>lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/47 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-3'>lihat tafsir Baghawy: 6/300 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-4'>lihat Lisanul Arab: 14/408 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-5'>lihat kitab &#8220;Asmaa&#8217; wash shifaat&#8221; / Imam Baihaqy: 2/236 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-6'>lihat tafsir Ibnu &#8216;Athiyah: 1/92 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-6'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-628-7'>lihat <em>Al Ibaanah</em>/ Ibnu Bathathah: 3/136 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-628-7'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/sifat-al-uluw-bagi-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat-sifat Orang yang Muttaqin</title>
		<link>http://dzikra.com/sifat-sifat-orang-yang-muttaqin/</link>
		<comments>http://dzikra.com/sifat-sifat-orang-yang-muttaqin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2012 02:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/sifat-sifat-orang-yang-muttaqin/</guid>
		<description><![CDATA[SIFAT-SIFAT ORANG YANG MUTTAQIN (Ringkasan Khutbah Idul Firi 1 Syawal 1433H) Sidang shalat &#8216;idul fitri yang berbahagia…. Dihari yang penuh berkah ini kita berkumpul di sini dalam rangka melaksanakan shalat &#8216;idul fitri secara berjema&#8217;ah. Suara takbir bergema ke angakasa di seluruh penjuru nusantara. Ini adalah pertanda bahwa bulan Ramdhan telah pergi meningalkan kita. Bulan yang ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 13pt; text-decoration: underline;">SIFAT-SIFAT ORANG YANG MUTTAQIN<br />
</span></p>
<p style="text-align: center;">(Ringkasan Khutbah Idul Firi 1 Syawal 1433H)</p>
<p><strong>Sidang shalat &#8216;idul fitri yang berbahagia….<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dihari yang penuh berkah ini kita berkumpul di sini dalam rangka melaksanakan shalat &#8216;idul fitri secara berjema&#8217;ah. Suara takbir bergema ke angakasa di seluruh penjuru nusantara. Ini adalah pertanda bahwa bulan Ramdhan telah pergi meningalkan kita. Bulan yang penuh berkah, penuh rahmat dan maghfirah. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggunya stan-setan. Bulan tempat mendulang pahala dan pembakaran dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita amat bersyukur pada Allah yang telah menjadikan kita dapat menemui Ramdhan tahun ini serta memberikan taufik kepada kita untuk mengisinya dengan segala rangkaian ibadah dan amal sholeh. Kita tidak dapat mastikankan akankah kita berjumpa kembali dengannya entah tidak.<span id="more-621"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah menerima rangkaian ibadah Ramadhan kita baik berupa puasa, tarawih, tadarus Al Qur&#8217;an maupun infak dan sedekah.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya selawat beserta salam kita kirimkan untuk arwah nabi kita, penghulu dan penutup para nabi dan rasul, nabi Muhammad <span style="font-family: Wingdings;">r</span>, manusia yang paling agung akhlaknya, nabi pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpah untuk para sahabat dan keluarga beliau, generasi tauladan umat ini. Yang telah berjuang dan berkorban demi tegaknya agama yang mulia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jema&#8217;ah shalat idul fitri yang dimuliakan Allah…<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi kita Muhammad <span style="font-family: Wingdings;">r</span> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">((للصائم فرحتان؛ فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربّه)). متفق عليه.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Bagi orang bepuasa dua kebahagian; bahagia saat lebaran dan bahagia saat berjumpa Tuhannya&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ini banyak orang yang berbahagia dengan baju baru, sarung baru dan sepatu baru. Namun yang mesti menjadi pertanyaan pada diri kita masing-masing apakah kita termasuk orang-orang berbahagia ketika bejumpa dengan Tuhannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya ada pada diri kita masing-masing tentang apa yang telah dilakukannya pada bulan Ramdhan yang baru saja meningalkan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang akan berbahagia kelak ketika menhadap Robnya adalah orang dapat meraih nilai-nilai ketaqwaan pada Ramadhan tersebut. Lalu nilai ketaqwaan tersebut senantiasa bertahan dalam dirinya, meskipun Ramadhan telah berpisah dengannya. Mencapai pringkat taqwa adalah tujuan disyari&#8217;atkannya ibadah puasa.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jema&#8217;ah shalat idul fitri yang dirahmati Allah,,,<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Pada kesempatan yang berbahagia ini khotib ingin mengajak kita semua untuk mengenal beberapa sifat orang muttaqiin. Mereka adalah orang-orang berbahagia ketika bejumpa dengan Robnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Beberapa sifat mereka Allah sebutkan dalam surat Al baqarah ayat 177.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ}</span><span style="font-size: 20pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab, kepada para nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang kehabisan bekal) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakw&#8221;a.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dalam ayat diatas terdapat sepuluh sifat atau ciri orang muttaqin (orang-orang yang betaqwa):<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang pertama: Beriman kepada Allah<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang tidak beriman kepada Allah, niscaya segala bentuk amalnya tidak akan diterima Allah.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Ibadah puasa memiliki pengaruh langsung dalam membina keimanan seseorang kepada Allah. Ketika berpuasa seorang muslim benar-benar mengharap ridha Allah serta merasa selalu diawasi dan dilihat Allah. Ia berpuasa tidak untuk mencari ketenaran, pangkat, jabatan dan kekuasaan.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Maka seharusnya nilai keimanan seperti ini kita terapkan dalam segala bentuk amal ibadah kita sehari-hari ketika di luar Ramadhan. Ketika kita memberi hendaklah dengan ikhlas bukan karena ingin dipuji dan disanjung orang banyak atau untuk mendapatkan popularitas, kedudukan dan kekuasaan.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Disebut dalam hadits qudsi, bahwa Allah berkata:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">((أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَه)) رواه مسلم<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Aku paling tidak butuh kepada sekutu, barangsiapa yang melakukan amal mensekutukan dalamnya bersama-Ku selain-Ku, Aku tinggal ia dan kesyirikannya&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Diantara bahaya perbuatan syirik adalah:<br />
</span></p>
<ol>
<li>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Membatalkan seluruh amal pelakunya, sebagaimana firman Allah:<br />
</span></div>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمر/65]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.<br />
</span></p>
<ol>
<li>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Tidak mendapat ampunan dari Allah, sebagaimana firman Allah:<br />
</span></div>
</li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">{إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا}<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-family: Times New Roman;">&#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengapuni dosa orang berbuat syirik kepadaNya, dan mengapuni dosa-dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendakiNya, dan barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang amat besar&#8221;. (An Nisaa&#8217;: 48).</span><span style="font-family: Arial;"><br />
</span></em></p>
<ol>
<li>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Pelakunya diharamkan masuk surga, sebagaimana firman Allah:<br />
</span></div>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 14pt;">{إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ}<strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman;">&#8220;<em>Sesungguhnya orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya adalah neraka, dan orang-orang yang zalim tidak memiliki seorang penolongpun</em>&#8220;. (Al Maidah: 72).<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Berbagai paratek kesyirikan masih mewarnai berbagai aktivitas kita sehari-hari. Seperti meminta-minta kepada kuburan orang sholeh, mendatangi dukun, mempercayai bende-benda keramat dst.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang senatiasa berbuat syirik dan beramal dengan riya&#8217;, mereka akan menghadap Allah dengan penuh kesedihan dan penyesalan.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagaimana Allah sebutkan dalam firmannya:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (22) ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ (23) انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ [الأنعام/22-24]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya<strong><sup>[464]</sup></strong> kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: &#8220;Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) Kami?.&#8221; Kemudian tiadalah jawaban mereka, kecuali mengatakan: &#8220;Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.&#8221; Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Arial Narrow;">Dalam suasana puasa Ramadhan kita</span> selalu merasa dalam pengawasan dan penglihatan Allah. Sehingga hal tersebut membuat kita untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak puasa kita sekalipun tidak ada orang yang melihat kita. Jika rasa pengawasan yang tinggi ini selalu tumbuh dalam diri kita niscaya berbagai bentuk kemaksiatan dan kemungkaran akan berkurang dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">sesungguhnya Allah selalu melihat gerak-gerik kita, kapan dan dimanapun kita berada. Semoga sikap ini selalu tumbuh dan berkembang dalam diri kita tentu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [الحديد/4]
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang kedua: Beriman kepada hari kemudian<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dianatara sifat orang muttaqin adalah mempercayai akan adanya hari kemudian. Hari dibalasinya setiap manusia dengan amalannya. Sesunguhnya seorang mukmin akan mengendalikan dirinya dari berbuat dosa dan maksiat karena ia mempercayai akan adanya hari pembalasan tentang segala perilakunya saat di dunia ini, walau sekecil apapun kebaikan ataupun kejelekkan yang dilakukannya pasti akan mendapat balasan kelak di akhirat kelak. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (123) وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا [النساء/123، 124]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dan firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ [الزلزلة/7، 8]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Puasa ramadhan adalah tempat dilatihnya seorang mukmin untuk mengendalikan diri.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya Allah telah menjanjikan untuknya tempat yang penuh nikmat yaitu surga yang amat indah dan luas.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman;"><em>&#8220;Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhanya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)&#8221;</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang ketiga: Beriman kepada para malaikat<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dianatara sifat orang muttaqin adalah beriman kepada para malaikat. Dianatara mereka ada yang bertugas mencabut nyawa, mencatat amalan anak Adam, menanya mayat di alam kubur, menjaga surga, menjaga neraka dll.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Banayak kita yang beriman dengan malaikat hanaya sebatas mempercayai tentang adanya malaikat, tetapi amat sedikit diantara kita yang mengimaninya dalam bentul amal. Kita percaya ada malaikat maut, tetapi kita berprilaku seolah-olah kita orang yang terkecuali dari maut. Kita percaya ada malaikat yang mencatat amal perbuatan kita, akan tetapi perilaku kita seolah-olah amalan kita hilang tanpa jejak. Kita meyakini ada malaikat di alam kubur, akan tetapi perilaku kita menunjukkan seakan-akan kita tidak akan dikubur. Kita percaya ada malaikat yang menjaga surga dan menjaga neraka, akan tetapi perilaku kita menunjukkan seakan-akan tidak adanya surga dan neraka.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Mari kita perbaiki keimanan kita kepada para malaikat, agar kita mencapai peringkat taqwa.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang keempat: Beriman kepada kitab-kitab suci Allah<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Diantara sifat orang muttaqin adalah beriman dengan kitab Allah. Allah menurunkannya sebagai petunjuk bagi umat manusia.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagaimana firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ} [البقرة/185]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bulan Ramadhan, bulan yang padanya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)&#8221;.<span style="font-size: 11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Al Qur&#8217;an adalah kitab Allah yang paling mulia, Allah menjaga kemurnian dan keasliannya. Tidak sedikitpun dicampuri oleh kebatilan. Hukum-hukumnya berlaku sampai akhir zaman, cocok untuk segala masa dan tempat.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagaiman Allah berfirman:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر/9]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran itu, dan sesungguhnya Kami benar-benar memelihara (kemurniannya)<span style="font-size: 11pt;">&#8220;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Suatau hal yang amat perlu diwaspadai oleh setiap muslim yaitu munculnya gerakan dan pemikiran yang mencoba membuat keraguan tentang keaslian dan kemurnian Al Qur&#8217;an.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Banyak diantara kita yang mengaku beriman dengan kitab Allah, akan tetapi amat sedikit dianatara kita yang membaca dan mempelajari hukum-hukumnya.Mari kita bangun kehidupan kita berdasarkan ajaran Al Qur&#8217;an.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang kelima: Beriman kepada para nabi dan rasul<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Diantara keyakinan orang muttaqin adalah beriman kepada segala nabi dan rasul. Mereka adalah hamba Allah yang diberi tugas untuk menyampaikan wahyu. yang paling mulia diantara mereka adalah nabi kita Muhammad <span style="font-family: Wingdings;">r</span>. Ia adalah nabi terakhir tidak ada lagi nabi sesudahnya. Barang siapa yang mengaku sebagai nabi atau mempercayai ada nabi sesudahnya maka ia telah keluar dari agama islam.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Allah berfirman:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [الأحزاب/40]
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Beliau <span style="font-family: Wingdings;">r</span> bersabda:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;"> ((كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي)) متفق عليه<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh nabi, setiap meninggal nabi diganti oleh nabi. Dan sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudahku&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Barangsiapa yang tidak mau beriman dengan beliau adalah kafir. Ia diutus untuk seluruh umat manusia, sebagaimana dinayatakan firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [سبأ/28]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan bagi seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui&#8221;.<span style="font-size: 11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dan firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا [الأعراف/158]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakanlah (Muhammad): &#8220;Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya&#8221;.<span style="font-size: 11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Demikian pula sabda Nabi <span style="font-family: Wingdings;">r</span>:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">((وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ)) رواه مسلم<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Demi Zat, yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, tidaklah seorangpun dari umat ini yang mendengar tentang aku (diutus) –baik orang Yahudi maupun Nasrani- kemudian ia mati dan (dalam keadaan) tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya! Kecuali termasuk sebagai penghuni neraka&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Beliau adalah manusia yang tidak boleh disekutukan dengan Allah dalam do&#8217;a dan ibadah. Beliau tidak dapat mengetahui hal-hal yang ghaib, sebagaiman firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [الأعراف/188]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakanlah (Muhammad): &#8220;Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman<span style="font-size: 11pt;">&#8220;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dan firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ [الأنعام/50]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakanlah (Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku&#8221;.<span style="font-size: 11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagai bukti cinta kita kepada beliau adalah melakukan ibadah sesuai dengan tuntunan yang beliau ajarkan. Serta mempelajari dan mengalkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan kita sehari-hari.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang keenam: MSemiliki rasa social yang dalam terhadap kaum du&#8217;afa&#8217;<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Dianatara sifat orang muttaqin adalah memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Diantara kenangan puasa Ramdhan terhadap seorang muslim adalah merasakan segelintir penderitaan kaun dhu&#8217;afa&#8217;.</span><span style="font-size: 13pt;"><br />
</span><span style="font-size: 11pt;">Sehingga menumbuhkan rasa iba dan santun kepada mereka. Kita menyadari bahwa Allah telah menitipkan rezki mereka pada kita.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Di hari yang suci ini, kita merayakannya dengan penuh kebahagian; namun disana ada saudara-saudara kita yang seiman dan seaqidah tidak dapat berbahagia seperti kita. Anak-anak mereka tidak memiliki pakaian baru, mereka tidak memiliki kue lebaran yang dapat mereka suguhkan untuk anak-anak mereka. di sana ada anak yatim mereka tidak memiliki orang tua yang bisa mencium dan tersenyum kepada mereka pada hari yang berbahagia ini. Di sana ada saudara kita yang terbaring di rumah sakit. marilah dihari yang suci ini kita bantu mereka dengan apa yang bisa kita berikan, dengan memberi hadiah kepada anak-anak mereka, mengundang mereka untuk mencicipi hidangan kita, supaya kebahagian ini tidak hanya kita yang merasakan, tapi kita bagi dengan saudara-saudara kita yang seiman.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang ketujuh: Mendirikan shalat<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Shalat adalah rukun kedua dari rukun Islam, ia adalah tiang agama. Apabila tiang tidak berdiri maka sebuah bangunan akan roboh. Shalat adalah amalan yang pertama dihitung pada hari kiamat kelak. Jika amalan shalatnya diterima, maka diterimalah amalan-amalan lainnya. Sebaliknya jika amalan sholatnya ditolak maka ditolak pula amalan-amalan yang lainnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagimana sabda Rasulullah <span style="font-family: Wingdings;">r</span>:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">((أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح له سائر عمله و إن فسدت فسد سائر عمله))<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Hal yang pertama sekali yang dihitung pada hari kiamat terhadap seorang hamba adalah amalan shalatnya, jika shalatnya baik (diterima) maka seluruh amalannya yang lain akan diterima. Dan jika amalan shalatnya rusak (ditolak) maka seluruh amalannya yang lain akan ditolak&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang tidak sholat tempatnya adalah di neraka Saqar, sebagaimana firman Allah:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;">مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ [المدثر/42، 43]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: &#8220;Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat&#8221;.<span style="font-size: 11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Diantara kita ada yang berpuasa akan tetapi tidak sholat. Ini suatau hal sangat menyedihkan di tengah-tengah umat kita. Banyak para ulama menyebutkan bahwa orang yang tidak shalat puasanya tidak diterima oleh Allah Swt.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang kedelapan: Menunaikan zakat<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Zakat adalah sejolinya sholat, oleh sebab itu sering kita temui dalam Al Qur&#8217;an setiap disebutkan sholat selalu disebutkan zakat. Ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan dalam menunaikannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Orang yang tidak mau mengeluarkan zakat kelak hartanya akan menjadi ular bertaring panjang yang melilit di lehernya kemudian senantiasa menggigit samping kiri dan kanan mulut orang tersebut.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagaimana sabda Rasulullah <span style="font-family: Wingdings;">r</span>:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">((من آتاه الله مالا فلم يؤدي زكاته مثل له يوم القيامة شجاعا أقرع له زبيبتان يطوقه يوم القيامة ثم يأخذ بلهزميه يعني شدقيه ثم يقول أنا مالك أنا كنزك)) رواه البخاري<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">&#8220;Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah, lalu ia tidak membayar zakatnya, pada hari kiamat harta tersebut akan menjadi seekor ular yang berkepala botak, memiliki dua taring panjang, yang melilit dilehernya pada hari kiamat, kemudian ular itu menggigit kedua belah pipinya sambail berkata: aku adalah hartamu dan simpananmu&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang kesembilan: Suka menepati janji<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Diantara pelajaran yang amat penting dari berpuasa adalah menanamkan sikap jujur pada diri seorang muslim, jika ia berbohong dalam berpuasa maka yang dibohonginya adalah dirinya sendiri, oleh sebab itu puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah. mudahan-mudahan sikap jujur ini tetap bertahan dalam prilaku kita sehari-hari, sehingga pringkat taqwa sebagai tujuan dari ibadah puasa dapat kita raih.</p>
<p style="text-align: justify;">Telah bersabda Rasulullah <span style="font-family: Wingdings;">r</span>:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 14pt;">(من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه) رواه البخاري<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong maka Allah tidak butuh dalam ia meninggalakan makan dan minum</em>&#8220;. (H.R. Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sa&#8217;at ini kejujuran sesuatu yang amat mahal dan bagaikan barang langkah ditengah-tengah kehidupan kita. Baik ditingkat masyarakat umum maupun ditingkat golongan terpelajar. Ketika kejujuran telah diperjual belikan sa&#8217;at itu pula kehancuran menimpa kihidupan kita. Sikap suka berbohng dan dusta telah merusak segala lini jaring-jaring kehidupan kita. Semoga Ramadhan tahun ini dapat mengembalikan kita kepada kejujuran. Jujur dalam berkata, jujur dalam berbuat, jujur dalam segala hal.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;">Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;"> {وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا} [الإسراء/34]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt;">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ} [المائدة/1]
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;"><strong>Sifat orang muttaqin yang kesepuluh: Memiliki sifat sabar<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Diantara siafat orang muttaqin dalam ayat yang berlalu adalah memiliki sifar sabar; sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dari meninggalkan larang-larang Allah, serta sabar dalam menerima cobaan dari Allah. Ketiga bentuk sabar ini terdapat dalam ibadah puasa. Dalam berpuasa kita diuji Allah dengan lapar dan haus. Dalam berpuasa kita tetap melaksanakan segala bentuk ibadah kepada Allah. Dalam berpuasa kita mengendalikan diri dari berbuat dosa kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana sabda Rasulullah <span style="font-family: Wingdings;">r</span>:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 14pt;">(وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يَرفُث ولا يَصخَب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم). متفق عليه.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan Apapbila dihari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan bertengkar. Jika seseorang mencacinya dan memukulnya, maka hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa&#8221;.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita jauhi sifat suka balas dendam, sebaliknya mari kita tumbuhkan sifat sabar dan pemaaf dalam diri kita. Pahala dan balasan orang yang memiliki sifat sabar, adalah balasan yang tak ada batasnya, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt;"> {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupkan pahala mereka tampa batas&#8221;. </em> (Az Zumar: 10).</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align: justify;"><strong>Jema&#8217;ah shalat idul fitri yang berbahagia,,,<br />
</strong></div>
</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman;">Marilah pada hari yang suci ini kita saling mema&#8217;afkan, antara sesama kita, antara suami-isteri, antara anak dengan orang tua, antara sesama tetangga, antara sesama sanak famili, semoga Allah menerima amalan kita, kemudian bantulah saudara-saudara kita yang kurang mampu, sebagaimana yang dianjurkan Rasululllah </span><span style="font-family: Wingdings;">r</span><span style="font-family: Times New Roman;"> pada hari suci ini.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman;">Untuk kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan ikutilah dengan puasa enam hari pada bulan syawal, tidak disyaratkan berturut-turut, yang penting dilakukan selama bulan syawal, sebagaimana anjuran Rasulullah </span><span style="font-family: Wingdings;">r</span><span style="font-family: Times New Roman;">:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 14pt;">(مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ)<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman;">&#8220;<em>Barangsiapa yang puasa bulan Ramadhan lalu diiuktinya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, sama dengan puasa sepanjang tahun</em>&#8220;. (H.R.Muslim).<br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 10pt;">والحمد لله رب العالمين</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/sifat-sifat-orang-yang-muttaqin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Indah Ibadah Puasa</title>
		<link>http://dzikra.com/kenangan-indah-ibadah-puasa/</link>
		<comments>http://dzikra.com/kenangan-indah-ibadah-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2012 04:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dzikra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah subhanahu wata&#8217;ala, selawat dalam salam buat nabi Muhammad Sallallahu &#8216;Alaihi Wasallah. Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat agung, ibadah yang penuh dengan berbagai kesan dan pesan serta memiliki banyak hikmah yang dapat dikenang oleh seorang muslim saat melakukannya. Maka tidak diragukan lagi kenapa Allah mensyari&#8217;atkan puasa kepada umat-umat sebelum kita. Karena ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR">Segala puji bagi Allah subhanahu wata&#8217;ala, selawat dalam salam buat nabi Muhammad Sallallahu &#8216;Alaihi Wasallah.</p>
<p dir="LTR">Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat agung, ibadah yang penuh dengan berbagai kesan dan pesan serta memiliki banyak hikmah yang dapat dikenang oleh seorang muslim saat melakukannya. Maka tidak diragukan lagi kenapa Allah mensyari&#8217;atkan puasa kepada umat-umat sebelum kita. Karena puasa memiliki keutamaan yang begitu banyak dan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam memperbaiki kwalitas ketaqwaan seseorang.</p>
<p dir="LTR">Pada bahasan kali ini kita ingin menyebutkan sebagian kecil dari pesan dan kesan yang dapat kita kenang dari ibadah puasa.<span id="more-605"></span></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Pertama: Ibadah puasa mendidik seorang muslim untuk selalu ikhlas pada Allah dalam segala ibabadahnya.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Banyak sekali ayat Al Qur’an maupun hadits-hadits nabi r yang mewajibkan kita untuk semata-mata beribadah kepada Allah. Akan tetapi ibadah puasa memiliki kekhususan tersendiri dalam menanamkan nilai ikhlas tersebut dalam diri kita. Maka oleh sebab itu Allah menyediakan balasan secara khusus pula terhadap ibadah puasa.</p>
<p dir="RTL">( قال الله كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به) متفق عليه.</p>
<p dir="LTR"><em>Segala amalan anak adam adalah untunya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang membalasnya&#8221;.</em></p>
<p dir="LTR">Sesungguhnya Ibadah puasa amat sulit bila dilakukan tanpa motifasi ikhlas. Karena ibadah puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Amat jarang kita temukan orang berpuasa untuk berhala, atau sebagai persembahan kepada tuhan-tuhan selain Allah. Demikian pula amat sedikit orang yang berpuasa dengan tujuan riya&#8217;. Karena ibadah puasa tidak dapat diketahui atau dilihat oleh orang banyak dengan kasat mata melalui kondisi fisik seseorang, kecuali bila seseorang memberitahukan kepada orang lain bahwa ia sedang berpuasa.</p>
<p dir="LTR">Jika ketika berpuasa kita ikhlas kepada Allah, kenapa dalam ibadah-ibadah lain kita tidak ikhlas, karena setiap ibadah yang tidak dilakukan dengan ikhlas tidak akan diterima Allah.</p>
<p dir="RTL">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمر/65]
