Memahami Nash-Nash yang Menerangkan Sifat Allah Seri-1

Ayat sifat adalah sama kedudukannya dengan ayat-ayat lain yang wajib kita pahami dan hayati serta kita amalkan dalam kehidupan kita.

Sebagaimana perintah Allah kepada kita untuk menghayati dan memahami Alquran dalam firman-Nya,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [ص/29]

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya, dan orang-orang yang mempunyai fikiran  mendapat pelajaran.”

Dalam ayat yang mulia ini Allah menerangkan tentang tujuan diturunkannya Alquran, yaitu agar umat manusia merenungkan dan menghayati ayat-ayatnya. Termasuk kedalamnya ayat-ayat yang menerangkan sifat dan nama-nama Allah. Dengan menghayati makna ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Allah, seorang muslim akan semakin termotifasi untuk tunduk kepada perintah Allah. Dan akan semakin mendekatkan diri kepada-Nya, maka dengan demikian akan semakin meningkat pula keimanannya.

Oleh sebab itu, sering kita temukan dalam Alquran ayat-ayat yang menerangkan tentang sebuah hukum ditutup dengan nama Allah yang mulia.

Sebagai contoh ayat yang menerangakan tentang hukum pencuri,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [المائدة/38]

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas ditutup dengan nama Allah “Al ‘Aziiz” (Maha Perkasa) dan “Al Hakiim” (Maha Bijaksana). Kedua nama Allah tersebut sangat memberikan makna yang dalam terhadap ayat di atas. Allah memiliki sifat ‘Izzah (keperkasaan) dimana tidak seorangpun dapat membatah dan menolak hukum yang ditetapkan-Nya. Dan Allah memiliki sifat hikmah (bijaksana) dimana hukum yang ditetapkan-Nya adalah hukum yang paling tepat dan adil serta penuh hikmah yang tidak mungkin bisa dibandingkan dengan hukum buatan manusia.

Oleh sebab itu dikisahkan ketika seseorang keliru dalam membaca ayat di atas dihadapan seorang a’raby (orang arab pedalaman). Orang tersebut menutup ayat tersebut dengan nama Allah “Al Ghafuur” (Maha Pengampun) dan “Ar Rahiim” (Maha Pengasih). Orang badui langsung menegur bahwa bacaan ayat yang dibaca orang tersebut keliru. Seraya berkata, “Yang anda baca bukan kalam Allah!” -Hal tersebut ia ketahui hanya dengan melihat kaitan antara makna awal ayat dengan makna sifat Allah yang menjadi penutup ayat-. Tatkala orang tersebut memeriksa hafalannya kembali, rupanya ia keliru dalam membaca potongan akhir ayat tersebut. Lalu orang a’raby tersebut berkata, “Allah Maha Perkasa maka Dia memberikan hukuman, maka dipotonglah tanganya. Jika Allah ampuni dan merahmatinya tentu Allah tidak menyuruh memotong tangannya.”

Imam Ibnul Qayyim mengomentari kisah di atas, “Apabila engkau merenungkan ayat-ayat yang ditutup dengan nama dan sifat-sifat Allah, niscaya engkau akan menemukan perkataan Allah tersebut ditutup dengan menyebutkan sifat yang sesuai dengan kedudukannya. Seolah-olah ia sebagai dalil dan hujjah atasnya.”[1]

Pada kali yang lain beliau katakan, “Karenanya apabila ayat yang menerangkan rahmat ditutup dengan nama yang menyatakan azab atau sebaliknya, perkataan tersebut akan terasa saling berbeturan dan tidak tersusun.”[2]

جلاء الأفهام – (ج 1 / ص 172)

Tetapi bila kita cermati ayat berikutnya setelah ayat diatas, akan semakin jelas bagi kita bahwa nama dan sifat Allah yang menutup sebuah ayat sangat erat hubungannya dengan makna ayat itu sendiri.

