Di Mana Allah (Bagian ke-4)

Dalil Akal, Fitrah Dan Ijma’ Tentang Sifat ‘Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk […]

Di Mana Allah (Bagian ke-3)

Perkataan Para Ulama Salaf Dari Masa Ke Masa Yang Menetapkan Sifat 'Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap […]

Di Mana Allah (Bagian ke-2)

Dalil-dalil dari Sunnah yang menetapkan sifat ‘Uluw bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA Pada bagian pertma dari bahasan ini telah kita sebutkan sebahagian dari ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan bahwa Allah bersifat ‘Uluw (Maha Tinggi) di atas segala makhluk. Maka pada bagian kedua dari lanjutan bahasan ini kita kemukakan dalil-dalil dari Sunnah (hadits-hadits) […]

Di Mana Allah (Bagian ke-1)

Sifat Al ‘Uluw Bagi Allah Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra,MA Dengan memanjatkan puji dan syukur pada Allah Yang Maha Tinggi di atas segala makhluk-Nya. Kemudian ucapan Selawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Yang telah mi’raj (naik) menghadap Allah dalam rangka menjeput perintah shalat wajib yang lima […]

Syarah Nama Allah “Al Fattaah” (Bagian 2)

Diantara keputusan dan pertolongan Allah terhadap Rasul صلى الله عليه وسلم dan orang-orang yang beriman ialah Allah bukan rahasia kemunafikan yang tersembunyi dalam diri orang-orang munafik. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةُُ فَعَسَى اللهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَآأَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ المائدة: ٥٢

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.

Dalam firman Allah yang lain disebutkan:

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحُُ مِّنَ اللهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبُُ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً . النساء: ١٤١

“(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.

Sikap bermuka dua dalam ayat di atas adalah gambaran tetang kebiasaan orang-orang munafik. Ketika mereka berada bersama orang-orang beriman mereka seolah-olah ikut membantu perjuangan umat Islam. Tetapi sebenarnya mereka membantu orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang muslim dengan menunjukkan titik-titk kelemahan kaum muslimin kepada orang-orang kafir.

Syarah Nama Allah “Al Fattaah” (Bagian 1)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Allah memiliki nama-nama yang sangat mulia dan indah. Kemulian dan keindahan tersebut dari dua segi; dari segi lafatz dan dari segi maknanya. Makna dari nama-nama Allah tersebut menunjukkan akan sifat Allah yang Maha Sempurna.

Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ :الأعراف: ١٨٠.

“Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepadanya dengan nama-nama-Nya tersebut. Dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dalam (memahami) nama-nama-Nya. Mereka akan dibalasi terhadap apa yang mereka lakukan”.

Iman Menurut Alquran dan Assunnah (Seri I)

Iman menurut Alqur’an dan Assunnah:

Allah berfirman [QS. Al Baqarah : 177] :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ …(177)

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan ke barat,tetapi kebajikan itu ialah  (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…”
Read more about Iman Menurut Alquran dan Assunnah (Seri I)

Kaidah-Kaidah Memahami Sifat-Sifat Allah Yang Mulia (Seri II)

Kaidah ketiga, Dalam mengimani sifat-sifat Allah harus waspada terhadap dua penyimpangan; tamtsiil (penyerupaan) dan takyiif (membayangkan bentuk).

Tamtsiil adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Seperti mengatakan bahwa pendengaran Allah seperti pendengaran manusia.

Adapun Takyiif adalah menggambarkan bentuk sifat Allah tetapi tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk.

Dalam mengimani segala sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits yang shahih kita tidak boleh menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Tanpa terkecuali satupun dari sifat-sifat tersebut. Demikian pula tidak boleh membayangkannya dengan akal pikiran kita tentang bentuk dan hakikat sifat-sifat tersebut. Karena bagaimanapun kita membayangkannya sesungguhnya sifat Allah jauh lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan.
Read more about Kaidah-Kaidah Memahami Sifat-Sifat Allah Yang Mulia (Seri II)