<p dir="LTR"><em>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.</em><em></em></p>
<p dir="LTR">Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">« قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ». رواه مسلم</p>
<p dir="LTR">&#8220;Allah berkata: Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu, barangsiapa melakukan amal dengan mensekutukan bersamaku selain aku! Aku tinggalkan ia dan kesyirikannya&#8221;.</p>
<p dir="LTR">Suatu kekliruan yang nyata jika ada diantara kita yang berpuasa masih meminta-minta kekuburan orang shaleh, atau mengagap keramat benda mati seperti bebatuan, pepohonan, atau tempat-tempat tertentu, ini semua merupakan kesyirikan yang bertentangan dengan ikhlas kepada Allah. Begitu pula mempercayai dukun, tukang tenung dan peramal, perbuatan ini adalah dosa yang paling besar, tidak mendapat ampunan dari Allah jika pelakunya tidak bertobat sebalum mati, tempat para pelakunya adalah neraka Jahanam mereka kekal dalamnya.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا}</p>
<p dir="LTR">“<em>Sesungguhnya Allah tidak mengapuni dosa orang berbuat syirik kepadaNya, dan mengapuni dosa-dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendakiNya, dan barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang amat besar</em>”. (An Nisaa’: 48).</p>
<p dir="LTR">Dalam firman Allah lagi:</p>
<p dir="RTL"><strong> </strong>{إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ}<strong></strong></p>
<p dir="LTR">“<em>Sesungguhnya orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya adalah neraka, dan orang-orang yang zalim tidak memiliki seorang penolongpun</em>”. (Al Maidah: 72).</p>
<p dir="LTR">Termasuk hal yang merusak nilai ikhlas kepada Allah adalah melakukan suatu system ibadah yang dibikin-bikin dalam agama yaitu bid’ah. Menyelisihi cara yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p dir="LTR">Allah katakan dalam firmanNya:</p>
<p dir="RTL"><strong>    </strong>{أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ}</p>
<p dir="LTR">“Apakah mereka memiliki tandingan-tangdingan yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizin Allah”. (As Syura: 21).</p>
<p dir="LTR">Pencetus bid’ah adalah pembuat syariat baru dalam agama, maka ia telah menandingi Allah dalam mensyari&#8217;atkan agama. Atau ia telah menandingi Rasul-rasul Allah dalam menetapkan syari’at.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Kedua: Ibadah puasa mengantarkan kita kepada tingkat Ihsan (pengawasan Allah yang mutlak terhadap segala aktifitas kita).</span></strong></p>
<p dir="LTR">Dalam suasana puasa Ramadhan kita selalu merasa dalam pengawasan dan penglihatan Allah sehingga hal tersebut membuat kita untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa kita sekalipun tidak ada orang yang melihat kita. Jika rasa pengawasan yang tinggi ini selalu tumbuh dalam diri kita niscaya tingkat kemaksiatan dan kemungkaran di masyarakat akan turun drastis dalam tatanan kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam tingkat keluarga, masyarakat kecil maupun dalam tingkat kehidupan bernegara. Perbuatan-perbuatan yang tak terpuji akan berkurang. Mari kita menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan kita. Dianataranya menerapkan perasaan ihsan, seolah-olah kita selalu melihat Allah, jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allah selalu melihat gerak-gerik kita, kapan dan dimanapun kita berada. Semoga sikap ini selalu tumbuh dan berkembang dalam diri kita tentu kita.</p>
<p dir="RTL">وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [الحديد/4]
<p dir="LTR"><em>&#8220;Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. </em><em>Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan&#8221;.</em><em></em></p>
<p dir="LTR">Sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita dengan ilmu, pendengaran dan penglihatan-Nya. Maka tidak ada sedikitpun dari gerak-gerik kita yang tersembunyi di hadapan Allah. Baik pedagang di pasar, pegawai di kantor, petani di sawah serta siapapun dan dimanapun ia berada, Allah melihat dan mendengar serta mengetahui segala perbuatan dan gerakgeriknya. Jika perasaan selalu diawasi Allah tumbuh dalam diri setiap muslim niscaya penipuan dan korupsi serta kejahatan lainnya akan berkurang di tengah-tengah kehidupan kita.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Ketiga: Ibadah puasa melatih kita untuk bersifat sabar.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Berpuasa di bulan suci Ramadhan banyak sekali mengandung hikmah dan makna, yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, berpuasa mendidik kita untuk memiliki sifat sabar, sabar terbagi kepada tiga macam; sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dari meninggalkan larang-larang Allah, serta sabar dalam menerima cobaan dari Allah. Ketiga bentuk sabar ini terdapat dalam ibadah puasa. Dalam berpuasa kita diuji Allah dengan lapar dan haus. Dalam berpuasa kita tetap melaksanakan segala bentuk ibadah kepada Allah. Dalam berpuasa kita mengendalikan diri dari berbuat dosa kepada Allah.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana sabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">(وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يَرفُث ولا يَصخَب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم). متفق عليه.</p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Dan Apapbila dihari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan bertengkar. Jika seseorang mencacinya dan memukulnya, maka hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa&#8221;.</em></p>
<p dir="LTR">Mari kita jauhi sifat suka balas dendam, sebaliknya mari kita tumbuhkan sifat sabar dan pemaaf dalam diri kita. Pahala dan balasan orang yang memiliki sifat sabar, adalah balasan yang tak ada batasnya, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p dir="RTL">    {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}</p>
<p dir="LTR"><em>“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupkan pahala mereka tampa batas”. </em> (Az  Zumar: 10).</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Keempat: Ibadah puasa mendidik seorang muslim untuk bersikap jujur.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Diantara pelajaran yang amat penting dari berpuasa adalah menanamkan sikap jujur pada diri seorang muslim, jika ia berbohong dalam berpuasa maka yang dibohonginya adalah dirinya sendiri, oleh sebab itu puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah. mudahan-mudahan sikap jujur ini tetap bertahan dalam prilaku kita sehari-hari, sehingga pringkat yang hendak dicapai dari berpuasa itu sendiri dapat kita miliki yaitu pringkat taqwa.</p>
<p dir="LTR">Telah bersabda Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">( من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه) رواه البخاري</p>
<p dir="LTR">“<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong maka Allah tidak butuh dalam ia meninggalakan makan dan minum</em>”. (H.R. Bukhari).</p>
<p dir="LTR">Pada sa’at ini kejujuran sesuatu yang amat mahal dan bagaikan barang langkah ditengah-tengah kehidupan kita. Baik ditingkat masyarakat umum maupun ditingkat golongan terpelajar. Ketika kejujuran telah diperjual belikan sa’at itu pula kehancuran menimpa kihidupan kita. Sikap suka berbohng dan dusta telah merusak segala lini jaring-jaring kehidupan kita. Semoga Ramadhan tahun ini dapat mengembalikan kita kepada kejujuran. Jujur dalam berkata, jujur dalam berbuat, jujur dalam segala hal.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya:</p>
<p dir="RTL"> {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ}</p>
<p dir="LTR">“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan jadilah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (At Taubah: 119).</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Kelima: </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">Ibadah puasa mendidik seorang muslim untuk mensyukuri nikmat Allah kepadanya.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Dengan berpuasa pada bulan suci Ramdhan kita akan kembali merasakan betapa besarnya nikmat Allah kepada kita, oleh sebab itu dalam ayat puasa ditutup dengan firman Allah:</p>
<p dir="RTL"> {وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}</p>
<p dir="LTR">“Dan supaya kamu mengangungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu, dan agar kamu bersyukur”. (Al Baqarah: 185).sa’at air membasahi tengorokan kita setelah sehari kita merasakan kehausan dan dahaga yang sangat dalam. Sadarkah kita ketika itu bahwa air itu suatu nikmat yang sangat besar diberikan Allah kepada kita. Begitu pula makanan yang mengenyangi perut kita setelah sehari kita kerocongan. Banyak lagi nikmat Allah yang tidak mungkin kita hitung satu persatu. Namun yang harus menjadi perhatian kita. Pantaskah nikmat yang begitu besar dan banyak, kita balas dengan kedurhakaan kepada Allah? Lalu sampai dimana kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut?,</p>
<p dir="LTR">Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar memberi bekas dalam sanubari kita untuk bersyukur kepada Allah dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Keenam: Ibadah puasa mendidik seorang muslim untuk mendahulukan keredhaan Allah di atas segala kebutuhan biologis.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Seseorang yang berpuasa rela meninggalkan segala apa yang menjadi kebutuhannya disiang hari sebagai ibadah dan keta’atan kepada Allah, karena ia yakin  bahwa kebahagian dan ketentraman jiwa hanyalah dengan mengikuti perintah sang khaliknya, jika hal ini telah tertanam dalam jiwa seorang mukmin, maka ia akan selalu berbuat ta’at dalam segala kondisi dan situasi, ia akan mencari kepuasan jiwanya dengan berbuat ta’at kepada Allah bukan dengan dengan menuruti kemauan hawa nafsu, segala tindakannya akan mengutamakan keridhaan sang penciptanya diatas segala keridhaan makhluk sekalipun ia akan menanggung resiko kelaparan dan kehausan.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana sabda Rasulullah r berbunyi:</p>
<p dir="RTL">(إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ)</p>
<p dir="LTR">“<em>Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya</em>”. (H.R. Ahmad).</p>
<p dir="LTR">Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah r serta para sahabat diawal-awal penyebaran Islam, mereka dikucilkan dan diusir bahkan ada yang dibunuh, semua itu tidak menggoyahkan iman mereka, lain halnya dengan keadaan kita pada saat ini, sedikit kekurangan saja diantara kita ada yang rela menjual kehormatan diri, merampok, membunuh dan sebagainya. Kemana nilai Ramadhan kita? Dalam puasa Ramadhan kita mampu menahan nafsu kita dari hal yang dihalalkan, tetapi di luar Ramadhan kita tidak mampu menahan nafsu kita dari hal yang diharamkan.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Ketujuh: Ibadah puasa mendidik seorang muslim untuk mengutamakan kesenangan ukhrawi diatas kesenangan duniawi.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Di sa’at berpuasa kita merasakan kehausan dan kelaparan, namun pernahkah terlintas dalam ingatan kita hari yang lebih dahsyat dari hari ini, yaitu hari padang mahsyar, pada hari itu manusia kepanasan dimana kehausan tidak bisa dihilangkan dengan seteguk air, keringat manusia mengalir berkucuran, diantara manusia ada yang ditenggelamkan keringanya sendiri. Tiada naungan kecuali naungan Robu’alamin, yang menjadi pertanyaan apakah kita termasuk orang-orang yang mendapat naungan pada hari itu? Kemudian juga termasuk dari orang-orang yang diberi minum dari telaga nabi r, dan memasuki pintu surga “<em>Ar Rayyaan</em>”, tempat yang penuh kenikmatan. Atau sebaliknya kita termasuk orang yang diberi minum dari cairan tembaga panas dan timah yang mendidih, makanan dari pohon zaqqum, pohon yang berduri, menghancurkan segala isi perut. kita berlindung pada Allah dari hal tersebut, yang menjawab pertanyaan tersebut adalah amalan kita, sampai dimana kita mengaplikasikan nilai-nilai Ramdhan dalam aktifitas kita sehari-hari.</p>
<p dir="LTR">Allah telah menyebutkan dalam firmannnya:</p>
