Memahami Nash-Nash yang Menerangkan Sifat Allah Seri-2

Kedua: Tidak membenturkan atau mempertentangkan antara satu nash dengan nash yang lainnya.

Dalam memahami dan menghayati ayat-ayat sifat kita tidak boleh membenturkan atu mempertentangkan antara ayat-ayat tersebut. Seperti membenturkan antara ayat-ayat yang menerangkan tentang ‘uluw dengan ayat-ayat ma’iyah dan antara nash yang merangkan tentang istiwaa‘ dengan nash yang menerangkan tentang sifat nuzul. Atau mengimani salah satu dari bentuk nashnash tersebut dan mengikari yang lainnya.

Berikut kita berikan contoh dalam mengkompromikan antara dalil ‘uluw dengan dalil ma’iyah:

Ada orang yang meyakini bahwa Allah bersama makhluk dengan zat-Nya dan Allah berada dimana-mana dengan zat-Nya. Keyakinan seperti ini memiliki tiga model pemahaman: Wihdatulwujuud, Ittihaadiyah dan Huluuliyah[1].

Mereka ber-hujjah dengan firman Allah,

{ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ}   [الحديد/4]

” Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada.”

Dan firman Allah,

{ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا}[المجادلة/7]

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.”

Mereka memahami dari dua ayat diatas bahwa Allah bersama makhluk adalah dengan zat-Nya. Padahal ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan apa yang mereka pahami. Dengan melihat ayat yang lain yang menyatakan kebersamaan Allah dengan sebagian makhluk saja. Seperti ketika Allah memerintah nabi Musa untuk menyeru Fir’aun untuk beriman kepada Allah.

قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآَيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ [الشعراء/15]

Allah berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami; sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan).”

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى [طه/46]

Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”

Dalam dua ayat ini Allah menyebutkan: bahwa Allah bersama nabi Musa dan nabi Harun, kalau seandainya dipahami bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk diartikan kebersamaan dengan zat-Nya tentu Allah juga bersama Fir’aun!

Maka dari sini dapat kita pahami bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk ada dalam dua bentuk; dalam umum dan khusus. Adapun dalam bentuk umum (ma’iyah ‘aammah) adalah  kebersamaan Allah dengan seluruh dengan segala sifat-sifat rububiyah-Nya, Serta sifat ilmu, qudrat, penglihatan, pendengaran-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Hadiid ayat: 4 dan Al Mujaadilah ayat: 7 di atas.

Adapun dalam bentuk khusus (ma’iyah khaashah) adalah kebersamaan Allah dengan pertolongan dan bantuan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Serti para nabi dan rasul, orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik. Sebagaimana yang disebiutkan dalam kisah nabi Musa di atas dan juga dalam kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ayat berikut ini,

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا [التوبة/40]

“Di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.”

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا [الأنفال/12]

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.”

Maka maksud ayat dalam surat At Taybah di atas bukanlah bersama mereka berdua dengan zat-Nya. Kalau seandainya demikian tentu gua tersebut lebih besar dari Alla!

Demikian pulalah maksud hadits berikut ini,

عن أبي بكر رضي الله عنه قال  : قلت للنبي صلى الله عليه و سلم وأنا في الغار لو أن أحدهم نظر تحت قدميه لأبصرنا فقال ( ما ظنك يا أبا بكر باثنين الله ثالثهما ) متفق عليه

Dari Abu Bakar, ia berkata: aku berkata kepada Nabi r dan aku dalam gua: kalau salah seorang mereka melihat kearah bawah tumit mereka niscaya mereka akan melihat kita! Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apa prasangkmu wahai Abu Bakar dengan dua orang, Allah yang ketiganya”.

  • Kemudian hal yang lain adalah bila kita mencermati ayat-ayat tersebut dengan utuh dan sempurna secara keseluruhan.

Pertama ayat yang terdapat dalam surat Al Hadiid,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [الحديد/4]

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini mengumpulkan dua yang dianggap saling bertentang yaitu sifat istiwaa’ “Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy” dan sifat ma’iyah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Ini sebagai bukti bahwa tidak ada pertentangan antara kedua sifat tersebut oleh sebab itu Allah mengumpulkannya dalam satu ayat. Dan bahwa yang dimaksud dengan ma’iyah (bersama) disini adalah  ma’iyatul ilmi (dengan ilmu) dan ma’itul bashr (penglihatan). Buktinya Allah sebutkan antara dua sifat tersebut (istiwaa’ dan ma’iyah); sifat ilmu “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya” kemudian di tutup dengan sifat Al Bashr (melihat), “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Begitu pula yang dimaksud dengan ayat dalam surat Al Mujjadilah berikut,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة/7]

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Ayat di atas di mulai dengan sifat ilmu “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? dan diutup dengan sifat ilmu lagi, “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Sifat ma’iyah dalam ayat di atas diapit oleh sifat ilmu sebagai bukti bahwa maksud kebersamaan Allah dengan makhluk di sini adalah dengan ilmu-Nya.

  • Demikian pula yang ditunjukkan oleh ayat-ayat lain yang secara nyata menjelaskan bahwa zat Allah berada di tempat yang Maha Tinggi diatas seluruh makhluk. Seperti firman Allah,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا (4) الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه/2-5]

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy.”

Dalam ayat ini ada dua hal yang menunjukkan bahwa Allah berada pada tempat yang Maha Tinggi di atas seluruh makhluk:

Pertama: Dinyatakan bahwa Alquran diturunkan dari Allah, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk.

Kedua: Dinyatakan bahwa Allah beristiwaa’ di atas ‘arsy, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk, karena ‘Arsy adalah makhluk yang paling tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam nash-nash yang lain.

Demikian pula ayat-ayat lain seperti firman Allah:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [النحل/50]

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”

Juga firman Allah,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ [الملك/16، 17]

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di (atas) langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di (atas) langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”

Sebab timbulnya pertentangan tersebut karena tidak memahami masing-masing nash sesuai dengan penafsiran para ulama salaf.

Sesungguhnya dalam nash-nash syar’i tidak ada kotradiksi antara satu dengan yang lainnya. Jika dipahami adanya kontradiksi dalam nash-nash syar’i disebabkan oleh beberpa faktor:

  1. Adakalanya kesalahan terdapat dalam menafsirkan nashnash tersebut
  2. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut tidak shohih, lalu dianggap shohih.
  3. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut telah mansukh (dihapus).
  4. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut bersifat khusus untuk permasalahan tertentu, lalu dianggap umum.
  5. Adakalanya kesalahan dalam memberikan makna secara bahasa dan istilah.

=Bersambung Insya Allah=

Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.dzikra.cm


[1] Insya Allah pada kesempatan lain kita kupas pembahasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *