Konferensi Internasional di Kuwait

Pokok Pikiran Khowarij Yang Menyelisihi Kaidah Ahlus Sunnah Pembicara dalam Konferensi Internasional di Kuwait Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA Follow Us :   Facebook Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Twitter @Ali_Musri_SP | Instagram @ali_musri_semjan_Putra

Mengapa Terorisme Dikecam

Tujuan Dari Pembasan Tentang Terorisme: Sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa sebab lahir terorisme karena kepanatikan kepada ajaran Islam. Melalui bahasan ini kita buktikan bahwa Islam sangat mengutuk terorisme. Sesungguhnya Islam adalah agama yang damai dan mencintai kedamaian sesuai dengan makna dari kata-kata Islam itu sendiri. Hal ini telah dibuktikan ketika masa pemerintahan Islam di kota […]

Eksistensi Hakekat Dan Syariat Dalam Istilah Sufiah

Eksistensi Hakekat Dan Syariat Dalam Istilah Sufiah Eksistensi hakekat menurut orang-orang sufi adalah takwil-takwil yang mereka reka-reka dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabiﷺ. Kemudian mereka simpulkan bahwa takwil-takwil tersebut hanya bisa diketahui oleh orang-orang khusus, atau mereka sebut ulama khas (khusus) diatas tingkatan ini ada lagi tingkat yang lebih tinggi yaitu ulama khasul […]

isi

ISIS DALAM TINJAUAN AHLUSSUNNAH

ISIS DALAM TINJAUAN AHLUSSUNNAH (Download makalah ini dalam format pdf) Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. • Pendahuluan Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam buat nabi kita yang mulia Muhammada shalallahu’alaihi wassalam beserta keluarga dan para sahabat beliau. Berangkat dari rasa ingin saling menasehati sesama muslim, kami meluangkan waktu untuk membahas salah satu […]

Titian Ilmu (Selesai)

Parasitisme ilmu

Kedua : Suka berdebat dan berjidal.

Telah terdapat dalam sebuah hadits tentang larangan berjidal (berdegil),

((ما ضلّ قوم بعد هدىً إلا أوتوا الجَدلّ)) ثم قرأ ) {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} (الزخرف:58)

“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah diberi petunjuk kecuali setelah mereka mendapati jidal” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat “Tidaklah mereka itu memberikan perumpamaan kepada engkau kecuali sekedar untuk untuk membantah saja, tetapi mereka itu adalah kaum yang suka bertemgkar.” (HR. At Tirmizi no: 3253, hasan shahih).
Read more about Titian Ilmu (Selesai)

Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-6)

Kelima: Balasan yang diberikan Allah untuk orang yang selalu taat pada Allah.

Hal tersebut diambil dari potongan: “Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Aku akan melindunginya.”

Dari potongan yang terakhir dari hadits ini bahwa para wali itu hanya berdoa dan memohon perlindungan hanya kepada Allah. Bukan kepada para wali, begitu pula wali yang mendapat kedudukan yang terhormat disisi Allah bukanlah tempat untuk meminta kebaikan atau untuk sebagai tempat memohon perlindungan dari mara bahaya. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh orang-orang awam yang tertipu oleh kewalian seseorang, sehingga telah menyeret Mereka berbuat syirik kepada Allah. Sekalipun wali namun ia tetap tidak bisa mendatangkan kebaikan maupun menolak keburukan dari dirinya sendiri kecuali atas pemberian Allah kepadanya. Juga wali bukan sebagai tempat perantara kepada Allah dalam berdoa, karena bila menjadikan Mereka sebagai tempat perantara berarti telah menyekutukan Mereka dengan Allah. Sebagaimana kebiasaan umat Nabi Nuh u yang telah menjadikan orang-orang sholeh Mereka sebagai tempat perantara dalam berdoa kepada Allah.
Read more about Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-6)

Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-5)

عَن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله  صلى الله عليه وسلم
: ((قال: إنَّ اللهَ قال مَنْ عادَى لِيْ وَلِياً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَ لاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَى أُحِبُّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعُهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدُهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلُهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ) رواه البخاري)

Terjemahan hadits:

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata,‘Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sesungguhnya Allah telah berfirman,“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya.’”

Kandungan hadits

Tulisan yang telah lalu telah kami diterangkan tentang pembahasan penting dari kandungan hadis di atas:

Pertama: Tentang al wala wal bara’ (loyalitas dan berlepas diri).

Kedua: Bagaimana mendekatkan diri kepada Allah.

Dan menginjak ke kandungan selanjutnya adalah:

Ketiga: Tentang sifat Allah  AlKalam (berbicara) dan Almahabbah (cinta).
Read more about Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-5)

Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-4)

عَن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله  صلى الله عليه وسلم
: ((قال: إنَّ اللهَ قال مَنْ عادَى لِيْ وَلِياً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَ لاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَى أُحِبُّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعُهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدُهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلُهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ)) رواه البخاري

Terjemahan hadits:

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata,‘Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sesungguhnya Allah telah berfirman,“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya.’”
Read more about Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-4)

Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-3)

Beberapa kesalahpahaman tentang kewalian yang terjadi ditengah-tengah masyarakat yaitu:

  1. Berasumsi bahwa seorang wali itu maksum (terbebas) dari segala kesalahan,  sehingga Mereka menerima segala apa yang dikatakan wali.
  2. Berasumsi bahwa seorang wali itu mesti memiliki  karomah (kekuatan luar bisa).
  3. Berasumsi bahwa seorang wali dapat mengetahui hal-hal yang ghaib.

Banyak orang memahami bahwa seseorang tidak akan pernah sampai kepada puncak kewalian kecuali ia (maksum) terbebas dari segala kesalahan, hal ini sangat jauh dari kebenaran yang terdapat dalam Islam. Sesungguhnya para ulama telah sepakat tiada yang maksum dari umat manusia kecuali para Nabi dan Rasul dalam hal menyampai wahyu yang Mereka terima.
Read more about Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-3)

Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-2)

Ciri-ciri wali  Allah

Allah telah menyebutkan ciri para waliNya dalam firman-Nya,

{أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ}

Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertakwa.” (Q.S. Yunus: 62-63).
Read more about Menggapai Jenjang Perwalian (Seri-2)