<p dir="RTL"> {بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {16} وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى}</p>
<p dir="LTR"><em> </em><em>“</em><em>Akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan kehidupat akhirat adalah lebih baik dan kekal”</em>. (Al A’la: 16-17).</p>
<p dir="LTR">Biarlah kita menahan lapar dan haus di dunia ini, asalkan di akhirat kelak kita tidak termasuk orang-orang yang kelapran dan kehausan.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Kedelapan: </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">Ibadah puasa</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> mendidik kita untuk mengendalikan hawa nafsu.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Selama berpuasa kita dituntut untuk mengendalikan hawa nafsu kita, baik kebutuhan nafsu biologis dari makan dan minum. Maupun nafsu seksual berkumpul dengan istri. Sesuatu yang halal kita dituntut untuk meninggalkannya saat kita berpuasa. Tentu terhadap sesuatu yang haram akan lebih mudah kita meninggalkannya. Sifat ini akan mendidik kita di luar Ramadhan untuk selalu mengontrol hawa nafsu kita. Sering dalam kehidupan sehari-hari kita lihat banyak orang sudah memiliki gaji yang cukup namun masih melakukan korupsi. Sudah mempunyai istri yang cantik namun masih senang  berzina. Orang seperti ini nafsunya telah mengalahkan akal dan imannya. Ia telah diperbudak hawa nafsunya.</p>
<p dir="LTR">Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya Allah telah menjanjikan untuknya tempat yang penuh nikmat yaitu surga yang amat indah dan luas.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana firman Allah:</p>
<p dir="RTL">{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  -  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}</p>
<p dir="LTR"><em>“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhanya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”</em>.</p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kenangan Kesembilan: Ibadah puasa menanamkan rasa sosial dalam diri kita terhadap fakir-miskin.</span></strong></p>
<p dir="LTR">Rasa lapar dan haus yang kita tahan sehari penuh akan mengingatkan kita akan sebagian saudara kita yang diuji oleh Allah dengan kemiskinan. Walaupun kita merasa lapar dan haus akan tetapi makanan sudah tersedia di hadapan kita. Namun mereka para fakir-miskin menahan lapar dan haus belum tau apa yang akan mereka makan pada saat berbuka tiba. Atau mungkin harus membanting tulang ditengah terik matahari demi untuk mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka. Mereka merasakan lapar berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun. Dengan ibadah puasa kita dapat merasakan segelintir penderitaan mereka, serta menumbuhkan rasa iba dan santun terhadap mereka yang berkekurangan dari sisi materi. Kita menyadari bahwa Allah telah menitipkan rezki mereka pada kita.</p>
<p dir="LTR">Oleh sebab itu Rasulullah r semakin tinggi tingkat kepemurahan beliau di bulan Ramdhan dibandingkan di luar Ramadhan. Sekalipun beliau amat pemurah dalam sepanjang hidupnya.</p>
<p dir="RTL">عن جابر رضي الله عنه قال: ((ما سئل النبي صلى الله عليه و سلم عن شئ قط فقال لا)). متفق عليه.</p>
<p dir="LTR">Jabir t berkata: &#8220;Tidak pernah Nabi r diminta sesuatu sekalipun, ia mengatakan: tidak&#8221;.</p>
<p dir="LTR">Ibnu Abas t berkata:</p>
<p dir="RTL">(( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -r- أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ)).</p>
<p dir="LTR">&#8220;Rasulullah r adalah manusia yang amat pemurah dengan kebaikan, dan lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan&#8221;.</p>
<p dir="LTR">Semoga kenangan-kenangan Ramadhan tahun ini tetap dapat kita kenang dalam sepanjang hidup kita. Sehingga kita benar-benar mendapat predikat yang dijanjikan Allah sebagai tujuan dari ibadah puasa yaitu menjadi orang-orang yang bertqwa.</p>
<p dir="LTR" align="center"><em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/kenangan-indah-ibadah-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabligh Akbar: Pesan-pesan Islam Kepada Generasi muda</title>
		<link>http://dzikra.com/hadirilah-tabligh-akbar/</link>
		<comments>http://dzikra.com/hadirilah-tabligh-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2012 06:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzikra.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Mohon untuk di infokan, Hadirilah Tabligh Akbar Tema : Pesan-pesan Islam Kepada Generasi muda Penceramah : Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A Tempat ： Masjid Al Hasanah Sekolah Tnggi Ilmu Statistik－BPS　（JL. Otto iskandardinata No.64, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur Waktu ： Ahad, 10 juni 2012 Pukul : 09.00-dzuhur CP : ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_600" class="wp-caption aligncenter" style="width: 450px"><a href="http://dzikra.com/wp-content/uploads/2012/06/dauroh.jpg"><img class="size-full wp-image-600  " title="dauroh" src="http://dzikra.com/wp-content/uploads/2012/06/dauroh.jpg" alt="" width="440" height="311" /></a><p class="wp-caption-text">kajian akbar</p></div>
<p>Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</p>
<p>Mohon untuk di infokan,</p>
<p><strong>Hadirilah Tabligh Akbar </strong></p>
<p><strong>Tema : Pesan-pesan Islam Kepada Generasi muda</strong></p>
<p><strong>Penceramah : <a href="http://dzikra.com/hadirilah-tabligh-akbar" target="_blank">Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A</a></strong></p>
<p><strong>Tempat ： Masjid Al Hasanah Sekolah Tnggi Ilmu Statistik－BPS　（JL. Otto iskandardinata No.64, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur</strong></p>
<p><strong>Waktu ： Ahad, 10 juni 2012</strong></p>
<p><strong>Pukul : 09.00-dzuhur</strong></p>
<p><strong>CP : Muhammad 089631516497</strong></p>
<p><strong>Terbuka untuk umum</strong></p>
<p>Tidak di perkenankan  berjualan</p>
<p>Jazaakumullahu khairan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzikra.com/hadirilah-tabligh-akbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

 Served from: dzikra.com @ 2013-05-20 13:23:45 by W3 Total Cache -->