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [المائدة/39]

“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini ditutup dengan nama Allah “Al Ghafuur” (Maha Pengampun) dan “Ar Rohiim” (Maha Pengasih) karena awal ayat bertemakan tetang taubat. Untuk menghilangkan sifat putus asa dalam diri orang yang terlanjur berbuat dosa, maka Allah menyebutkan bahwa diri-Nya Maha Pengampun terhadap segala dosa, lagi Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk yang mau bertobat. Maka ayat tersebut merupakan dorongan sekaligus perintah untuk bertaubat bagi seseorang yang terlanjur melakukan dosa.

Dianatara bukti lain yang menunjukkan tentang pentingnya memahami dan menghayati ayat-ayat yang menerangkan sifat Allah. Dimana Allah menjadikan sifat-sifat-Nya yang Maha sempurna sebagai bukti keesaan-Nya dalam segala ibadah hamba-Nya. Seperti yang terdapat dalam beberapa ayat berikut,

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (19) وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (20) أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (21) إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ [النحل/19-22]

“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhan sembahanmu adalah sembahan Yang satu. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan tentang keluasan dan kesempurnaan ilmu-Nya sebagai bukti bahwa yang behak diibadati. Adapun sesembahan selain Allah tidak memiliki ilmu yang sempurna.

Dalam ayat yang lain,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24) [الحشر/22-24]

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Mahadiraja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dalam ayat diatas Allah menyebutkan nama dan sifat-sifat yang mulia sebagai bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Dia semata. Diantara bukti tersebut adalah: kesempurnaan ilmu Allah, rahmat Allah, kerajaan Allah, kesujian Allah dari segala sifat yang kurang, yang memberi kedamaian, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dari uraian di atas semakin jelas bagi kita betapa pentingnya memahami dan menghayati sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran maupun Assunnah. Agar sampai pada tujuan tersebut kita perlu mengatahui kaedah-kaedah dalam memahami nash-nash sifat tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita. Berikut sekelumit tentang penjelasannya.

Kaedah Pertama: Memahami nash-nash yang menerangkan sifat Allah dengan makna yang tanpak secara lahir, tanpa mengecualikan satupun. Baik yang disebutkan dalam nash-nash mutawatir maupun ahaad (hadits shahih yang tidak sampai pada tingkat mutawatir).

Karena Allah mewajibkan kepada kita untuk menerima segala ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tanpa terkecuali satupun. Begitu pula tanpa memilah-milah antara ayat Alquran dan hadits-hadits. Sekalipun derajat hadits-hadits tersebut kekuatannya tidak sampai kepada tingkat mutawatir. Menurut kesepakatan para ulama hadits syarat untuk sebuah nash bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil) minimal memenuhi kriteria hasan ligharihi[3].

Maka oleh sebab itu, kita dilarang mendahulukan akal pikiran kita diatas nash-nash yang shohih. Apalagi sampai menolak dan menetang nash-nash yang shohih tersebut dengan akal kita.

Allah berfirman dalam Alquran,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [الحجرات/1]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Yang kita maksud dengan akal disini adalah akal pikiran yang rusak, yang menolak dan menentang nash-nash yang shohih. Karena akal kita sangat lemah sekali kemampuannya dalam mengetahui hal-hal yang ghaib apalagi tentang kaifiyah (bentuk/hakikat) sifat-sifat Allah. Maka akal kita harus tunduk kepada nash-nash syar’i, sebagaimana anggota badan kita tunduk kepada Allah.

Jika ada orang yang menolak nash-nash syar’i dengan akan pikiran mereka, terutama nash-nash yang menerangkan tetang sifat-sifat Allah berarti orang tersebut telah menutup pintu untuk mengenal Allah. Kemudian akan bermuara pada pembatalah ibadah kepada Allah. Bagaimana seseorang akan tetap beribadah, sementara ia tidak mengenal sifat-sifat yang menjadi sembahannya. Seseorang tidak akan timbul rasa tawakkal jika ia tidak mengenal tentang kebesaran dan kesempurnaan qudrat Allah. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti mahabbah, khauf, raja‘ sangat erat hubungannya dengan menganal sifat-sifat Allah.

=Bersambung Insya Allah=

Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.dzikra.cm


[1] Lihat Syifa’ul ‘Aliil: 200.
[2] Lihat Jalaaul Afhaam: 172.
[3] Pembahasan ini dapat dilihat dalam kitab-kitab mushthalah hadits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *